Summarize the post with AI
Ia menemukannya — tubuh penuh darah, namun masih bernyawa. Dengan senyum yang sama seperti dalam tidurnya, pemuda itu meminta Abu Qudamah untuk menyampaikan salam kepada sang ibu dan mengabarkan bahwa impian sang ibu telah terkabul: ia akan menyusul ayahnya sebagai syahid.
Kemudian, dengan suara yang melemah, pemuda itu berkata sesuatu yang membuat Abu Qudamah merinding: bidadari yang ia jumpai dalam mimpi kini hadir di sisinya, tersenyum, menunggu rohnya keluar untuk dibawa ke surga.
Tak lama kemudian, pemuda berusia 17 tahun itu pun menghembuskan nafas terakhirnya — dalam keadaan tersenyum.
Abu Qudamah menangis. Ia mengakui tak mampu menahan air matanya menyaksikan keagungan iman ibu dan anak tersebut.
Kabar Gembira untuk Sang Ibu
Sepulang dari medan perang, alih-alih langsung menuju rumahnya sendiri, Abu Qudamah justru langsung mencari rumah sang ibu. Ketika pintu dibuka dan wanita itu melihatnya, ia langsung bertanya dengan tenang namun penuh makna: “Wahai Abu Qudamah, apakah engkau datang untuk berbelasungkawa, atau membawa kabar gembira?”


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.