Summarize the post with AI

Rasulullah SAW mendatangi jenazahnya, membopong tubuh itu dengan kedua tangannya sendiri, dan menguburkannya. Para sahabat yang menyaksikan diam terpaku. Banyak di antara mereka yang selama ini tidak pernah sungguh-sungguh memperhatikan Julaibib — kini merasa malu, bahkan iri.

Di tepi kuburan itu, Rasulullah bersabda bahwa Julaibib mungkin belum sempat merasakan keindahan hidup berumah tangga di dunia, tetapi ia akan merasakan kenikmatan surga yang jauh melampaui semua itu. Puluhan bidadari surga, kata Rasulullah, sedang berebut menyambutnya.

Sementara di Madinah, sang istri yang baru beberapa jam menjadi ibu rumah tangga, menangis mendengar kabar itu. Ia berbicara kepada suaminya yang telah pergi: belum sempat membahagiakan, belum sempat menunaikan kewajiban. Tapi ia bangga. Dan ia berjanji untuk menyusul.

Kisah Julaibib adalah kisah tentang seseorang yang tidak pernah dianggap — tetapi justru paling diingat oleh orang yang paling penting. Ia tidak meninggalkan harta, tidak meninggalkan keturunan, tidak meninggalkan nama besar. Ia hanya meninggalkan keimanan, keberanian, dan tujuh musuh yang tumbang di sekitarnya.

Dan rupanya, itu lebih dari cukup.



Follow Widget