JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Di hadapan ratusan anggota parlemen, Presiden Prabowo Subianto melakukan sesuatu yang jarang terjadi dalam politik Indonesia: ia berterima kasih kepada partai yang tidak mendukungnya.

Momen itu terjadi dalam Rapat Paripurna DPR RI yang digelar di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Rabu, 20 Mei 2026. Dalam pidatonya, Prabowo secara terbuka menyampaikan penghargaan kepada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) — satu-satunya partai di parlemen yang hingga kini berada di luar koalisi pemerintahannya.

Ucapan itu bukan basa-basi protokoler. Prabowo menyebut PDIP telah “berkorban” dengan memilih jalur oposisi, dan justru karena pilihan itulah demokrasi Indonesia tetap memiliki mekanisme penyeimbang yang sehat.

“Tidak semua partai di sini bagian dari pemerintah, dan saya hormati, saya hargai itu,” ujar Prabowo dalam pidatonya. Ia melanjutkan bahwa demokrasi memerlukan check and balance, terutama terhadap lembaga eksekutif yang menjalankan roda pemerintahan.

Kalimat penutup Prabowo menjadi yang paling menggema: “Saya ingin ucapkan terima kasih kepada PDIP. Saudara berjasa untuk demokrasi kita.”

Pernyataan itu sontak menarik perhatian. Dalam lanskap politik Indonesia yang kerap diwarnai polarisasi dan manuver koalisi, pujian seorang presiden kepada partai oposisi — disampaikan langsung di forum resmi kenegaraan — adalah pemandangan yang tidak biasa.

PDIP memang telah memilih jalan berbeda sejak Prabowo resmi dilantik sebagai presiden. Partai besutan Megawati Soekarnoputri itu memutuskan tidak bergabung ke dalam pemerintahan, menjadikannya kekuatan pengawas tunggal di parlemen dari sisi partai politik.

Keputusan itu bukan tanpa konsekuensi. Berada di luar kekuasaan berarti melepaskan akses terhadap pos-pos kabinet dan pengaruh kebijakan yang biasanya menjadi daya tarik utama bagi partai mana pun untuk bergabung dengan koalisi pemenang.

Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, yang hadir langsung dalam rapat paripurna tersebut, menilai ucapan Prabowo bukan sekadar retorika politik. Menurut Dasco, penghargaan itu keluar dari lubuk hati paling dalam sang presiden.

“Itu adalah ungkapan yang tulus dan penghargaan,” kata Dasco usai rapat. Ia menekankan bahwa kata-kata Prabowo mencerminkan respek yang nyata terhadap peran PDIP dalam menjaga iklim demokratis di Indonesia.

Dasco juga menyinggung soal kritik-kritik yang selama ini dilontarkan anggota Fraksi PDIP di DPR. Alih-alih menganggapnya sebagai gangguan, ia menyebutnya sebagai kritik yang membangun — dan mengakui bahwa dinamika itu sudah berlangsung sejak awal pemerintahan Prabowo.

Dalam sistem demokrasi yang sehat, oposisi bukan musuh pemerintah, melainkan mitra koreksi. Keberadaan partai yang berani mengkritik kebijakan eksekutif adalah salah satu penanda bahwa ruang demokrasi masih terbuka dan berfungsi.

Indonesia punya sejarah panjang dengan lemahnya oposisi. Pada era Orde Baru, oposisi nyaris tidak ada. Bahkan di era reformasi, kecenderungan partai-partai untuk masuk ke dalam koalisi pemerintah — demi jabatan dan anggaran — membuat fungsi pengawasan parlemen kerap berjalan setengah hati.

Dalam konteks itulah pilihan PDIP untuk tetap di luar pemerintahan mendapat makna tersendiri. Terlepas dari kalkulasi politik di baliknya, posisi itu secara objektif mengisi kekosongan yang penting: suara yang tidak selalu satu nada dengan penguasa.

Prabowo tampaknya memahami hal itu. Pengakuannya di forum paripurna bukan hanya gestur diplomatis kepada Megawati dan kader PDIP, tetapi juga sinyal bahwa ia tidak alergi terhadap kritik — setidaknya secara retorika.

Yang menarik, momen ini terjadi tepat sehari setelah peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei. Tanggal yang secara historis selalu dirayakan sebagai momentum kesadaran kolektif bangsa untuk bangkit bersama, melampaui perbedaan.

Apakah pidato Prabowo ini akan membuka babak baru dalam hubungan antara pemerintah dan PDIP, masih terlalu dini untuk disimpulkan. Namun satu hal yang jelas: di tengah dinamika politik yang sering kali terasa transaksional, ucapan terima kasih itu — bila benar tulus — adalah tanda bahwa ada ruang untuk saling menghormati, bahkan di antara pihak-pihak yang tidak berdiri di barisan yang sama.

Demokrasi, sebagaimana diingatkan Prabowo sendiri, memang butuh lebih dari sekadar suara mayoritas. Ia butuh keberanian untuk berseberangan — dan kematangan untuk menghargainya.

FAQ

Mengapa Prabowo berterima kasih kepada PDIP di forum resmi DPR? Prabowo menilai PDIP berjasa bagi demokrasi Indonesia karena memilih menjadi oposisi, sehingga fungsi check and balance terhadap pemerintah tetap berjalan.

Apa respons DPR terhadap pernyataan Prabowo soal PDIP? Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco menyebut ucapan Prabowo sebagai ungkapan tulus dari lubuk hati paling dalam, bukan sekadar formalitas politik.

Apakah PDIP akan bergabung dengan koalisi pemerintah setelah pernyataan ini? Belum ada sinyal resmi ke arah itu. Pernyataan Prabowo lebih merupakan penghargaan atas peran oposisi PDIP, bukan ajakan koalisi secara eksplisit.