Merespons realitas tersebut, pemerintah menggandakan kapasitas Sekolah Rakyat secara signifikan. Kuota peserta didik yang semula hanya di atas 15 ribu siswa kini ditingkatkan tiga kali lipat menjadi 45 ribu siswa pada tahun ini.
Namun Agus sendiri mengakui, angka itu masih jauh dari cukup. “Kita baru bisa menyerap 45.000 anak dari sekitar 4 juta yang belum bersekolah. Ini menjadi motivasi kita bersama untuk terus memperluas jangkauan,” tegasnya.
Kementerian Sosial pun tak menunggu anak-anak datang sendiri ke pintu sekolah. Langkah proaktif dilakukan dengan menjemput langsung anak-anak usia sekolah yang tidak lagi mengenyam pendidikan, termasuk di kawasan Jakarta, untuk kemudian ditempatkan di 10 titik lokasi Sekolah Rakyat yang baru dibuka.
Agus menekankan, manfaat program ini tidak berhenti pada diri sang anak. Ia meyakini perubahan yang terjadi akan merambat ke seluruh ekosistem keluarga. “Sekolah Rakyat tidak hanya mengubah satu anak, tetapi memulihkan harapan satu keluarga. Dari yang sebelumnya tidak punya harapan, kini mereka memiliki masa depan,” ujarnya.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.