Summarize the post with AI
Yang menarik, seluruh proses memasak melibatkan warga setempat, bukan jasa katering. Pengurus masjid menjelaskan, “Kami bisa saja menyewa jasa katering yang mungkin lebih hemat, tapi kami ingin masjid berkontribusi menghidupkan ekonomi jamaah. Yang memasak adalah jamaah kami sendiri.”
Dengan demikian, dalam sepiring hidangan buka basamo tersimpan semangat gotong royong, rasa syukur, dan komitmen masyarakat Minang untuk memelihara silaturahmi di bulan penuh berkah. Tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap relevan di tengah perkembangan zaman.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.