BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS, Di antara deretan para nabi yang Allah utus ke muka bumi, nama Ayub ‘alaihissalam berdiri kokoh sebagai simbol keteguhan yang melampaui batas nalar manusia biasa. Beliau adalah nabi ke-12 dalam silsilah kenabian, sosok yang hidupnya seolah menjadi cermin sempurna tentang bagaimana seorang hamba seharusnya berdiri di hadapan ujian terberat sekalipun.

Sebelum badai cobaan itu datang, kehidupan Nabi Ayub adalah gambaran kenikmatan yang paripurna. Allah menganugerahinya rupa yang tampan, tubuh yang tegap, dan kulit yang bersih bercahaya. Istrinya, Rahmah — yang diriwayatkan sebagai cucu dari Nabi Yusuf ‘alaihissalam — adalah wanita yang cantik dan salihah, menjadi permata pendamping hidup sang nabi.

Dari pernikahan yang penuh berkah itu, lahirlah dua belas putra yang semuanya mewarisi ketampanan dan kecerdasan ayah mereka. Belum lagi hamparan harta yang membentang luas: ladang-ladang subur, peternakan yang melimpah, dan kekayaan yang menjadikan beliau orang paling berada di seluruh wilayahnya. Sungguh, setiap sudut kehidupan Nabi Ayub ketika itu seakan dihiasi cahaya kemurahan Allah yang tak putus-putusnya.

Namun di sinilah kisah ini mulai mengguncang hati.

Iblis, makhluk yang tak pernah berhenti mencari celah untuk menggoyahkan keimanan manusia, menghadap kepada Allah dengan sebuah tuduhan yang terselubung keangkuhan. Ia berkata bahwa ketakwaan Nabi Ayub tak lain hanyalah buah dari kemewahan yang Allah curahkan padanya. Seolah berkata, “Tentu mudah bersyukur ketika segalanya ada.” Allah pun — bukan karena iblis mampu memaksa-Nya, melainkan sebagai kehendak-Nya yang penuh hikmah — mengizinkan ujian itu ditimpakan agar kebenaran sebuah keimanan terbukti bukan hanya di saat lapang, tetapi juga di saat sempit yang paling gelap sekalipun.

Ujian itu datang tidak setengah-setengah.

Dalam satu hari, seluruh harta benda Nabi Ayub lenyap tak berbekas. Peternakan dan perkebunannya habis dalam sekejap. Belum sempat hati berdamai, hari berikutnya musibah susulan menyapu bersih apa yang tersisa. Dan puncak dari segalanya, kedua belas putranya yang menjadi cahaya mata itu meninggal serentak ketika sebuah bangunan roboh menimpa mereka saat mereka sedang berkumpul. Belum usai duka itu mengendap, Allah menguji pula raga Nabi Ayub dengan penyakit kulit yang dahsyat — seluruh tubuh beliau menjadi medan bagi penyakit itu, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yang tersisa hanya lisan yang tak henti berzikir dan hati yang tetap terpaut kepada Allah.

Orang-orang pun mulai menjauhi beliau. Masyarakat yang dulu menghormatinya kini ngeri berdekatan. Teman-teman menghilang satu per satu. Hanya tiga sosok yang masih bertahan: sang istri yang setia, dan dua orang saudara yang sesekali masih datang menengok.

Rahmah, sang istri, menjadi pahlawan diam dalam episode panjang ini. Ia yang mengurus suaminya dalam kondisi paling berat, ia yang memandikan, ia yang menemani malam-malam panjang penuh penderitaan. Ketika kebutuhan akan makanan yang lebih layak mendesak, ia pun turun tangan bekerja — bahkan sempat menjadi pembantu di rumah-rumah orang yang dahulunya adalah jemaah dakwah suaminya sendiri. Tapi pintu itu pun ditutup, karena mereka khawatir tertular penyakit. Tak kehabisan akal, Rahmah akhirnya menjual rambutnya demi mendapatkan uang untuk membeli makanan yang lebih bergizi bagi suaminya.

Ketika Nabi Ayub mendapati makanan yang tak biasa itu dan bertanya dari mana asalnya, sang istri pun mengaku. Nabi Ayub membuka jilbab istrinya, dan tampaklah kepala yang kini tanpa rambut. Di saat itulah beliau bersumpah, dalam riwayat yang lain dipicu pula oleh kekecewaan saat istrinya mengizinkan seseorang yang ternyata jelmaan iblis untuk masuk dengan dalih membawa obat. Sumpah itu terucap: akan mencambuk istrinya sebanyak seratus kali.

