DENPASAR, PUNGGAWANEWS – Abdul Mu’ti turun langsung ke ruang kelas. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah itu memilih bukan sekadar berkunjung secara seremonial, melainkan duduk bersama murid-murid kelas 4 SDN 6 Sumerta, Denpasar, Bali, dan menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak usia sekolah dasar itu belajar menyusun kalimat sederhana dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Kunjungan itu berlangsung dalam suasana yang jauh dari kesan protokoler. Para murid diajak mengenali fungsi kata hubung, menyusun kalimat secara aktif, menjawab pertanyaan, hingga menyampaikan pendapat di depan kelas. Bagi Mu’ti, momen itu bukan hanya kunjungan lapangan biasa—melainkan gambaran nyata dari pendekatan yang tengah ia dorong di seluruh ruang kelas Indonesia: pembelajaran mendalam atau deep learning.

Konsep ini bukan hal baru di dunia pendidikan, namun penerapannya di tingkat sekolah dasar masih menjadi tantangan tersendiri. Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan yang baik tidak cukup hanya membuat murid menghafal materi. Peserta didik perlu benar-benar memahami apa yang mereka pelajari, lalu mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran aktif dan menyenangkan, menurutnya, adalah kunci agar anak-anak tidak hanya duduk pasif di kursi mereka. Ketika murid terlibat langsung—bertanya, menjawab, berdebat kecil soal contoh kalimat—proses pemahaman berjalan jauh lebih efektif dibanding sekadar mencatat dari papan tulis.

Di tengah sesi kunjungan itu, Mu’ti menyampaikan pesan yang terasa sederhana namun sarat makna kepada para murid. “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Supaya ilmu kita tidak lupa, maka kita tulis sehingga ilmunya menjadi kita ikat dengan baik,” ujarnya, dikutip Minggu, 10 Mei 2026.

Kalimat itu bukan sekadar motivasi pagi hari. Mu’ti sungguh-sungguh menempatkan budaya menulis sebagai pilar penting dalam proses belajar. Menulis, menurutnya, bukan hanya soal merangkai kata—aktivitas itu melatih koordinasi motorik, memperkuat daya ingat, sekaligus membangun kebiasaan belajar yang disiplin dan aktif sejak usia dini.

Penguatan literasi dan kebiasaan menulis memang menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam visi pendidikan yang diusung Mu’ti. Di saat layar sentuh semakin mendominasi keseharian anak-anak, dorongan untuk kembali ke aktivitas menulis tangan terasa semakin relevan—bukan sebagai langkah mundur, melainkan sebagai fondasi yang kokoh bagi kemampuan berpikir kritis generasi muda.

Kunjungan ke SDN 6 Sumerta juga memiliki dimensi lain yang tak kalah penting. Sekolah ini termasuk dalam daftar penerima bantuan revitalisasi tahun 2026 melalui Program Hasil Terbaik Cepat yang digagas Presiden Prabowo Subianto, dengan tajuk Wujudkan Sekolah ASRI. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah membenahi kondisi fisik sekolah-sekolah yang selama ini kekurangan perhatian.

Bantuan yang diterima SDN 6 Sumerta berupa rehabilitasi satu gedung dengan tiga ruang kelas baru. Bagi sekolah yang berlokasi di ibu kota Provinsi Bali ini, kehadiran ruang kelas yang layak bukan hal kecil. Lingkungan belajar yang aman dan nyaman adalah prasyarat dasar agar proses pembelajaran bisa berjalan optimal—dan itulah yang coba diwujudkan melalui program revitalisasi ini.

Kepala SDN 6 Sumerta, Luh Made Wardyaningsih, menyambut kunjungan tersebut dengan tangan terbuka. Ia mengaku bersyukur atas perhatian langsung dari menteri sekaligus atas dukungan pemerintah terhadap sekolahnya.

“Terima kasih kami ucapkan atas kunjungan serta pesan penuh makna dari Bapak Menteri. Semoga bantuan revitalisasi yang diberikan pemerintah kepada sekolah kami memberikan manfaat yang besar dalam menunjang sekolah yang aman dan nyaman bagi siswa-siswi kami ke depannya,” tuturnya.

Kunjungan Mu’ti ke Bali ini mencerminkan pola gerak yang ia konsisten jalani sejak menjabat—turun langsung, melihat kondisi riil di lapangan, dan membawa pesan yang menyentuh inti persoalan pendidikan. Di tengah berbagai agenda reformasi pendidikan yang sedang berjalan, kehadiran seorang menteri di ruang kelas sekolah dasar mungkin tampak sederhana. Namun justru di sanalah kebijakan bertemu kenyataan, dan niat bertemu dengan dampak nyata.

Masa depan literasi Indonesia, seperti yang Mu’ti percayai, dimulai dari kalimat pertama yang ditulis seorang anak dengan tangannya sendiri.

FAQ

Apa yang dimaksud dengan deep learning dalam konteks pendidikan yang disampaikan Menteri Mu’ti? Deep learning dalam pendidikan merujuk pada pendekatan pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk benar-benar memahami materi secara mendalam, bukan sekadar menghafal. Murid diajak mengaitkan pengetahuan dengan konteks kehidupan sehari-hari agar pemahaman lebih bermakna dan tahan lama.

Apa itu Program Wujudkan Sekolah ASRI yang disebutkan dalam kunjungan ini? Wujudkan Sekolah ASRI adalah bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada revitalisasi fisik sekolah-sekolah di Indonesia. SDN 6 Sumerta menjadi salah satu penerima bantuan berupa rehabilitasi gedung dengan tiga ruang kelas baru pada tahun 2026.

Mengapa budaya menulis dianggap penting oleh Menteri Mu’ti dalam pembelajaran anak sekolah dasar? Menurut Mu’ti, menulis bukan hanya sarana mengekspresikan ide, tetapi juga alat untuk memperkuat pemahaman dan daya ingat. Aktivitas menulis tangan turut melatih koordinasi motorik serta membangun kebiasaan belajar yang aktif dan disiplin sejak usia dini.