BOGOR, PUNGGAWANEWS – Institut Pertanian Bogor (IPB) menyatakan dukungannya terhadap usulan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana agar perguruan tinggi membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara mandiri. Namun, IPB menegaskan keterlibatan itu harus dikelola dengan cermat agar tidak menggeser peran utama kampus sebagai institusi pendidikan dan riset.
Usulan itu pertama kali disampaikan Dadan dalam Forum U25 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) di Makassar, Selasa (28/4), yang dihadiri para rektor dari 24 PTN-BH. Ia mendorong kampus memiliki minimal satu SPPG dan memastikan pasokannya berasal dari lingkungan akademik sendiri.
Kampus sebagai Penyedia Solusi Berbasis Ilmu
Rektor IPB Alim Setiawan Slamet menilai keterlibatan perguruan tinggi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki landasan strategis yang kuat. Menurutnya, kampus dapat berperan sebagai penyedia solusi berbasis pengetahuan, bukan sekadar pengelola dapur makan.
Program MBG, kata Alim, menyasar isu-isu mendasar seperti gizi, pendidikan, dan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, pendekatan berbasis sains menjadi keharusan agar desain, implementasi, hingga evaluasi program berjalan terukur dan berbasis data.
IPB juga menyoroti keunggulan kampus dalam mengintegrasikan sistem pangan secara menyeluruh, dari produksi, pengolahan, hingga konsumsi dan aspek gizi. Dalam kerangka ini, SPPG dinilai bisa menjadi simpul yang menghubungkan seluruh rantai pangan tersebut secara efisien.
MBG Bisa Jadi Model Inovasi Pangan Nasional
Dengan pendekatan berbasis kampus, Alim meyakini MBG tidak hanya berfungsi sebagai program penyediaan makanan. Program ini berpotensi berkembang menjadi model inovasi sistem pangan yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
Dari sisi dampak sosial, IPB menekankan pentingnya intervensi ilmiah terhadap penurunan angka stunting. Melalui desain menu berbasis kebutuhan lokal dan pemantauan ilmiah, MBG dinilai sebagai investasi nyata dalam pengembangan sumber daya manusia, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan konsumsi harian.
SPPG di lingkungan kampus juga dinilai dapat berfungsi sebagai laboratorium hidup atau living lab. Mahasiswa bisa belajar langsung dari praktik nyata, mulai dari manajemen rantai pasok pangan, formulasi gizi, hingga operasional layanan publik.
Tak hanya mahasiswa, para dosen dan peneliti pun dinilai akan diuntungkan. Mereka dapat mengembangkan riset berbasis data lapangan secara real-time, sekaligus menjadikan SPPG sebagai inkubator inovasi pangan dan model bisnis baru berbasis teknologi dan kebutuhan sosial.
IPB Ingatkan Risiko yang Tidak Boleh Diabaikan
Di balik peluang besar itu, Alim mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dikelola secara serius. Beban sumber daya kampus, tantangan operasional pada skala besar, hingga pergeseran peran kampus menjadi terlalu teknis-operasional menjadi ancaman nyata jika tata kelola tidak dipersiapkan dengan matang.
“Tanpa tata kelola yang kuat, efektivitas program bisa menurun,” tegas Alim dalam keterangan kepada Bloomberg Technoz, Jumat (1/5).
Saat ini, IPB masih berfokus menjalankan peran sebagai Center of Excellence (CoE) untuk program PPG-MBG, sesuai penugasan dari Kementerian PPN/Bappenas dengan dukungan UNICEF dan Badan Gizi Nasional. Peran ini menitikberatkan pada penjaminan kualitas, keamanan pangan, serta pengembangan desain ekosistem pangan dari hulu ke hilir.
IPB menegaskan bahwa fungsi CoE tidak berhenti pada operasional dapur, tetapi mencakup pengembangan standar dan model yang dapat diadopsi SPPG lain di seluruh Indonesia. Dengan posisi strategis ini, kampus diharapkan tetap memberikan kontribusi berarti tanpa kehilangan jati dirinya sebagai institusi pendidikan dan penelitian.
FAQ
Apa itu SPPG dalam Program Makan Bergizi Gratis? Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) adalah unit pengelola makanan bergizi yang dirancang untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala BGN Dadan Hindayana mendorong perguruan tinggi membangun dan mengelola SPPG secara mandiri sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik.
Mengapa IPB mendukung pembangunan SPPG di kampus? IPB menilai keterlibatan kampus memiliki landasan strategis karena perguruan tinggi mampu mengintegrasikan sistem pangan dari hulu ke hilir, memastikan program dijalankan berbasis sains, serta menjadikan SPPG sebagai laboratorium hidup bagi mahasiswa dan peneliti.
Apa risiko yang diingatkan IPB terkait pengelolaan SPPG? IPB mengingatkan potensi beban sumber daya kampus, tantangan operasional pada skala besar, dan risiko pergeseran peran kampus menjadi terlalu teknis-operasional. Tanpa tata kelola yang kuat, efektivitas program MBG bisa terganggu.
3 Alternatif Judul SEO
- IPB Dukung SPPG Kampus untuk MBG, Tapi Ada Syarat Pentingnya
- Rektor IPB Ungkap Peluang dan Risiko Kampus Kelola SPPG Program MBG
- BGN Dorong Kampus Bangun SPPG, IPB Siap dengan Catatan Ini
TAG: IPB, MAKAN BERGIZI GRATIS, MBG, SPPG, BADAN GIZI NASIONAL, DADAN HINDAYANA, REKTOR IPB, PROGRAM GIZI NASIONAL, PERGURUAN TINGGI, PTN-BH, STUNTING, PANGAN, INOVASI PANGAN, KAMPUS, CENTER OF EXCELLENCE



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.