JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Satu lagi jemaah haji Indonesia meninggal dunia di Tanah Suci. Kementerian Haji dan Umrah mengonfirmasi penambahan korban pada Selasa, 5 Mei 2026, sehingga total jemaah yang wafat dalam operasional haji 1447 Hijriah kini mencapai 10 orang.

Jemaah yang wafat terbaru adalah A.N. Soleh Salimar, perempuan asal Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang tergabung dalam kloter CKS05. Kepergiannya menambah duka panjang yang menyelimuti musim haji tahun ini.

Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Suci Anisa, menyampaikan belasungkawa resmi dalam keterangan tertulisnya pada Rabu, 6 Mei 2026. Ia menyebut penyumbatan pembuluh darah ke jantung dan radang paru-paru sebagai dua penyebab kematian yang paling dominan di antara seluruh jemaah yang wafat sejauh ini.

Kondisi ini bukan tanpa alasan. Cuaca ekstrem di Arab Saudi, kondisi fisik jemaah yang rata-rata berusia lanjut, serta padatnya aktivitas ibadah menjadi kombinasi risiko yang nyata. Penyakit kardiovaskular dan gangguan pernapasan memang kerap mengintai jemaah yang kurang mempersiapkan kondisi tubuhnya sebelum berangkat.

Pemerintah menegaskan tidak tinggal diam. Layanan kesehatan diklaim terus berjalan optimal di berbagai lini, mulai dari pos kesehatan di tingkat kloter dan sektor, hingga Klinik Kesehatan Haji Indonesia dan rumah sakit rujukan yang tersebar di wilayah Arab Saudi.

Di luar penanganan darurat, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Madinah juga mencatat perkembangan positif dalam layanan bimbingan ibadah. Hingga kini, sebanyak 29.497 izin masuk Raudhah atau tasreh telah diterbitkan, dengan 341 izin dikeluarkan pada 5 Mei 2026 saja.

Raudhah, area istimewa di dalam Masjid Nabawi yang diyakini sebagai salah satu tempat mustajab untuk berdoa, memang menjadi tujuan utama para jemaah selama di Madinah. Untuk mengaksesnya, jemaah diimbau memanfaatkan aplikasi Nusuk guna mendapatkan jadwal masuk secara tertib dan teratur.

Suci juga menekankan bahwa pendampingan ibadah tidak hanya bersifat administratif. Konsultasi umrah sunnah, pendampingan bagi jemaah yang sakit sebelum keberangkatan ke Makkah, hingga edukasi langsung di sektor dan fasilitas kesehatan turut dijalankan secara paralel.

Pendekatan menyeluruh ini, kata Suci, bertujuan memastikan jemaah tidak hanya selamat secara fisik, tetapi juga memperoleh pendampingan ibadah yang berkualitas menjelang puncak pelaksanaan haji yang semakin dekat.

Dengan jadwal puncak haji yang kian mendekat, perhatian terhadap kondisi kesehatan jemaah menjadi semakin krusial. Pemerintah berharap angka kematian tidak terus bertambah, sementara jutaan jemaah dari seluruh penjuru dunia bersiap memadati Arafah, Muzdalifah, dan Mina dalam waktu dekat.

FAQ :

Pertanyaan: Apa penyebab utama kematian jemaah haji Indonesia tahun 2026? Mayoritas jemaah yang wafat disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah ke jantung (penyakit kardiovaskular) dan radang paru-paru. Kondisi ini umum terjadi akibat kombinasi cuaca ekstrem, aktivitas fisik padat, dan kondisi kesehatan jemaah yang rata-rata berusia lanjut.

Pertanyaan: Bagaimana cara jemaah mengakses layanan masuk Raudhah di Masjid Nabawi? Jemaah dapat memanfaatkan aplikasi Nusuk untuk mendapatkan jadwal dan izin masuk Raudhah secara resmi. Hingga 5 Mei 2026, PPIH Daerah Kerja Madinah telah menerbitkan total 29.497 tasreh atau izin masuk Raudhah.

Pertanyaan: Apa langkah pemerintah untuk menekan angka kematian jemaah haji? Pemerintah mengoptimalkan layanan kesehatan di pos kloter, sektor, Klinik Kesehatan Haji Indonesia, dan rumah sakit rujukan di Arab Saudi. Selain itu, bimbingan ibadah diperkuat melalui konsultasi, pendampingan jemaah sakit, dan edukasi langsung di lapangan.