Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, TANGERANG — Langit sore di atas Bandara Internasional Soekarno-Hatta seolah ikut berduka pada Sabtu, 4 April lalu. Di Terminal 3, suasana hening mencekam berpadu dengan deru mesin pesawat yang biasanya menjadi latar kesibukan sehari-hari. Namun sore itu, tak ada yang biasa dari apa yang tersaji di sebuah ruangan khusus penyambutan—tiga peti jenazah terbungkus bendera Merah Putih berjajar dalam kekhidmatan yang menyayat.
Di dalam peti-peti itu bersemayam tiga putra terbaik bangsa: Mayor Infanteri Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Kepala Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopral Dua Anumerta Farizal Rhomadhon. Ketiganya pulang ke Tanah Air bukan dengan seragam tegap dan langkah perkasa sebagaimana mereka pergi, melainkan dalam balutan kain kebanggaan negara yang mereka cintai hingga tarikan napas terakhir.
Mereka adalah prajurit TNI yang gugur dalam pelaksanaan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di bawah bendera UNIFIL di wilayah Lebanon—sebuah tugas mulia yang mereka emban demi terciptanya stabilitas dan keamanan di belahan dunia yang tengah dilanda konflik.
Tangis seorang bayi menjadi suara yang paling memilukan di antara isak tangis yang memenuhi ruangan. Istri Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan duduk bersimpuh di sudut ruangan, mendekap erat buah hatinya yang masih merah. Bayi itu terus menangis tanpa mengerti betapa besar kehilangan yang baru saja merenggut masa depannya bersama sang ayah. Tangisan kecil itu seolah mewakili seluruh duka yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata oleh siapa pun yang hadir.
Di tengah suasana yang menghimpit dada itulah Presiden Prabowo Subianto melangkah mendekat. Tanpa sekat protokoler yang kaku, pemimpin tertinggi negeri ini membungkukkan badan, lalu dengan penuh kelembutan mengusap kepala mungil sang bayi yang gelisah. Tak lama berselang, Presiden mendaratkan sebuah ciuman di dahi bayi itu—sebuah gestur sederhana namun sarat makna, sekaligus representasi janji tak terucap bahwa negara tidak akan berpaling dari keluarga yang telah menyerahkan segalanya demi Merah Putih.
Presiden kemudian beralih, memegang tangan para istri dan ibu dari ketiga prajurit yang gugur. Kata-kata penguatan dibisikkan, air mata dibiarkan mengalir tanpa ada yang menahan. Di hadapan peti jenazah Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon dan Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, pemandangan serupa kembali terulang. Para istri tak mampu membendung tangis saat berhadapan langsung dengan Presiden. Sementara para ibu dari para prajurit berdiri dengan mata yang sembab namun mencoba tegar, menunaikan tugas menemani putra mereka untuk yang terakhir kali di sisi peti yang dingin dan senyap.
Sebelum meninggalkan ruangan, Presiden Prabowo mengambil posisi berdiri tegak di hadapan foto resmi ketiga almarhum yang terpajang. Ia lantas memberikan hormat militer—penghormatan seorang Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata kepada prajuritnya yang telah melampaui batas tugas biasa dan menyerahkan nyawa mereka di tanah yang jauh dari keluarga.
Ketiga prajurit itu gugur di bawah mandat PBB, bertugas memastikan perdamaian bagi anak-anak di negeri yang dilanda perang. Namun pada sore yang mulai redup di Tangerang itu, justru anak-anak dan keluarga merekalah yang kini harus belajar menjalani hidup tanpa kehadiran sang pahlawan. Ciuman Presiden di dahi bayi Muhammad Nur Ichwan menjadi pengingat yang tak akan mudah pudar: bahwa perdamaian dunia kerap kali harus dibeli dengan harga yang teramat mahal—air mata, kepiluan, dan perpisahan yang tidak akan pernah berakhir.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.