Summarize the post with AI

Pertanyaan itu tidak ditanya sekali. Rasulullah mengulanginya pada hari berikutnya, dan hari sesudahnya lagi. Sebuah ketekunan yang bukan sekadar basa-basi, melainkan kepedulian yang sungguh-sungguh dari seorang pemimpin terhadap salah satu anggota umatnya yang paling tersisih. Hingga akhirnya Julaibib menyatakan kesiapannya.

Rasulullah pun menggandeng tangan Julaibib dan membawanya ke rumah salah satu petinggi kaum Anshar. Sang tuan rumah menyambut dengan suka cita — hingga mendengar bahwa lamaran itu bukan untuk Nabi sendiri, melainkan untuk Julaibib. Wajahnya berubah. Ia masuk ke dalam untuk berunding dengan istrinya, yang bereaksi lebih keras: menolak mentah-mentah. Putri mereka cantik, terpandang, dan banyak dilamar. Tidak mungkin diserahkan kepada lelaki tanpa harta dan tanpa nasab.

Tetapi sang putri — yang tanpa sengaja mendengar seluruh percakapan itu — justru keluar dari kamarnya dengan langkah tegas. Ia bertanya kepada kedua orang tuanya dengan kalimat yang menghentikan perdebatan: apakah mereka akan menolak ketetapan Allah dan Rasul-Nya? Ia menegaskan bahwa Rasulullah tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Jika Nabi menikahkannya dengan Julaibib, maka itulah yang terbaik.

Orang tua itu tertunduk. Tidak ada yang bisa dibantah. Lamaran pun diterima.



Follow Widget