Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, JAKARTA – Dalam peringatan Nuzulul Quran yang dihadiri Presiden dan Wakil Presiden, pakar tafsir terkemuka Indonesia Prof. Dr. H. Muhammad Quraish Shihab menyampaikan refleksi mendalam tentang kehadiran Al-Quran sebagai rahmat bagi alam semesta, menekankan pentingnya mewujudkan kedamaian yang berkeadilan di tengah keberagaman bangsa.
Kesempurnaan Al-Quran dalam Keseimbangan Bahasa
Ulama kelahiran Rappang, Sulawesi Selatan ini mengungkapkan keajaiban Al-Quran yang tersembunyi dalam struktur bahasanya. “Al-Quran menunjukkan kesempurnaan luar biasa dalam pemilihan kata-katanya. Kata ‘yaum’ (hari) terulang tepat 365 kali sesuai jumlah hari dalam setahun, kata ‘bulan’ muncul 12 kali, dan ‘hari-hari’ dalam bentuk jamak terulang 30 kali,” ungkap Quraish Shihab di hadapan para hadirin.
Lebih mengejutkan lagi, kata-kata yang berlawanan makna dalam Al-Quran memiliki frekuensi kemunculan yang seimbang. Kata “panas” setara dengan “dingin”, “iman” seimbang dengan “kufur”, dan “kebaikan” setara dengan “keburukan”.
“Padahal Al-Quran seringkali turun secara mendadak tanpa Nabi Muhammad menanti-nantinya. Keseimbangan ini membuktikan Al-Quran bukanlah ciptaan manusia,” tegasnya.
Filosofi Keseimbangan dalam Kehidupan
Profesor penulis Tafsir Al-Misbah ini menjelaskan bahwa keseimbangan linguistik Al-Quran bukan sekadar kebetulan, melainkan mengandung pesan filosofis mendalam untuk diterapkan dalam kehidupan.
“Allah menciptakan alam semesta dengan prinsip keseimbangan. Matahari dan bulan bergerak dengan perhitungan yang sangat presisi. Bulan menerima cahaya matahari dan memantulkannya ke bumi sebanyak yang diterimanya. Bisakah kita meniru bulan? Sebanyak yang kita terima, sebanyak itu pula kita memberi,” ujar Quraish Shihab menganalogikan.
Manusia, lanjutnya, diciptakan dengan keseimbangan jasmani dan rohani. “Kita harus menjaga keseimbangan antara jasmani dan rohani, antara dunia dan akhirat, dalam segala aspek kehidupan kita,” pesannya.
Perbedaan Bukan Berarti Pertentangan
Menyinggung perbedaan penetapan awal Ramadan dan Idul Fitri yang kerap terjadi di Indonesia, Quraish Shihab memberikan pencerahan dari ayat Al-Quran tentang kewajiban puasa.
“Dalam ayat ‘faman syahida minkumus syahra falyasumhu’, terkandung minimal dua makna. Pertama, siapa yang hadir di domisilinya dan melihat bulan dengan mata kepala, hendaklah berpuasa. Kedua, siapa yang menyaksikan bulan melalui pengetahuan, hendaklah berpuasa,” jelasnya.
Kedua penafsiran ini sama-sama benar menurut Quraish Shihab. “Allah mengajarkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan, tetapi perbedaan tidak harus menimbulkan pertentangan. Ini sejalan dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika,” katanya menegaskan.
Kedamaian sebagai Misi Utama Al-Quran
Pakar tafsir yang juga mantan Duta Besar RI untuk Mesir ini menggarisbawahi bahwa Al-Quran diturunkan pada malam Lailatul Qadar yang dilukiskan sebagai “salamun hiya hatta matla’il fajr” – kedamaian hingga terbit fajar.
“Fajar di sini bukan sekadar fajar esok hari, tetapi fajar kehidupan kita di hari kemudian. Al-Quran menuntun kita kepada kedamaian abadi,” jelasnya.
Quraish Shihab mengutip ayat yang menyatakan bahwa jika musuh mengajak berdamai, maka terimalah perdamaian itu meski ada kekhawatiran akan penipuan. “Ini menunjukkan betapa pentingnya perdamaian dalam pandangan Al-Quran,” ujarnya.
