BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan petuah politik yang mengena di hadapan pengurus Partai Amanat Nasional — bahwa kesetiaan bukan kelemahan, melainkan jalan paling bermartabat menuju kekuasaan.

Pernyataan itu disampaikan Dedi dalam forum pelantikan pengurus DPW PAN Jawa Barat, di mana ia hadir bukan sekadar sebagai tamu kehormatan, melainkan sebagai gubernur yang secara terbuka menyatakan kedekatannya dengan partai berlambang matahari itu.

“Kalau kekuasaan bisa kita raih dengan kesetiaan dan cinta, kenapa kita harus melakukan pengingkaran dan pengkhianatan?” ujar Dedi, membuka pernyataannya dengan kalimat yang langsung menghunjam.

Dedi memuji konsistensi PAN dalam mendukung Presiden Prabowo Subianto. Baginya, kesetiaan yang ditunjukkan PAN bukan sekadar loyalitas partai biasa, melainkan bukti integritas ideologis yang langka di tengah iklim politik yang kerap pragmatis.

Ia menyebut banyak politisi yang menganggap pengingkaran sebagai strategi yang sah untuk merebut kekuasaan. Pandangan semacam itu, menurut Dedi, justru menghancurkan kepercayaan publik dalam jangka panjang.

“Kesetiaan akan melahirkan legasi ideologi yang akhirnya akan meraih kekuasaan dengan jalan cinta, bukan dengan jalan pengingkaran,” tegasnya.

Dedi tidak hanya berbicara soal PAN secara kelembagaan. Ia juga menyoroti figur-figur di dalamnya satu per satu dengan gaya tutur yang akrab dan segar — mulai dari Ketua Umum Zulkifli Hasan yang disebutnya berhasil mengubah PAN dari partai eksklusif menjadi inklusif, hingga Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto yang disebutnya “tidak berlari dari kenyataan.”

Tak ketinggalan, Sekretaris Jenderal PAN Eko Patrio turut mendapat perhatian. Dedi menyindirnya dengan penuh humor: “Kenapa ada sekretaris dan ada jenderal di dalamnya?” — sebuah candaan yang disambut tawa hadirin namun tetap menyiratkan penghormatan tulus.

Kepada jajaran anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi PAN, Dedi memberikan apresiasi khusus. Ia mengakui bahwa kerja politiknya di Jawa Barat berjalan relatif efektif karena para legislator PAN memahami cara berpikirnya yang tidak konvensional.

“Tidak ada kalimat APBD, tidak ada kalimat tidak ada, tidak ada kalimat tidak bisa,” katanya, merujuk pada filosofi yang juga ia nisbatkan kepada Zulkifli Hasan — bahwa kalimat “tidak bisa” bertentangan dengan tauhid.

Di satu titik, Dedi menarik analogi yang dalam dari simbol matahari — ikon PAN. Dalam ideologi Sunda, matahari adalah bagian dari konsep ketuhanan yang mencakup empat unsur: tanah, air, udara, dan matahari. Keempat unsur ini dikenal sebagai papat kalima pancer atau papat kalima tunggal dalam filsafat Sunda.

“Ciri dari matahari itu setia. Dia terbit di sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat,” ujar Dedi. “Dan ancaman kiamat itu akan terjadi manakala matahari sudah terbit di sebelah barat.”

Analogi itu bukan sekadar puitis. Dedi menjadikannya sebagai pesan tegas: selama PAN setia pada janjinya kepada rakyat dan konsisten pada sumpahnya, Indonesia masih berada di jalur menuju kejayaan.

Bicara soal kepemimpinan, Dedi mengutip ungkapan Sunda yang menurutnya menjadi kompas hidupnya: kaluhur sirungan, kahandap akaran — ke atas berdaun, ke bawah berakar. Seorang pemimpin harus mampu berbicara dengan para akademisi dan elit, tetapi sekaligus memiliki akar kerakyatan yang kokoh dan tidak mudah goyah oleh hembusan angin kepentingan.

“Dekat dengan elit untuk kepentingan rakyat. Itu prinsipnya,” tegasnya singkat.

Dalam forum itu pula, Dedi menegaskan posisinya sebagai gubernur yang tidak mewakili satu partai. Ia justru memilih untuk menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang bisa hidup berdampingan dengan siapa pun, selama memiliki tekad yang sama: mewujudkan Jawa Barat yang gemah ripah repeh rapi — sejahtera, aman, dan harmonis.

Pesan itu terasa relevan di tengah dinamika politik nasional yang kerap diwarnai manuver dan koalisi yang bergeser-geser. Dedi seolah ingin menunjukkan bahwa ada cara lain berpolitik — cara yang tidak membutuhkan pengkhianatan untuk sampai ke puncak.

PAN sendiri, menurut Dedi, adalah salah satu partai langka yang masih memiliki basis ideologis di tengah derasnya arus pragmatisme politik. Namun ideologi itu, menurutnya, bukan kebekuan.

“Ideologis itu cuma satu: kukuh pada kebenaran, setia pada janji. Itulah ideologis yang sebenarnya,” pungkasnya.

Dedi menutup sambutannya dengan menyampaikan keyakinan bahwa PAN akan terus tumbuh — bertambah kursi di DPRD kabupaten, provinsi, hingga DPR RI. Sebuah optimisme yang ia tawarkan bukan sebagai basa-basi, melainkan sebagai bentuk komitmen untuk terus berjalan bersama keluarga besar PAN dalam menyapa dan melayani rakyat Jawa Barat.

FAQ

Apa pesan utama Dedi Mulyadi dalam pidatonya di hadapan pengurus PAN Jawa Barat?

Dedi menekankan bahwa kekuasaan sejati hanya bisa diraih melalui kesetiaan dan cinta kepada rakyat, bukan melalui pengingkaran atau pengkhianatan. Ia juga memuji konsistensi PAN dalam mendukung Presiden Prabowo Subianto sebagai contoh nyata kesetiaan berpolitik.

Mengapa Dedi Mulyadi menggunakan simbol matahari dalam pidatonya?

Matahari adalah simbol PAN sekaligus bagian dari filosofi Sunda tentang ketuhanan. Dedi menggunakannya untuk menggambarkan bahwa kesetiaan adalah sifat dasar matahari — selalu terbit dari timur dan tenggelam di barat — dan PAN harus mempertahankan konsistensi itu dalam berpolitik.

Bagaimana Dedi Mulyadi memandang hubungannya dengan Fraksi PAN di DPRD Jawa Barat?

Dedi mengakui memiliki hubungan emosional yang kuat dengan anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi PAN. Menurutnya, para legislator PAN memahami cara berpikirnya yang out of the box, sehingga kerja politik di Jawa Barat berjalan relatif efektif tanpa tekanan yang tidak perlu.