BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Tiga tokoh dengan latar belakang berbeda—seorang mantan menteri yang gemar menenggelamkan kapal, seorang gubernur yang tak betah di kantor, dan seorang wali kota lulusan 15 semester—duduk bersama di kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor dan berbagi satu keyakinan yang sama: jadi diri sendiri adalah pilihan paling berani.

Itulah inti dari diskusi yang berlangsung dalam program Rosi on Location di Universitas Padjadjaran (UNPAT), Jatinangor, Jawa Barat, yang menampilkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, serta Wali Kota Bandung Muhammad Farhan sebagai narasumber.

Di depan ratusan mahasiswa, ketiganya membuka diri tentang perjalanan hidup yang jauh dari mulus—namun justru di situlah letak kekuatannya.

Susi Pudjiastuti memulai kisahnya dari titik yang paling tidak terduga. Ia putus sekolah sebelum meraih ijazah SMA, bukan karena tidak mampu secara finansial, melainkan karena pilihan sadar. “Saya tidak begitu setuju dengan aturan jadwal sekolah,” kata perempuan asal Pangandaran itu tanpa sedikit pun nada penyesalan.

Namun siapa sangka, perempuan yang dalam ujian kimia hanya butuh 1,5 menit untuk menyelesaikan soal itu—dan nilainya selalu sempurna—justru membangun kerajaan bisnis dari nol. Dari usaha pengolahan ikan di pesisir Jawa Barat, hingga maskapai penerbangan Susi Air dengan 26 pangkalan di seluruh Indonesia, Susi membuktikan bahwa batas formal bukan penghalang bagi mereka yang punya visi besar.

Di kursi menteri, ia dikenal dengan satu jargon yang langsung menancap di benak publik: tenggelamkan. Bukan sekadar gertakan, kebijakan itu menjadi tameng nyata bagi kedaulatan laut Indonesia dari ancaman pencurian ikan oleh kapal asing. “Ada kapal yang tertangkap tiga kali dalam setahun. Kami sudah lelah. Ditenggelamkan, selesai,” ujarnya tegas.

Susi juga menceritakan bagaimana bisnis penerbangannya lahir dari mimpi yang sangat sederhana—mengangkut hasil laut dari pesisir Jawa ke Jakarta dalam waktu kurang dari empat jam. Namun ketika bencana tsunami Aceh melanda, armada itu berubah fungsi menjadi kapal penyelamat kemanusiaan. Dua pesawat diberangkatkan ke Meulaboh tanpa izin lengkap, membawa relawan Palang Merah Jepang dalam 48 jam pertama bencana.

Filosofi itu yang kemudian terus ia pegang: ada kemampuan, ada kewajiban untuk membantu. Saat gempa NTT terjadi, Susi Air sudah bergerak dalam dua hingga tiga jam. Bukan karena perintah siapapun, melainkan karena memiliki basis di Kupang yang hanya satu jam terbang dari Maumere.

Dedi Mulyadi hadir dengan energi berbeda. Pria yang dikenal dengan udeng putih di kepala itu mengawali karier politiknya sebagai wakil bupati Purwakarta sejak 2003—dan sejak saat itu pula ia sudah terbiasa turun ke lapangan, jauh sebelum era media sosial menjadikannya viral.

“Kukurusukan sudah saya lakukan sejak jadi wakil bupati tahun 2003. Waktu itu tidak ada kamera besar, tidak ada media yang meliput,” kata Dedi. Ia bahkan menyinggung Joko Widodo yang lebih dulu viral dengan gaya blusukan serupa. “Saya di Purwakarta, beliau di Solo. Solo lebih dekat ke pusat kekuasaan, jadi lebih cepat terekspos.”

Kini sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi membawa gaya yang sama ke level lebih luas. Konten di YouTube dan TikTok-nya tak dibayar dari APBD—ia tegaskan itu dengan bangga. “Gubernur lain juga direkam, tapi tidak viral. Saya viral tanpa APBD. Artinya, dari sisi konten, negara justru efisien,” ujarnya disambut tawa mahasiswa.

Kritik soal gubernur konten dijawabnya dengan data. Berapa kilometer jalan yang sudah dibangun, berapa hutan yang sudah dihijaukan kembali, berapa ribu pasien yang ditangani setiap harinya—semua itu, kata Dedi, adalah ukuran kinerja yang sesungguhnya.

Ia juga bercerita soal keberanian mengambil keputusan di lapangan. Saat di Aceh, ia memerintahkan lapangan terbang Langsa yang tak beroperasi selama bertahun-tahun untuk dibersihkan dalam semalam—20 orang dibayar untuk menyapu landasan, menebang pohon yang menghalangi. Pagi harinya, pesawat sudah bisa mendarat. Bantuan pun mengalir.

Soal elektabilitas yang melonjak hingga kisaran 45 persen—bahkan melampaui ketua umum partainya sendiri—Dedi menjawab dengan tenang. “Saya harus tahu siapa saya, di mana saya, dan ke mana saya akan pergi.” Ia menyebut tingginya dukungan publik bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai cermin yang harus dibaca dengan jernih.

Ketika ditanya apakah ia berambisi maju di Pilpres 2029, Dedi menjawab lugas: ada keinginan untuk maju sebagai gubernur lagi—dua periode. Sebuah jawaban yang disambut tepuk tangan riuh mahasiswa.

Muhammad Farhan membawa perspektif berbeda sebagai alumni UNPAT yang kini menjabat Wali Kota Bandung. Ia mengaku bukan mahasiswa yang cemerlang secara akademis. Kuliah 15 semester, mengulang hampir setiap mata kuliah, Farhan justru menemukan kekuatannya di organisasi dan jaringan pertemanan.

“Banyak profesor yang terlibat kasus korupsi. Artinya, gelar tidak menjamin integritas,” katanya. “Yang Indonesia butuhkan bukan orang yang paling pintar, tapi orang yang integritasnya sudah teruji.”

Bagi Farhan, integritas berdiri di atas tiga pilar: patut, pantas, patuh. Apakah ini layak diucapkan? Apakah tindakan ini sesuai? Apakah ini mematuhi aturan yang berlaku? Tiga pertanyaan itu, katanya, adalah kompas yang selalu ia pegang saat menghadapi tekanan sebagai kepala daerah.

Dalam sesi tanya jawab, Susi memberikan pesan keras bagi generasi muda yang ingin berkarier: tahan tekanan, mau multitasking, dan jangan cepat pindah kerja. “Yang kita rekrut banyak, yang resign juga banyak. Kebanyakan anak muda sekarang tidak tahan tekanan,” ujarnya jujur. Ia menegaskan, gaji tinggi hanya bisa diraih oleh mereka yang sudah melewati jam terbang panjang—bukan yang terus berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain.

Ketiganya sepakat pada satu hal: kampus bukan sekadar tempat mendapat nilai dan gelar. Kampus adalah tempat membangun fondasi—pengetahuan, jaringan, dan yang paling penting, integritas yang terus-menerus dijaga.

Sementara ribuan mahasiswa menyimak di depan mereka, tiga tokoh itu seolah menyampaikan satu pesan tanpa harus mengatakannya secara bersamaan: berani melangkah bukan berarti melangkah tanpa arah—melainkan melangkah dengan tahu betul siapa dirimu.



Follow Widget