PUNGGAWANEWS — Ia pernah merasakan punggungnya dipanggang di atas bara api membara hingga lemak tubuhnya meleleh dan memadamkan nyala api itu sendiri. Namun di penghujung hidupnya, lelaki itu justru menangis histeris bukan karena rasa sakit, melainkan karena ketakutan menyaksikan tumpukan harta yang memenuhi sudut-sudut rumahnya.
Itulah paradoks luar biasa yang menyelimuti perjalanan hidup Khabab bin Al-Arad, manusia keenam yang tercatat dalam sejarah sebagai pemeluk Islam pertama di muka bumi.
Dari Najd ke Pasar Budak Mekah
Khabab bukan putra asli Mekah. Ia lahir dari kabilah terhormat di Najd, kawasan pedalaman Jazirah Arab. Nasib buruk menghampirinya di masa kecil ketika sekelompok perampok menyerang dan menculiknya, lalu menjualnya di pasar budak Mekah. Ia kemudian jatuh ke tangan Ummu Anmar binti Saba dari Bani Khuzaah.
Di tangan majikan itulah Khabab tumbuh menjadi seorang pandai besi yang sangat terampil. Pedang-pedang buatannya menjadi incaran para pembesar Quraisy. Namun meski tangannya mampu menciptakan senjata berharga tinggi, tubuh dan jiwanya bukan miliknya sendiri.
Setiap hari ia menyaksikan manusia menyembah patung batu hasil pahatan tangan mereka sendiri. Akalnya yang jernih menolak kegilaan itu. Batinnya bergejolak. Ia merindukan cahaya di tengah pekatnya kejahiliyahan.
Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Kabar tentang seorang lelaki jujur dari Bani Hasyim yang menyerukan keesaan Allah sampai ke telinga Khabab. Ia mengenali sosok itu. Muhammad, lelaki yang tak pernah berdusta seumur hidupnya.
Sebelum fajar menyingsing, ketika para pembesar Quraisy masih terlelap, Khabab melangkahkan kaki menuju tempat Muhammad biasa menemui para pengikutnya. Ia datang bukan untuk percaya begitu saja. Sebagaimana seorang pandai besi yang terbiasa menguji kemurnian logam dengan api, ia ingin menguji kebenaran itu sendiri.
Di hadapan Rasulullah, Khabab merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: ketenangan yang merasuk hingga ke tulang. Ayat-ayat yang dibacakan bukan syair penyair biasa. Kata-kata itu menembus langsung ke dalam hatinya.
Khabab pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia menjadi orang keenam yang memeluk Islam, termasuk dalam golongan as-Sabiqun al-Awwalun, generasi pertama yang menjual dirinya kepada Allah dengan harga yang akan dibayar sangat mahal.
Punggung yang Dipanggang, Lisan yang Bertauhid
Berbeda dengan banyak sahabat yang menyembunyikan keimanan demi keselamatan, Khabab memilih terang-terangan. Ketika seorang pelanggan memintanya bersumpah demi Lata dan Uzza untuk menjamin kualitas pedang buatannya, ia menghentikan palunya.
“Aku tidak akan bersumpah demi batu yang tuli dan buta,” katanya. “Aku telah beriman kepada Allah yang satu.”
Kalimat itu menjadi pemicu badai. Berita sampai ke telinga Ummu Anmar. Bagi sang majikan, Khabab bukan manusia yang berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Ia hanyalah alat produksi.
Maka datanglah siksaan yang kelak dicatat sejarah dengan tinta darah. Ummu Anmar memerintahkan agar Khabab dibaringkan di atas bara api membara. Siba bin Abdil Uzza menginjak dadanya agar punggungnya terus menempel pada sumber panas. Tidak ada air yang disiramkan. Api itu padam dengan sendirinya, bukan karena belas kasihan para penyiksa, melainkan karena cairan dari lemak tubuh Khabab yang meleleh memadamkan nyala api.
Namun dari mulutnya yang tersiksa hanya terdengar satu kata: Ahad. Ahad. Ahad.