Kedamaian, menurutnya, bermula dari jiwa individu kemudian meluas ke masyarakat dan dunia. “Kedamaian adalah penengah antara cinta dan benci. Karena itu, ucapan salam hendaknya diberikan kepada siapa saja, yang kita kenal maupun tidak,” katanya mengutip sabda Nabi.
Jalan-jalan Kedamaian Menuju Jalan Lurus
Mengutip ayat “yahdi bihillahu man ittaba’a ridwanahu subulas salami”, Quraish Shihab menjelaskan bahwa Allah memberi petunjuk ke berbagai jalan kedamaian yang semuanya bermuara pada shirathal mustaqim (jalan yang lurus).
“Allah tidak melarang kita berkelompok. Yang dilarang adalah berkelompok sambil berpecah belah. Kelompok-kelompok yang mengikuti jalan kedamaian akan diantar Allah ke shirathal mustaqim – jalan tol yang lebar dan bebas hambatan, di mana semua dapat berjalan tanpa bersenggolan karena bertujuan sama,” paparnya dengan analogi yang mudah dipahami.
Pengorbanan Demi Persatuan: Teladan Rasulullah dan Pendiri Bangsa
Quraish Shihab mengingatkan bahwa mewujudkan perdamaian memerlukan pengorbanan. Ia mengambil contoh Perjanjian Hudaibiyah, di mana Rasulullah rela menghapus tujuh kata penting dari naskah perjanjian demi tercapainya perdamaian.
“Bismillahirrahmanirrahim diminta dihapus karena kaum musyrik tidak mengenal Arrahman dan Arrahim. Kalimat ‘Muhammad Rasulullah’ juga dihapus karena mereka tidak mengakui beliau sebagai rasul. Demi perdamaian, Rasulullah bersedia menghapus tujuh kata yang sangat penting itu,” kisahnya.
Quraish Shihab kemudian menarik paralel dengan sejarah Indonesia. “Tujuh kata serupa pernah dihapus oleh pendiri bangsa dari Piagam Jakarta – ‘dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’. Ini dihapus demi perdamaian dan persatuan. Itulah tuntunan Al-Quran yang diajarkan kepada kita,” jelasnya.
Keadilan yang Memihak Kepada yang Benar
Meski menekankan perdamaian, Quraish Shihab memperingatkan agar tidak mengorbankan keadilan. “Kita ingin damai, tetapi keadilan pun harus tetap ditegakkan. Al-Quran berpesan: jangan sampai kebencianmu kepada suatu kaum menjadikan engkau tidak berlaku adil,” katanya.
Ia mengutip sambutan Khalifah Abu Bakar saat pelantikan yang relevan dengan situasi saat ini: “Yang kuat di antara kalian adalah lemah di sisiku sampai aku mencabut hak orang lain yang diambilnya. Yang lemah adalah kuat di sisiku sampai aku mengembalikan haknya yang diambil oleh yang kalian sebut kuat.”
“Bapak Presiden, jika prinsip ini diterapkan, keadilan dan kedamaian akan tercapai. Niat memberantas korupsi dapat dilakukan dengan adil melalui pemahaman Khalifah Abu Bakar ini,” pesannya langsung kepada Presiden yang hadir.
Doa untuk Pemimpin Bangsa
Quraish Shihab menutup ceramahnya dengan doa khusus untuk Presiden, mengutip doa gurunya, Syekh Mutawalli Sya’rawi, untuk Presiden Mesir.
“Semua kekuatan bersumber dari Allah. Jika Yang Mulia memegang posisi ini karena takdir untuk menegakkan keadilan dan perdamaian, maka kami akan berdoa agar Yang Mulia ditolong oleh Tuhan, dan kami akan membantu,” doanya.
Acara ditutup dengan doa bersama menggunakan doa yang diajarkan Nabi Muhammad: “Ya Allah, Engkaulah sumber kedamaian. Dari-Mu datanglah kedamaian. Kepada-Mu kedamaian kembali. Ya Allah, hidupkan kami dalam kedamaian dan masukkan kami ke surga-Mu yang penuh kedamaian.”
Peringatan Nuzulul Quran tahun ini menjadi momentum penting untuk kembali merenungkan nilai-nilai Al-Quran tentang keseimbangan, toleransi, perdamaian, dan keadilan di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.