Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS — Di antara ribuan sahabat Nabi Muhammad SAW, ada satu nama yang nyaris tenggelam dalam lipatan sejarah. Bukan karena kisahnya tidak bermakna, melainkan justru sebaliknya: hidupnya terlalu bersahaja untuk diperhatikan oleh mereka yang silau oleh harta dan nasab. Dialah Julaibib, seorang sahabat yang tubuhnya pendek, kulitnya gelap, punggungnya sedikit membungkuk, dan asal-usulnya tidak diketahui seorang pun — bahkan oleh dirinya sendiri.

Di Madinah kala itu, Julaibib bukan sekadar miskin. Ia tidak memiliki rumah, tidak memiliki keluarga, dan tidak memiliki tempat bersandar. Sebagian penduduk kota menjulukinya “lelaki buruk rupa.” Seorang kepala suku bernama Abu Barzah bahkan secara terang-terangan melarang Julaibib masuk ke wilayah dan kelompoknya. Pengucilan itu bukan hanya menyakitkan — ia berlangsung tanpa rasa bersalah, seolah Julaibib memang tidak layak mendapat tempat di antara manusia.

Namun Rasulullah SAW melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Di balik rupa yang tidak memukau dan nasib yang tidak berpihak, beliau menyaksikan iman yang kokoh, hati yang bersih, dan jiwa yang tulus. Karena itulah Rasulullah tidak sekadar menyayangi Julaibib — beliau turun tangan langsung mengurus masa depannya.

Suatu hari, usai shalat, Rasulullah SAW memanggil Julaibib dan bertanya apakah ia ingin menikah. Julaibib terdiam, lalu menjawab dengan nada rendah hati yang menyayat: siapa gerangan yang sudi menikahkan putrinya dengan seseorang seperti dirinya? Rasulullah tersenyum dan memintanya untuk tenang — Allah pasti menyiapkan yang terbaik.

Pertanyaan itu tidak ditanya sekali. Rasulullah mengulanginya pada hari berikutnya, dan hari sesudahnya lagi. Sebuah ketekunan yang bukan sekadar basa-basi, melainkan kepedulian yang sungguh-sungguh dari seorang pemimpin terhadap salah satu anggota umatnya yang paling tersisih. Hingga akhirnya Julaibib menyatakan kesiapannya.

Rasulullah pun menggandeng tangan Julaibib dan membawanya ke rumah salah satu petinggi kaum Anshar. Sang tuan rumah menyambut dengan suka cita — hingga mendengar bahwa lamaran itu bukan untuk Nabi sendiri, melainkan untuk Julaibib. Wajahnya berubah. Ia masuk ke dalam untuk berunding dengan istrinya, yang bereaksi lebih keras: menolak mentah-mentah. Putri mereka cantik, terpandang, dan banyak dilamar. Tidak mungkin diserahkan kepada lelaki tanpa harta dan tanpa nasab.

Tetapi sang putri — yang tanpa sengaja mendengar seluruh percakapan itu — justru keluar dari kamarnya dengan langkah tegas. Ia bertanya kepada kedua orang tuanya dengan kalimat yang menghentikan perdebatan: apakah mereka akan menolak ketetapan Allah dan Rasul-Nya? Ia menegaskan bahwa Rasulullah tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Jika Nabi menikahkannya dengan Julaibib, maka itulah yang terbaik.

Orang tua itu tertunduk. Tidak ada yang bisa dibantah. Lamaran pun diterima.

Pernikahan Julaibib dan putri pemimpin Anshar itu berlangsung dengan disaksikan langsung oleh Rasulullah SAW. Seorang lelaki yang selama bertahun-tahun tidak punya tempat di antara masyarakatnya, kini berdiri sebagai seorang suami dari perempuan salehah dan mulia.

Namun kebahagiaan itu belum sempat dirayakan. Malam pertama belum selesai ketika suara ribut terdengar di luar rumah. Rasulullah dan para sahabat sedang bersiap menuju medan Perang Uhud. Julaibib keluar, dan begitu mengetahui apa yang terjadi, ia langsung bergegas menyiapkan diri. Rasulullah sempat memintanya untuk tinggal — ia baru saja menikah, istrinya membutuhkan kehadirannya. Tetapi Julaibib tidak bisa menahan diri. Ia berpamitan kepada sang istri, memohon maaf atas malam pertama yang terpaksa ditinggalkan, lalu berangkat ke medan perang.

Ia tidak kembali.

Setelah pertempuran usai, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat apakah ada yang hilang di antara mereka. Berbagai nama disebutkan. Namun tidak ada yang menyebut Julaibib — karena memang tidak ada yang merasa kehilangan. Hanya Rasulullah yang merasakannya. Beliau memerintahkan para sahabat untuk mencari.

Tubuh Julaibib ditemukan di medan laga, penuh luka sabetan pedang. Di sekelilingnya tergeletak tujuh prajurit Quraisy yang telah ia tumbangkan sebelum nafasnya sendiri berhenti. Tujuh lawan. Seorang diri.

Rasulullah SAW mendatangi jenazahnya, membopong tubuh itu dengan kedua tangannya sendiri, dan menguburkannya. Para sahabat yang menyaksikan diam terpaku. Banyak di antara mereka yang selama ini tidak pernah sungguh-sungguh memperhatikan Julaibib — kini merasa malu, bahkan iri.

Di tepi kuburan itu, Rasulullah bersabda bahwa Julaibib mungkin belum sempat merasakan keindahan hidup berumah tangga di dunia, tetapi ia akan merasakan kenikmatan surga yang jauh melampaui semua itu. Puluhan bidadari surga, kata Rasulullah, sedang berebut menyambutnya.

Sementara di Madinah, sang istri yang baru beberapa jam menjadi ibu rumah tangga, menangis mendengar kabar itu. Ia berbicara kepada suaminya yang telah pergi: belum sempat membahagiakan, belum sempat menunaikan kewajiban. Tapi ia bangga. Dan ia berjanji untuk menyusul.

Kisah Julaibib adalah kisah tentang seseorang yang tidak pernah dianggap — tetapi justru paling diingat oleh orang yang paling penting. Ia tidak meninggalkan harta, tidak meninggalkan keturunan, tidak meninggalkan nama besar. Ia hanya meninggalkan keimanan, keberanian, dan tujuh musuh yang tumbang di sekitarnya.

Dan rupanya, itu lebih dari cukup.



Follow Widget