Waktu pun terus berjalan. Delapan belas tahun berlalu dalam ujian itu — delapan belas tahun yang berbanding dengan dua puluh tahun kenikmatan sebelumnya. Suatu hari ketika istrinya pergi meninggalkan beliau untuk sesaat, Nabi Ayub yang biasanya diurus sampai hal paling kecil pun kini sendirian. Bukan itu yang membuat beliau akhirnya memanjatkan doa. Bukan karena tak tahan. Melainkan karena adab seorang hamba yang luar biasa kepada Tuhannya.

Beliau tidak berteriak meminta dibebaskan. Tidak memprotes langit. Hanya dengan kelembutan yang menyentuh lubuk hati, beliau berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, sedangkan Engkau adalah Zat Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.”

Itulah doanya. Bukan tuntutan. Bukan keluhan yang meledak-ledak. Hanya sebuah pengakuan yang tenang: aku sedang menderita, dan Engkau Maha Tahu. Seolah beliau berkata dalam diam, “Jika Engkau mau menyembuhkan, sembuhkanlah. Jika belum, aku tetap di sini bersamamu, ya Allah.”

Allah pun menjawab doa yang penuh adab itu dengan cara yang tak kalah indahnya. Diperintahkan kepada Nabi Ayub untuk menghentakkan kakinya ke tanah, dan dari sana memancar mata air yang sejuk — air untuk mandi dan minum. Seketika itu juga, setelah beliau menyentuh air tersebut, seluruh penyakit yang bersarang belasan tahun di tubuhnya lenyap tanpa sisa. Bahkan lebih dari sekadar pulih — beliau tampil lebih tampan, lebih segar, lebih bercahaya dibanding dua puluh tahun silam sebelum ujian itu datang.

Saat istrinya kembali dan masuk ke dalam rumah, ia melihat sosok yang asing baginya. Ia bertanya kepada lelaki tampan itu, “Wahai hamba Allah, di mana suamiku yang sedang sakit?” Nabi Ayub tersenyum dan menjawab dengan tenang, “Ini aku, Ayub.” Rahmah pun jatuh dalam takjub yang dalam, hanya mampu mengucap, “Maha Suci Allah yang telah melakukan ini semua.”

Dan Allah tidak berhenti di situ. Seluruh yang pernah diambil, dikembalikan. Harta berlimpah kembali mengalir — diriwayatkan bahwa ladang yang dulu tandus dipenuhi kepingan-kepingan emas yang berjatuhan seperti belalang. Keturunannya pun dikembalikan bahkan dilipat-gandakan. Dua belas anak yang telah pergi, digantikan dengan jumlah yang berlipat — ada yang menyebut dua puluh empat hingga dua puluh enam orang anak. Semua itu terjadi bukan dalam hitungan tahun, melainkan dalam hitungan hari setelah doa dipanjatkan.

Lalu apa yang bisa kita petik dari kisah yang luar biasa ini, khususnya di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini?

Pertama, sabar bukan berarti diam dan pasrah tanpa usaha. Nabi Ayub tetap berobat, tetap berikhtiar. Kesabaran beliau bukan kelemahan, melainkan kekokohan jiwa yang menerima ketetapan Allah sambil terus bergerak mencari jalan keluarnya. Sabar yang sesungguhnya adalah perpaduan antara menerima dan berusaha — bukan salah satu saja.

Kedua, adab kepada Allah jauh lebih penting daripada sekadar doa yang panjang. Nabi Ayub tidak menumpahkan keluhan bertahun-tahun dalam satu kalimat protes. Ia memilih kalimat yang santun, yang penuh pengakuan akan kebesaran Allah. Dan Allah mendengar bukan karena panjangnya doa, melainkan karena dalamnya ketulusan.

Ketiga, kesabaran yang utuh dan tidak terputus di tengah jalan akan melahirkan balasan yang tak terhingga. Beda antara sabar sampai akhir dan sabar yang tanggal di tengah jalan adalah beda antara mendapatkan segalanya atau kehilangan sebagian dari janji-Nya.

Dan keempat, dalam setiap ujian yang menghimpit, ingatlah bahwa Allah tidak pernah lupa kepada hamba-Nya yang bertahan. Semakin berat ujian yang kita tanggung, semakin besar pula kasih sayang-Nya yang sedang disiapkan untuk kita.

Ramadhan adalah waktu terbaik untuk merenungkan kisah ini. Di saat kita sedang menahan lapar dan dahaga, di saat kita sedang berjuang melawan kelemahan diri, bayangkan Nabi Ayub yang delapan belas tahun menahan sesuatu yang jauh lebih berat — dan beliau tetap tersenyum kepada Tuhannya.

Innahu wajadnahu shobiro. Ni’mal ‘abdu, innahu awwab.

“Sesungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba, dan sungguh ia adalah seorang yang sangat kembali kepada Tuhannya.” (QS. Shad: 44)

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________