Summarize the post with AI
Setelah lulus SMA, Dedi mencoba mendaftar ke Akademi Militer, mengikuti jejak sang ayah yang ia kagumi. Namun tubuhnya yang hanya berbobot 46 kilogram — jauh di bawah batas minimal 55 kilogram — membuatnya gugur. Ia mencoba lagi lewat jalur Sekolah Calon Bintara, tetapi nasib yang sama kembali menghampiri. Pintu militer tertutup rapat.
Ia kemudian diterima di jurusan hukum lewat jalur UMPTN, tetapi bahkan untuk mendaftar ulang pun ia tidak punya dana. Namanya tercantum di koran sebagai peserta yang lolos, tapi ia hanya bisa menatapnya dari jauh. Dedi kemudian merantau ke Purwakarta, menumpang di rumah kontrakan kakaknya yang penghasilannya hanya tersisa Rp10.000 sebulan setelah potongan bank. Mereka makan gudeg dengan tulang — bukan daging — yang dipanaskan ulang selama dua minggu. Dedi tidur di lantai tanpa bantal.
Di tengah himpitan itu, ia nekat mendaftar kuliah hukum di Purwakarta secara spekulasi. Untuk bertahan hidup, ia berjualan gorengan bala-bala di kampus selama hampir dua tahun. Teman-temannya tahu, dan ia tidak menyembunyikannya meski rasa malu sempat menyergap. Malam hari, ia dan seorang kawannya berjalan kaki pulang dari kampus — berharap diajak mampir makan bakso oleh kenalan, sebuah strategi kecil demi mengganjal perut tanpa biaya. Pernah suatu ketika ia tidak makan selama tiga hari penuh.
Aktif di organisasi mahasiswa — HMI dan Senat Mahasiswa — justru membuka jalan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Setelah kuliah, ia terjun ke dunia usaha sebagai pedagang beras, mengumpulkan modal, lalu memberanikan diri mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Purwakarta. Ia menang. Di DPRD, ia dikenal rajin dan produktif — datang pukul lima pagi, menyusun konsep dan pandangan yang bahkan menjadi sumber gagasan bagi pemerintah daerah.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.