MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Sebuah catatan sejarah terukir di tubuh Dharma Wanita Persatuan Sulawesi Selatan. Untuk pertama kalinya, kursi ketua organisasi yang menaungi para istri aparatur sipil negara (ASN) itu diduduki oleh seorang perwira TNI aktif. Namanya Andi Hikmawati Winarno, dan ia hadir bukan sekadar melengkapi protokol, melainkan membawa semangat baru yang ia tunjukkan sejak pertemuan perdananya.
Pertemuan bulanan Dharma Wanita Persatuan Provinsi Sulawesi Selatan berlangsung di Toraja Room, Kantor Gubernur Sulsel, Selasa, 13 Oktober 2026. Ruangan itu menjadi saksi momen bersejarah: Andi Hikmawati tampil untuk pertama kali dalam kapasitasnya sebagai Penjabat Ketua DWP Sulsel, sebuah peran yang ia sandang menyusul pelantikan suaminya, Andi Winarno Eka Putra, sebagai Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan pada 5 Oktober 2026.
Dalam kesehariannya, Andi Hikmawati bukan sekadar istri pejabat. Ia adalah perwira aktif yang bertugas di Ajendam XIV/Hasanuddin, institusi yang mengurusi administrasi personel militer di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua. Latar belakang itulah yang menjadikannya figur tak biasa di pucuk pimpinan DWP Sulsel—organisasi yang secara historis selalu dipimpin oleh perempuan dari kalangan sipil.
Pertemuan hari itu tidak hanya menjadi ajang silaturahmi rutin. Para pengurus DWP Sekretariat Daerah Provinsi Sulsel yang hadir mendapat suguhan lebih: pelatihan public speaking dan keprotokolan. Dua narasumber dihadirkan secara khusus, yakni Yati Makkatutu dari Bagian Protokol Biro Umum Setda Sulsel, dan Daniyati dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Makassar.
Pilihan agenda itu bukan tanpa alasan. Andi Hikmawati tampaknya ingin menegaskan visi kepemimpinannya sejak awal: organisasi ini harus bergerak, bukan sekadar berkumpul. Kemampuan berkomunikasi yang efektif, menurutnya, adalah fondasi yang tidak bisa diabaikan—baik dalam menjalankan roda organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari para anggotanya.
“Melalui pertemuan silaturahmi ini juga sekaligus untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan dalam berkomunikasi yang efektif, baik dalam berorganisasi maupun kehidupan sehari-hari,” ujarnya di hadapan para pengurus yang hadir.
Pesan itu terasa relevan, mengingat DWP bukan organisasi yang berdiri di ruang hampa. Ia menyebutkan bahwa DWP Sulsel memiliki tanggung jawab yang lebih luas dari sekadar urusan internal. Organisasi ini diharapkan menjadi mitra nyata pemerintah provinsi dalam menjalankan berbagai program pembangunan, sebuah fungsi yang kerap terlupakan di tengah kesibukan agenda-agenda seremonial.
Andi Hikmawati menyerukan kekompakan sebagai nilai utama yang harus dijaga. Dalam pandangannya, kolaborasi antar pengurus dan anggota bukan sekadar retorika, melainkan syarat mutlak agar organisasi ini tetap hidup dan relevan. Tanpa itu, DWP hanya akan menjadi nama di papan kegiatan tanpa dampak yang bisa dirasakan masyarakat.
Yang menarik, Andi Hikmawati juga menyentuh satu isu yang dekat dengan kehidupan sebagian besar anggotanya: bagaimana menyeimbangkan peran sebagai istri dan sebagai perempuan yang aktif di dunia profesional. Ini bukan sekadar basa-basi. Sebagai perwira TNI yang kini juga mengemban tanggung jawab organisasi sosial, ia berbicara dari pengalaman langsung.
Menurutnya, keseimbangan antara peran domestik dan profesional adalah kunci agar DWP tetap solid, aktif, dan memberikan manfaat nyata. Ia percaya bahwa perempuan yang mampu mengelola kedua peran itu dengan baik akan menjadi aset berharga, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi organisasi dan masyarakat.
“Sebagai istri ASN sekaligus perempuan yang berkiprah di dunia profesional, kita harus mampu menempatkan diri dan mengelola peran dengan baik. Pentingnya sebuah restu dari suami juga dalam melancarkan segala aktivitas yang akan dilakukan,” kata Andi Hikmawati menutup arahannya.
Pernyataan itu memantik renungan. Di satu sisi, ia mendorong kemandirian dan profesionalisme perempuan. Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya harmoni dalam rumah tangga sebagai landasan dari semua aktivitas di luar. Bagi para anggota DWP yang hadir, pesan itu mungkin terasa seperti cermin—refleksi dari realita keseharian yang mereka jalani.
Kehadiran Andi Hikmawati sebagai Penjabat Ketua DWP Sulsel membuka babak baru yang menarik untuk dicermati. Latar belakangnya yang tidak konvensional—seorang perwira militer aktif memimpin organisasi istri ASN—membuka pertanyaan sekaligus harapan: akankah kepemimpinannya membawa DWP Sulsel ke arah yang lebih dinamis, lebih berdaya, dan lebih dirasakan perannya oleh masyarakat?
Jawabannya tentu belum bisa dilihat hari ini. Tapi dari pertemuan perdana yang ia pimpin, sinyal awal sudah dikirim: perubahan bukan hanya soal pergantian nama di jabatan, melainkan soal semangat dan arah yang dibawa oleh pemimpinnya.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.