PUNGGAWANEWS, ACEH – Banjir besar yang melanda tiga wilayah di Sumatera—Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh—menjadi bencana terbesar tahun ini di Indonesia. Dampak yang ditimbulkan sangat luar biasa, menyebabkan ratusan korban jiwa—terkini mencapai 961 orang meninggal menurut BNPB—dan jutaan orang mengungsi karena tempat tinggal mereka hancur tersapu lumpur dan air bah.
Di tengah situasi darurat ini, muncul aksi-aksi kemanusiaan yang tulus dan heroik dari para relawan Indonesia, yang kini mendapat sorotan dan pujian dari dunia internasional. Para relawan ini bergerak cepat memberikan bantuan berupa makanan, obat-obatan, hingga tenaga, bahkan dengan bertaruh nyawa di lapangan.
Tantangan dan Taruhan Nyawa Para Relawan
Para relawan menghadapi kesulitan luar biasa. Tim medis, misalnya, menemukan rumah sakit dan obat-obatan yang menjadi akses vital telah tersapu banjir, membuat mereka kesulitan merawat korban. Salah seorang relawan bahkan mengungkapkan kesedihannya melihat kondisi lumpuh total di wilayah Aceh Tamiang.
Akses menuju lokasi bencana juga banyak yang terputus akibat banjir dan tanah longsor, seperti yang dijelaskan oleh Najwa Shihab saat meliput langsung. Meskipun demikian, para relawan menunjukkan aksi nekat demi menyelamatkan korban. Mereka rela menantang derasnya arus sungai, menyeberangkan anak-anak melintasi sungai hanya dengan tali, atau berjuang mengevakuasi korban melalui jalanan yang dipenuhi lumpur tebal akibat efek gabungan banjir dan longsor. Di lokasi terdampak parah seperti Tamiang, yang dekat dengan perkebunan sawit, wilayah tersebut bahkan berubah menjadi seperti kota mati yang gelap gulita di malam hari.
Air Mata Gubernur Aceh dan Bantuan Asing
Ketika para relawan berjuang mempertaruhkan nyawa, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, mengungkapkan kesedihan mendalam dan kekecewaannya terhadap keputusan pemerintah pusat yang belum mau menetapkan bencana Sumatera sebagai bencana nasional.
Gubernur Aceh juga kecewa lantaran pemerintah Indonesia masih enggan menerima bantuan dari negara asing. Dalam wawancara dengan Najwa Shihab, Gubernur Muzakir Manaf bahkan menangis sambil menyampaikan rasa pasrahnya kepada Tuhan:
“Kalau kita bergantung kepada manusia, kita kecewa. Tapi kalau kita bergantung kepada Allah, ya kita terima semua apa adanya.”
Melawan kebijakan pusat, Gubernur Aceh akhirnya memutuskan untuk menerima bantuan dari beberapa negara, termasuk Malaysia dan Cina. Bantuan dari LSM Cina bahkan dilaporkan sedang mengevakuasi jenazah yang tertanam lumpur dan dijadwalkan membawa bantuan obat-obatan dalam jumlah besar.
Fakta Miris di Balik Bencana
Di tengah bencana, muncul fakta baru yang sangat miris dan menggemparkan. Ditemukannya label “Kemenhut” dan nama perusahaan pada kayu-kayu gelondongan yang terbawa banjir memperkuat dugaan bahwa akar masalah bencana ini adalah pembalakan liar dan eksploitasi hutan yang dilakukan oleh perusahaan yang bekerja sama dengan pihak yang bertanggung jawab atas hutan.
Fakta ini menyimpulkan bahwa bencana besar yang menimpa masyarakat Sumatera, yang telah merenggut ratusan nyawa, sejatinya bermula dari eksploitasi hutan yang dilakukan oleh pihak yang seharusnya menjaga kelestarian alam.






Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.