Summarize the post with AI
JAKARTA, PUNGGAWANEWS — Sebuah temuan energi yang disebut berkelas dunia kembali mencatatkan namanya di peta migas Indonesia. Perusahaan energi asal Italia, ENI, berhasil mengkonfirmasi keberadaan cadangan gas dalam skala raksasa melalui pengeboran sumur eksplorasi Geliga-1 di Blok Ganal, yang terletak di perairan lepas pantai Kalimantan Timur.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengumumkan hasil eksplorasi tersebut dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 20 April 2025. Ia menyebut sumur Geliga-1 mengindikasikan potensi sumber daya gas mencapai sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf), disertai kandungan kondensat sebesar 300 juta barel — sebuah angka yang membuat temuan ini masuk kategori giant discovery dalam terminologi industri perminyakan global.
“Temuan ini berada di Wilayah Kerja Ganal yang dioperasikan ENI dengan porsi kepemilikan 82 persen, sementara 18 persen sisanya dimiliki Sinopec,” ujar Bahlil.
Sumur Geliga-1 dibor hingga kedalaman sekitar 5.100 meter di bawah permukaan laut, pada kedalaman air yang mencapai sekitar 2.000 meter — kondisi teknis yang menggambarkan betapa menantangnya operasi eksplorasi ini.
Penemuan ini bukan yang pertama bagi ENI di kawasan Cekungan Kutai. Sebelumnya, perusahaan yang sama telah mencatat dua keberhasilan eksplorasi di zona yang sama: penemuan cadangan besar di Geng North pada 2023, serta sumur Konta-1 yang berhasil dikonfirmasi pada 2025. Rentetan penemuan ini memperkuat pandangan bahwa Cekungan Kutai masih menyimpan potensi hidrokarbon yang jauh dari kata habis.
Bahlil memaparkan proyeksi produksi yang ambisius. Pada 2028, produksi ENI diperkirakan akan menyentuh puncaknya di angka 2.000 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), melonjak tajam dibandingkan kapasitas produksi saat ini yang berada di kisaran 600 hingga 700 MMSCFD. Angka itu bahkan akan terus didorong menuju 3.000 MMSCFD pada 2030.
Di sisi kondensat, produksi diproyeksikan mencapai sekitar 90.000 barel per hari pada 2028, dan berpotensi meningkat menjadi 150.000 barel per hari pada rentang 2029 hingga 2030 dari seluruh wilayah kerja yang dikelola ENI di Indonesia.
Dalam upaya monetisasi, ENI tengah mengevaluasi skema pengembangan yang akan diintegrasikan dengan proyek North Hub — sebuah inisiatif yang akan mengandalkan fasilitas produksi terapung baru bertipe Floating Production Storage and Offloading (FPSO) berkapasitas 1 miliar kaki kubik gas per hari dan 90.000 barel kondensat per hari. Proyek ini juga akan menyerap kapasitas fasilitas yang sudah beroperasi, termasuk Kilang LNG Bontang.
Pengembangan North Hub sendiri telah melewati tonggak penting setelah Final Investment Decision (FID) dijatuhkan untuk sejumlah proyek gas, yakni Gendalo dan Gandang yang masuk dalam South Hub, serta Geng North dan Gehem di bawah payung North Hub.
Selain Geliga, Bahlil turut menyinggung temuan sebelumnya di sumur Gula, yang menghasilkan estimasi sekitar 2 Tcf gas dan 75 juta barel kondensat. Secara kombinasi, kedua sumur tersebut diperkirakan mampu menyumbang tambahan produksi hingga 1.000 MMSCFD gas dan 90.000 barel kondensat per hari.
Bahlil menyatakan keyakinannya bahwa rangkaian penemuan ini selaras dengan strategi besar pemerintah menuju swasembada energi. Meningkatnya produksi gas domestik dinilai akan memperkuat ketahanan pasokan energi nasional, sementara lonjakan produksi kondensat diharapkan secara langsung menekan kebutuhan impor minyak mentah.
“Ini adalah hasil eksplorasi, dan setelah ini mereka juga akan melakukan pengembangan untuk mengeksplorasi beberapa wilayah lain selain Kalimantan Timur,” kata Bahlil.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.