Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS, TIONGKOK – Di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan kemajuan teknologi yang menjadikan Tiongkok sebagai salah satu kekuatan ekonomi global, terdapat kehidupan spiritual yang mungkin jarang terekspos ke publik internasional. Lebih dari 30 juta umat Muslim kini menjadi bagian integral dari masyarakat Negeri Tirai Bambu, dengan tradisi keagamaan yang tetap terjaga di era modern.

⁠INILAH PASAR RAMADAN TERBESAR DIDUNIA, BEGINI KEHIDUPAN UMAT MUSLIM DI NEGARA CHINA

Lingxia: ‘Makkah Kecil’ di Jantung Tiongkok

Kota Lingxia di bagian barat laut Tiongkok telah lama dikenal dengan julukan “Makkah Kecil”. Sebutan ini bukan sekadar metafora, melainkan cerminan dari realitas demografis dan keagamaan yang mengakar kuat di wilayah tersebut.

Sekitar 60 persen dari total populasi Prefektur Otonom Etnis Hui Lingxia merupakan penganut Islam, dengan jumlah mencapai lebih dari 1 juta jiwa. Dominasi komunitas Muslim ini menjadikan Lingxia sebagai pusat pembelajaran Islam, kebudayaan, dan pertemuan para ulama di kawasan barat laut Tiongkok selama berabad-abad.

Ratusan masjid dengan arsitektur memukau berdiri megah di kota ini, memadukan keindahan seni Tiongkok kuno dengan gaya arsitektur Timur Tengah yang khas. Masjid-masjid tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol identitas dan rumah bagi tradisi Islam yang telah terpelihara selama ribuan tahun.

Fenomena Pasar Takjil Ramadan Terbesar Dunia

Ketika bulan suci Ramadan tiba, Lingxia berubah menjadi pusat perayaan keagamaan yang luar biasa. Di sinilah berdiri salah satu pasar takjil Ramadan terbesar di dunia—sebuah prestasi yang mencengangkan mengingat lokasi geografisnya.

Pemerintah setempat menyediakan area bazar yang mampu menampung ribuan tenda untuk menyambut bulan suci. Ruang luas ini menjadi destinasi utama bagi umat Muslim berburu hidangan berbuka puasa menjelang waktu maghrib.

Saat sore hari menjelang berbuka, ribuan orang memadati pasar ini. Aroma rempah yang menggugah selera menyeruak dari setiap sudut, dengan beragam kuliner khas yang ditawarkan. Mulai dari Lanzhou Lamian yang legendaris, sate domba bakar yang gurih, hingga berbagai hidangan tradisional etnis Hui lainnya disajikan dengan penuh kehangatan.

Pasar ini bukan sekadar tempat transaksi jual-beli, melainkan telah menjelma menjadi simbol ukhuwah Islamiyah di mana ribuan umat Muslim berkumpul dalam satu tujuan: merayakan dan mensyukuri kehadiran bulan suci Ramadan.

Jejak Sejarah Islam di Tiongkok

Perjalanan Islam di Tiongkok dimulai pada abad ke-7 Masehi, ketika para pedagang Arab dan Persia memperkenalkan agama ini selama masa Dinasti Tang (618-907 M). Islam awalnya menyebar di kalangan pedagang dan masyarakat pesisir.

Salah satu tokoh kunci dalam penyebaran Islam adalah Saad bin Abi Waqqas, salah satu sahabat utama Rasulullah SAW yang dikenal sebagai pemanah ulung dan panglima besar Islam. Pada tahun 651 M, beliau diutus Khalifah Utsman bin Affan untuk menghadap Kaisar Gaozong.

Setibanya di Tiongkok, Saad bin Abi Waqqas mendirikan Masjid Huaisheng di Guangzhou yang diklaim sebagai masjid tertua di daratan Tiongkok. Setelah wafat, beliau dimakamkan di kawasan Guihuagang, Guangzhou. Makamnya yang dikenal sebagai “Shrine of Islamic Sage” kini menjadi destinasi ziarah bagi Muslim dari berbagai penjuru dunia.

Perkembangan Islam mencapai puncaknya saat Dinasti Yuan berkuasa (1271-1368 M). Banyak pedagang dan pejabat Muslim yang bermukim di Tiongkok dan mendapat jabatan tinggi dalam pemerintahan serta perdagangan, sehingga Islam menyebar lebih luas ke seluruh wilayah.

