IPB juga menyoroti keunggulan kampus dalam mengintegrasikan sistem pangan secara menyeluruh, dari produksi, pengolahan, hingga konsumsi dan aspek gizi. Dalam kerangka ini, SPPG dinilai bisa menjadi simpul yang menghubungkan seluruh rantai pangan tersebut secara efisien.

MBG Bisa Jadi Model Inovasi Pangan Nasional

Dengan pendekatan berbasis kampus, Alim meyakini MBG tidak hanya berfungsi sebagai program penyediaan makanan. Program ini berpotensi berkembang menjadi model inovasi sistem pangan yang dapat direplikasi di berbagai daerah.

Dari sisi dampak sosial, IPB menekankan pentingnya intervensi ilmiah terhadap penurunan angka stunting. Melalui desain menu berbasis kebutuhan lokal dan pemantauan ilmiah, MBG dinilai sebagai investasi nyata dalam pengembangan sumber daya manusia, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan konsumsi harian.

SPPG di lingkungan kampus juga dinilai dapat berfungsi sebagai laboratorium hidup atau living lab. Mahasiswa bisa belajar langsung dari praktik nyata, mulai dari manajemen rantai pasok pangan, formulasi gizi, hingga operasional layanan publik.

Tak hanya mahasiswa, para dosen dan peneliti pun dinilai akan diuntungkan. Mereka dapat mengembangkan riset berbasis data lapangan secara real-time, sekaligus menjadikan SPPG sebagai inkubator inovasi pangan dan model bisnis baru berbasis teknologi dan kebutuhan sosial.