Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, BAUBAU, SULAWESI TENGGARA – Dalam suasana penuh khidmat dan penuh makna spiritual, ratusan warga Kelurahan Badia di kawasan Benteng Keraton Kota Baubau menghidupkan kembali tradisi leluhur mereka yang telah berlangsung selama berabad-abad. Tradisi Malam Qunut atau yang dalam bahasa setempat disebut “Malon Kunoa” kembali digelar di Masjid Kubah, masjid bersejarah peninggalan Sultan Buton ke-29 yang menjadi simbol kejayaan Kesultanan Buton.
Ritual keagamaan yang diselenggarakan khusus untuk menyambut malam keenam belas Ramadan ini bukan sekadar rangkaian ibadah biasa. Di balik setiap detail pelaksanaannya, tersimpan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang yang telah dipelihara sejak abad ke-16, menjadikannya salah satu tradisi Islam Nusantara yang unik dan kaya akan filosofi.
Prosesi Sakral dengan Pakaian Adat
Kekhususan Malam Qunut terlihat jelas sejak awal pelaksanaannya. Seluruh pengurus dan perangkat masjid diwajibkan mengenakan pakaian adat tradisional Buton, menandakan pentingnya momen ini dalam kalender budaya masyarakat setempat. Prosesi dimulai dengan pelaksanaan salat tarawih berjamaah, dilanjutkan dengan salat witir yang menjadi puncak kekhusyukan malam tersebut.
Yang membedakan ritual ini dengan ibadah biasa adalah pembacaan doa qunut yang diselipkan dalam rakaat terakhir salat witir. Doa ini dipanjatkan dengan penuh harap, memohon kepada Allah SWT untuk keselamatan di dunia dan akhirat, kekuatan iman yang tangguh, umur panjang, rezeki yang melimpah, serta perlindungan dari segala bentuk malapetaka dan bencana.
Jamuan Kuliner Tradisional
Usai rangkaian ibadah, ratusan jemaah yang hadir melanjutkan tradisi dengan makan malam bersama. Hidangan yang disajikan bukan makanan sembarangan, melainkan kuliner khas Buton yang sarat makna: lapa-lapa, ayam kampung, cucur, onde-onde, dan baruasa. Setiap hidangan merepresentasikan kekayaan kuliner tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Momen santap bersama ini bukan sekadar mengisi perut, tetapi menjadi wadah mempererat tali persaudaraan antarwarga. Pemandangan yang menyentuh terlihat ketika jemaah, baik dewasa maupun anak-anak, berbaris antri untuk bersalaman dan saling memaafkan satu sama lain. Ritual ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga harmoni sosial di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis.
Filosofi Mendalam di Balik Tradisi
“Malam Qunut adalah warisan leluhur yang kami laksanakan setiap malam kelimabelas atau malam keenambelas Ramadan,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat. “Tradisi ini bertujuan agar kami diberi umur panjang, rezeki berlimpah, iman yang kuat, serta dijauhkan dari segala bencana dan hal-hal buruk yang tidak kita inginkan.”
Tradisi yang telah melewati lebih dari empat abad ini menunjukkan kearifan lokal masyarakat Buton dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan budaya setempat. Keberlangsungannya hingga kini membuktikan komitmen generasi penerus untuk melestarikan khazanah spiritual dan budaya yang diwariskan para pendahulu.
Masjid Kubah: Saksi Bisu Peradaban Islam Buton
Pelaksanaan tradisi di Masjid Kubah bukan tanpa alasan. Masjid tertua di Baubau ini merupakan simbol masuknya dan berkembangnya Islam di wilayah Kesultanan Buton. Sebagai peninggalan Sultan Buton ke-29, bangunan ini menyimpan nilai historis yang sangat tinggi dan menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Islam di Sulawesi Tenggara.
Tradisi Malam Qunut di Baubau menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Indonesia mampu menjaga keseimbangan antara ketaatan beragama dan pelestarian budaya lokal. Di tengah arus modernisasi yang deras, tradisi seperti ini menjadi benteng pertahanan identitas dan jati diri bangsa yang perlu terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi mendatang.
Laporan dari Baubau, Sulawesi Tenggara





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.