Summarize the post with AI

Ilusi Otomatisasi dan Matinya Empati

Teknologi seperti Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) atau helpdesk otomatis sejatinya diciptakan sebagai alat bantu (tools) untuk mempermudah pekerjaan repetitif. Ironisnya, dalam banyak kasus, sistem justru dijadikan tempat berlindung bagi tenaga kependidikan untuk menghindari interaksi langsung.

Pelayanan administrasi akhirnya tereduksi menjadi sekadar transaksi data. Padahal, inti dari manajemen perkantoran dan administrasi publik adalah penyelesaian masalah (problem solving). Sebuah mesin memang bisa menerbitkan transkrip nilai dalam hitungan detik, tetapi mesin tidak bisa menenangkan seorang mahasiswa tingkat akhir yang panik karena salah menginput mata kuliah. Algoritma komputer tidak didesain untuk meredakan kebingungan orang tua dari daerah pelosok yang gagap menghadapi rumitnya birokrasi beasiswa digital.

Di titik inilah Service Excellence (pelayanan prima) diuji. Pelayanan prima bukan sekadar tentang seberapa cepat SOP dijalankan, melainkan seberapa dihargai dan dibantu perasaan pengguna layanan tersebut.

Pergeseran Paradigma Kurikulum Vokasi

Sebagai akademisi di Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Universitas Negeri Makassar (UNM), saya menyadari betul bahwa fenomena ini adalah alarm keras bagi dunia pendidikan vokasi. Kita tidak bisa lagi menggunakan kacamata lama dalam mendidik calon tenaga administrasi profesional.



Follow Widget