Menjadi Jembatan Hidayah Umar
Meski tersiksa, Khabab mengambil peran paling berbahaya di Mekah: mengajarkan Al-Qur’an secara diam-diam. Ia rutin mengunjungi rumah Said bin Zaid dan istrinya Fatimah, adik kandung dari Umar bin Khattab, sosok paling ditakuti di Mekah.
Suatu hari Umar mendatangi rumah adiknya dengan pedang terhunus. Khabab bersembunyi di balik tumpukan barang di sudut ruangan yang gelap. Dari persembunyiannya, ia menyaksikan momen bersejarah: Umar membaca lembaran surah Thaha yang tersimpan di sana, tangannya gemetar, matanya basah, wajah garangnya runtuh berganti kekhusyukan.
Khabab memberanikan diri keluar dari persembunyiannya. “Wahai Umar, bergembiralah. Tampaknya Allah memilihmu sebagai jawaban doa Rasulullah.”
Hari itu, Khabab menjadi perantara hidayah bagi salah satu manusia terpenting dalam sejarah Islam.
Kemenangan di Badar, Tangisan di Kufah
Setelah hijrah ke Madinah, Khabab merdeka sepenuhnya. Ia ikut dalam Perang Badar, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri para penyiksa yang dulu tertawa di atas penderitaannya kini tersungkur di medan laga.
Waktu terus berputar. Rasulullah wafat. Abu Bakar dan Umar menyusul. Islam meluas menaklukkan Persia dan Romawi. Harta rampasan perang mengalir deras ke rumah Khabab di Kufah. Lelaki yang dulu tak punya baju untuk menutupi punggungnya kini menyimpan sekitar 40.000 dirham.
Namun wajahnya tidak berseri. Justru sebaliknya.
Ia meletakkan seluruh hartanya di tempat terbuka, dapat diakses siapa saja yang membutuhkan tanpa perlu izin. Ia tidak mau harta itu menghisabnya di akhirat kelak.
Suatu hari ia mengambil selembar kain kafan yang halus, membelainya, lalu menangis tersedu-sedu. Ia teringat Mus’ab bin Umair yang gugur di Uhud dalam keadaan sangat miskin, bahkan tidak ada kain yang cukup untuk menutup seluruh jasadnya.
“Aku takut,” isak Khabab, “kalau-kalau kebaikan kami telah dipercepat balasannya di dunia ini.”
Bagi Khabab, kekayaan adalah ujian yang jauh lebih berat daripada besi panas Ummu Anmar.
Wasiat dari Tepi Ajal
Di usianya yang ke-73 tahun, sekitar tahun 37 Hijriah, penyakit parah menyerang tubuhnya. Ia menjalani pengobatan dengan sundutan besi panas di perut sebanyak tujuh kali. Besi dan api, dua hal yang tak pernah benar-benar meninggalkannya.
Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia berwasiat agar dimakamkan di luar kota Kufah, di tempat terbuka, agar kaum muslimin tidak takut pada kematian dan bisa mengikutinya membangun tradisi pemakaman di sana.
Khalifah Ali bin Abi Thalib yang baru kembali dari Perang Shiffin membelokkan kudanya begitu mendengar kabar wafatnya Khabab. Ia berdiri di sisi makam yang tanahnya masih merah basah.
“Rahimallahu Khabban,” ucap Ali. “Semoga Allah merahmati Khabab. Dia masuk Islam dengan penuh kesadaran, berhijrah dengan penuh ketaatan, dan hidup sebagai seorang mujahid. Sungguh Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.”
Khabab bin Al-Arad pergi tanpa membawa harta Kufah ke liang lahadnya. Yang ia bawa hanyalah bekas luka di punggung dan kalimat tauhid yang dulu ia pertahankan di atas bara api.
Di Bukit Tuawair, gundukan tanah sederhana itu menjadi penanda peristirahatan terakhir seseorang yang mengajarkan bahwa keimanan sejati bukan diukur dari seberapa banyak nikmat yang diterima, melainkan dari seberapa teguh seseorang bertahan ketika nikmat itu dicabut — dan justru lebih waspada ketika nikmat itu berlimpah ruah.





















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.