Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS — Di antara ribuan sahabat Nabi Muhammad SAW, ada satu nama yang nyaris tenggelam dalam lipatan sejarah. Bukan karena kisahnya tidak bermakna, melainkan justru sebaliknya: hidupnya terlalu bersahaja untuk diperhatikan oleh mereka yang silau oleh harta dan nasab. Dialah Julaibib, seorang sahabat yang tubuhnya pendek, kulitnya gelap, punggungnya sedikit membungkuk, dan asal-usulnya tidak diketahui seorang pun — bahkan oleh dirinya sendiri.

Di Madinah kala itu, Julaibib bukan sekadar miskin. Ia tidak memiliki rumah, tidak memiliki keluarga, dan tidak memiliki tempat bersandar. Sebagian penduduk kota menjulukinya “lelaki buruk rupa.” Seorang kepala suku bernama Abu Barzah bahkan secara terang-terangan melarang Julaibib masuk ke wilayah dan kelompoknya. Pengucilan itu bukan hanya menyakitkan — ia berlangsung tanpa rasa bersalah, seolah Julaibib memang tidak layak mendapat tempat di antara manusia.

Namun Rasulullah SAW melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Di balik rupa yang tidak memukau dan nasib yang tidak berpihak, beliau menyaksikan iman yang kokoh, hati yang bersih, dan jiwa yang tulus. Karena itulah Rasulullah tidak sekadar menyayangi Julaibib — beliau turun tangan langsung mengurus masa depannya.

Suatu hari, usai shalat, Rasulullah SAW memanggil Julaibib dan bertanya apakah ia ingin menikah. Julaibib terdiam, lalu menjawab dengan nada rendah hati yang menyayat: siapa gerangan yang sudi menikahkan putrinya dengan seseorang seperti dirinya? Rasulullah tersenyum dan memintanya untuk tenang — Allah pasti menyiapkan yang terbaik.



Follow Widget