Namun, setelah runtuhnya Dinasti Yuan dan digantikan Dinasti Ming serta Dinasti Qing, umat Muslim menghadapi kebijakan asimilasi yang ketat. Tokoh Muslim terkenal seperti Zheng He muncul pada masa ini, memimpin ekspedisi maritim besar dan membawa Islam ke berbagai wilayah Asia Tenggara dan Afrika.

Persebaran Komunitas Muslim Tiongkok

Saat ini, umat Muslim di Tiongkok tersebar di berbagai wilayah, termasuk Xinjiang, Ningxia, Gansu, Qinghai, Xi’an, dan Turpan. Xinjiang memiliki populasi Muslim terbesar dengan sekitar 13 juta jiwa, mayoritas berasal dari etnis Uighur, disusul kelompok minoritas seperti Kazakh dan Hui.

Urumqi, ibu kota Xinjiang, menjadi pusat budaya dan keagamaan Muslim di wilayah tersebut. Kota ini juga menjadi rumah bagi beberapa lembaga pendidikan Islam, termasuk Xinjiang Islamic Institute yang didirikan pada tahun 1987.

Institut ini menawarkan pendidikan komprehensif yang mencakup pembelajaran Al-Qur’an, bahasa Arab, serta pelatihan untuk menjadi imam atau khatib di masjid-masjid di seluruh Tiongkok. Fasilitas lengkap seperti kantin, masjid, perpustakaan, dan tempat olahraga juga tersedia.

Masjid-Masjid Bersejarah

Tiongkok memiliki sejumlah masjid bersejarah dengan arsitektur yang memukau. Di antaranya adalah Masjid Niujie di Beijing, salah satu masjid tertua di ibu kota yang mencerminkan perpaduan budaya Tiongkok dan Islam.

Masjid Agung Urumqi yang dibangun tahun 1919 mampu menampung lebih dari 1.000 jamaah. Sementara Masjid Agung Xi’an, yang dibangun pada masa Dinasti Tang tahun 742 M, merupakan salah satu masjid tertua dan terpenting di Tiongkok.

Merayakan Ramadan dan Idul Fitri

Suasana Ramadan di Tiongkok, khususnya di wilayah berpopulasi Muslim besar, dipenuhi keunikan dan semangat kebersamaan. Kegiatan sosial dan amal menjadi bagian penting, dengan banyak komunitas menggelar penggalangan dana dan distribusi makanan kepada yang membutuhkan.

Ceramah keagamaan dan pengajian Al-Qur’an rutin diadakan di masjid-masjid dan pusat komunitas. Durasi puasa di Tiongkok berkisar 14-16 jam setiap hari, tergantung waktu terbit dan terbenam matahari di masing-masing kota.

Pasar-pasar halal, terutama di Xinjiang, menjadi sangat ramai selama Ramadan. Bazar dipenuhi beragam makanan khas seperti daging panggang, mie tarik, kue-kue tradisional, dan hidangan khas Uighur lainnya yang menggugah selera.

Buka puasa bersama (iftar) menjadi momen paling dinantikan. Masjid-masjid dan komunitas Muslim sibuk mempersiapkan hidangan tradisional seperti nasi pilaf, kebab, sup, kurma, dan minuman khas Ramadan. Menjelang sore, umat Muslim berdatangan ke masjid atau pusat komunitas untuk iftar bersama.

Iftar juga menjadi ajang menunjukkan solidaritas sosial. Banyak masjid menyediakan makanan gratis untuk fakir miskin dan musafir. Setelah berbuka, jamaah melaksanakan salat Maghrib bersama, dilanjutkan Isya dan tarawih yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan.

Ketika Ramadan berakhir, gema takbir berkumandang di masjid-masjid. Ribuan umat Muslim melaksanakan salat Idul Fitri di berbagai lokasi, baik di masjid maupun lapangan terbuka. Momen ini menjadi puncak kebersamaan di mana komunitas Muslim bersatu dalam ibadah dan doa.

Tradisi saling memaafkan dan memberikan ucapan selamat Idul Fitri pun menjadi pemandangan yang mengharukan, menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan tetap hidup dan berkembang di tengah dinamika modernisasi Tiongkok.

Keberadaan lebih dari 30 juta umat Muslim di Tiongkok dengan tradisi keagamaan yang tetap terjaga menjadi bukti bahwa spiritualitas dan kemajuan dapat berjalan beriringan dalam harmoni.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________

🏮
🏮
🏮
🟢
🟢
🌙 Hitung Mundur Hari Raya Idul Fitri 1447 H
0
Hari
0
Jam
0
Menit
0
Detik
PUNGGAWANEWS.COM