Summarize the post with AI
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengungkapkan bahwa volume sampah yang dihasilkan Kota Makassar saat ini berkisar 800 ton per hari, dengan potensi yang masih bisa dimaksimalkan. Di luar itu, akan ada tambahan pasokan sampah dari Kabupaten Gowa sebesar 150 ton per hari dan Kabupaten Maros sebesar 50 ton per hari. Namun demikian, ia mengakui bahwa kapasitas angkut yang dimiliki Pemerintah Kota Makassar saat ini baru mencapai sekitar 67 persen dari kebutuhan ideal, sehingga penguatan armada pengangkutan menjadi agenda mendesak yang harus segera dituntaskan.
Munafri memastikan bahwa seluruh persyaratan teknis akan dipenuhi secara optimal guna menjadikan kawasan TPA Tamangapa sebagai lokasi yang layak dan bersertifikasi untuk berdirinya pembangkit listrik berbasis sampah tersebut. Sebagai langkah konkret, lahan seluas kurang lebih tujuh hektar telah disiapkan sebagai tapak pembangunan PSEL, yang ke depannya juga akan berfungsi sebagai pusat pengelolaan sampah secara terpadu atau aglomerasi bagi wilayah Maros dan Gowa.
Dari sisi pembiayaan, proyek ambisius ini didukung investasi senilai Rp 3 triliun yang akan dikelola bersama antara pemenang tender dan Danantara. Kehadiran Danantara dalam skema ini bukan tanpa peran strategis — lembaga tersebut akan menanggung subsidi biaya listrik sebesar sekitar 20 sen per KWH, guna menjaga agar tarif energi yang dihasilkan tetap kompetitif dan terjangkau.
Lebih jauh, Wali Kota Makassar menyebutkan bahwa sekitar 20 hingga 25 persen dari total sampah yang tersimpan di TPA Tamangapa masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku tambahan, sehingga pasokan untuk operasional PSEL ke depannya diprediksi akan terus terjaga. Proyek ini menjadi salah satu langkah nyata dalam mewujudkan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan sekaligus mendukung ketahanan energi di kawasan timur Indonesia.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.