JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Sebuah kapal kemanusiaan internasional dicegat di perairan internasional. Di dalamnya, ada jurnalis Indonesia yang sedang menjalankan tugas. Israel menahan mereka semua—dan Muhammadiyah langsung bereaksi keras.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan kecaman tegas atas tindakan militer Israel yang mencegat dan menahan rombongan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0. Rombongan itu tengah dalam perjalanan menuju Gaza, Palestina, membawa misi damai—bukan senjata, bukan agenda politik.
Di antara mereka yang ditahan, terdapat sejumlah jurnalis Indonesia. Mereka bukan kombatan. Mereka bukan agen asing. Mereka adalah pewarta yang sedang menunaikan kewajiban jurnalistik: menyuarakan apa yang terjadi di salah satu titik paling kelam di muka bumi saat ini.
Haedar menegaskan sikapnya dalam keterangan resmi yang disampaikan pada Rabu, 20 Mei 2026. Ia menyebut bahwa Muhammadiyah selalu menolak setiap bentuk intervensi dan penggunaan kekerasan yang pada akhirnya hanya merugikan semua pihak. Sikap ini bukan hal baru—ia adalah bagian dari prinsip organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia itu dalam merespons setiap konflik bersenjata di dunia.
Yang menjadi sorotan Haedar adalah karakter dari para peserta misi tersebut. Para jurnalis dan aktivis kemanusiaan yang berada di atas kapal itu tidak membawa kepentingan politik apa pun. Mereka datang membawa pena, kamera, dan niat untuk menyampaikan kebenaran dari balik blokade yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Tindakan Israel menahan mereka, menurut Haedar, adalah bentuk kesewenang-wenangan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia meminta Israel tidak menghalangi pihak-pihak yang hadir dengan membawa misi perdamaian dan kemanusiaan. Pesan itu lugas: biarkan bantuan masuk, biarkan jurnalis bekerja.
Muhammadiyah tidak berhenti pada kecaman terhadap Israel. Organisasi ini juga mendesak komunitas internasional—termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa—untuk tidak sekadar mengeluarkan pernyataan, tetapi mengambil langkah nyata. Konflik yang terus berlarut di Palestina, menurut Haedar, adalah cermin dari gagalnya komunitas global memenuhi janji yang dibuat setelah dua perang dunia.
Ada ironi besar di balik peristiwa ini. Dunia pernah berjanji, setelah Perang Dunia I dan II berakhir dengan jutaan korban jiwa, bahwa perang tidak akan lagi menjadi jalan penyelesaian konflik. Namun kenyataannya, Gaza hari ini adalah bukti betapa rapuhnya janji itu. Blokade, serangan udara, dan kini penahanan misi kemanusiaan—semuanya berlangsung di bawah sorotan dunia yang nyaris tak bergerak.
Haedar menyebut kondisi ini sebagai tanda hilangnya nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan modern. Sebuah peradaban yang mengklaim dirinya maju, tetapi membiarkan blokade terhadap warga sipil terus berlangsung, layak mempertanyakan kembali fondasi moralnya sendiri.
Misi Global Sumud Flotilla 2.0 sendiri merupakan upaya komunitas internasional untuk menembus blokade laut yang diberlakukan Israel terhadap Gaza. Flotilla—istilah untuk armada kapal kecil—sudah beberapa kali mencoba rute ini dalam beberapa tahun terakhir, dengan nasib yang berulang kali berakhir di tangan angkatan laut Israel.
Keterlibatan jurnalis Indonesia dalam misi ini menambah dimensi baru dalam perhatian publik nasional terhadap konflik Palestina. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki kepentingan moral dan historis yang kuat dalam isu Palestina. Sikap Muhammadiyah kali ini mencerminkan sentimen luas yang mengakar di masyarakat Indonesia.
Seruan Muhammadiyah kepada PBB untuk bertindak nyata mencerminkan frustrasi yang sudah lama menumpuk. Resolusi demi resolusi lahir dari Dewan Keamanan PBB, namun konflik tak kunjung usai. Blokade tetap berjalan. Bantuan kemanusiaan tetap sulit masuk. Dan kini, kapal yang membawa wartawan pun tak dibiarkan lewat.
Bagi Muhammadiyah, ini bukan semata soal jurnalis Indonesia. Ini soal prinsip: bahwa kemanusiaan harus lebih kuat dari politik, bahwa nilai-nilai universal tidak boleh tunduk pada kepentingan sempit kekuasaan. Pesan itu sederhana, tapi beratnya terasa hingga ke Jenewa, New York, dan Tel Aviv.
FAQ
Apa itu Global Sumud Flotilla dan apa tujuannya? Global Sumud Flotilla adalah misi kemanusiaan internasional yang menggunakan armada kapal untuk menembus blokade laut Israel di Gaza, Palestina. Tujuannya adalah mengantarkan bantuan kemanusiaan dan mendokumentasikan kondisi warga Gaza kepada dunia.
Mengapa ada jurnalis Indonesia dalam rombongan tersebut? Para jurnalis Indonesia bergabung dalam misi ini untuk melaporkan langsung kondisi di Gaza dan proses perjalanan misi kemanusiaan internasional. Keterlibatan mereka adalah bagian dari tugas jurnalistik, bukan aktivitas politik.
Apa yang dituntut Muhammadiyah dari komunitas internasional terkait kasus ini? Muhammadiyah mendesak PBB dan komunitas internasional untuk mengambil langkah konkret—bukan sekadar pernyataan—guna menghentikan berbagai bentuk kekerasan dan pelanggaran kemanusiaan yang terus berlangsung di Palestina.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.