Arsad menegaskan bahwa sifat fenomena ini adalah konfirmatif, bukan korektif secara otomatis. Bagi masjid atau musala yang arah kiblatnya sudah ditetapkan dengan teliti, Rashdul Kiblat akan memperkuat keyakinan tersebut. Namun bagi yang masih menyimpan keraguan, inilah saat yang paling tepat untuk mengecek ulang.
Ada beberapa syarat teknis yang perlu diperhatikan agar hasil pengukuran benar-benar akurat. Benda yang dijadikan patokan harus berdiri tegak lurus sempurna—untuk memastikannya, dapat digunakan lot atau bandul sebagai alat bantu sederhana yang mudah ditemukan di rumah.
Selain itu, permukaan tempat pengukuran harus benar-benar datar dan rata. Permukaan yang miring atau tidak rata akan membuat bayangan terdistorsi dan hasilnya tidak dapat diandalkan.
Faktor ketiga, dan yang paling krusial, adalah ketepatan waktu. Arsad mengingatkan bahwa selisih beberapa menit saja sudah cukup untuk menggeser arah bayangan secara signifikan. Karena itu, masyarakat diminta menyinkronkan jam mereka dengan sumber waktu resmi seperti BMKG atau RRI sebelum melakukan pengukuran.
“Ketepatan waktu menjadi faktor penting dalam pengukuran arah kiblat. Selisih beberapa menit saja dapat memengaruhi arah bayangan yang terbentuk,” jelas Arsad.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.