Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, MADINAH — Di balik gemerlap kekuasaan dan luasnya wilayah yang membentang dari Jazirah Arab hingga ke negeri Syam dan Irak, Khalifah Umar bin Khattab menyimpan sebuah kisah yang hingga kini masih relevan direnungkan oleh siapa pun yang mengemban amanah kepemimpinan. Kisah itu bermula dari sebuah daftar nama orang-orang miskin di kota Hims, dan berujung pada air mata seorang khalifah yang tertegun tak percaya.
Suatu ketika, Khalifah Umar bin Khattab memerintahkan para kepercayaannya di kota Hims, wilayah Syam, untuk menyusun daftar warga miskin yang berhak mendapatkan bantuan dari kas negara. Saat itu, perbendaharaan kaum muslimin sedang melimpah setelah sejumlah penaklukan besar. Niat Umar sederhana: memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan di bawah kepemimpinannya. Namun ketika daftar itu tiba di tangannya, Umar terdiam. Nama yang tercantum paling atas, sebagai orang termiskin di Hims, adalah nama yang sama sekali tak ia sangka: Said bin Amir.
“Siapa Said bin Amir ini?” tanya Umar kepada para utusannya. Jawaban yang datang membuat khalifah terpukul. “Dialah walikota kami, pemimpin kami, wahai Amirul Mukminin.” Umar tak mampu menahan air mata. Seorang pemimpin kota, yang seharusnya memiliki penghasilan dari jabatannya, justru masuk dalam daftar fakir miskin warganya sendiri.
Kota yang Kerap Bergejolak
Untuk memahami betapa beratnya amanah yang disandang Said, perlu diketahui bahwa Hims bukanlah kota biasa. Bersama Kufah di Irak, Hims di negeri Syam adalah dua wilayah yang paling sering melayangkan keluhan kepada Khalifah Umar. Hampir setiap pemimpin yang ditunjuk di sana berujung pada permintaan masyarakat agar segera diganti. Kota itu mewarisi kemewahan peradaban Romawi yang lama bercokol di sana: gedung-gedung megah, kehidupan glamor, dan godaan duniawi yang berlapis-lapis.
Umar menyadari bahwa Hims membutuhkan pemimpin bukan sekadar cakap secara administratif, tetapi kokoh secara spiritual. Setelah melewati perenungan panjang, pilihannya jatuh pada Said bin Amir, seorang sahabat Nabi yang dikenal kezuhudannya. Namun Said bukan orang yang mudah dibujuk dengan jabatan. Ketika pertama kali dipanggil menghadap Umar, ia justru mendahului tujuan pertemuan itu dengan menyampaikan nasihat tegas kepada sang khalifah.
“Wahai Umar, takutlah kepada Allah dalam urusan manusia, dan jangan takut kepada manusia dalam urusan Allah,” begitu Said membuka pesannya. Ia mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus menjadi yang pertama menjalankan apa yang ia perintahkan, dan yang pertama meninggalkan apa yang ia larang. Ucapan tidak boleh menyalahi perbuatan. Rakyat, baik yang jauh maupun yang dekat, adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Umar yang terkesan kemudian menyampaikan maksud sebenarnya: menunjuk Said menjadi walikota Hims. Said menolak. Ia memohon agar dibiarkan beribadah dengan tenang tanpa beban jabatan. Namun Umar bersikeras, mengingatkan bahwa para sahabat yang memilihnya menjadi khalifah pun kini menyerahkan tanggung jawab itu ke pundaknya. Said akhirnya tak bisa mengelak.
Pemimpin yang Turun ke Dapur
Setibanya di Hims, Said menjalankan amanah itu dengan cara yang jauh dari kesan pejabat pada umumnya. Gajinya yang diterima tiap bulan hanya ia ambil sebatas kebutuhan paling mendasar keluarganya. Sisanya, tanpa sisa, ia infakkan kepada mereka yang lebih membutuhkan. Bahkan istrinya sendiri sempat heran dan bertanya ke mana perginya uang gaji suaminya. Said menjawab singkat: ia “meminjamkannya” kepada Allah.
Hidupnya jauh dari kemewahan. Berbulan-bulan dapur rumahnya tidak mengepulkan asap. Ia tidak memiliki pembantu rumah tangga. Setiap pagi, sebelum keluar menemui warganya, Said membantu istrinya mengolah adonan roti, menunggu hingga mengembang, memanggang, baru kemudian berwudhu dan bergegas menjalankan tugasnya. Pakaian yang ia miliki hanya beberapa helai, sehingga sebulan sekali ia mencuci seluruhnya, menunggu kering seharian penuh sebelum bisa keluar rumah kembali.
Empat Keluhan yang Mengejutkan
Saat Umar melakukan inspeksi mendadak ke Hims, ia memilih berbicara langsung dengan warga sebelum memanggil Said. Ternyata, masyarakat Hims pun punya keluhan. Ada empat hal yang mereka adukan. Pertama, Said baru keluar menemui warga menjelang siang, bukan di pagi hari. Kedua, ia tidak pernah menerima tamu di malam hari. Ketiga, sebulan sekali ada satu hari penuh ia tidak menampakkan diri. Keempat, sesekali di tengah pertemuan ia tiba-tiba jatuh pingsan tanpa sebab yang jelas.
Umar yang mendengar keluhan itu langsung memanggil Said dan memintanya menjelaskan satu per satu.
Soal terlambat keluar pagi, Said menjawab dengan menundukkan kepala, malu. Karena tidak memiliki pembantu, ia sendiri yang setiap pagi membantu menyiapkan makanan untuk keluarganya hingga selesai, baru kemudian berwudhu dan berangkat. Soal tidak menerima tamu malam hari, Said menjelaskan bahwa ia telah mengabdikan seluruh waktu siangnya untuk urusan rakyat, dan malamnya ia serahkan untuk beribadah kepada Allah. Shalat malam adalah hak Tuhannya yang tidak bisa ia tinggalkan. Soal sebulan sekali tidak keluar, Said mengaku hanya memiliki sedikit pakaian. Pada hari itulah ia mencuci semuanya dan menunggu hingga kering. Ia tidak memiliki pilihan lain.
Umar dan seluruh warga yang hadir terdiam. Satu per satu alasan Said meruntuhkan prasangka mereka.
Lalu tibalah pada keluhan keempat: mengapa Said kerap pingsan tiba-tiba? Inilah jawaban yang paling menghentakkan hati. Said bercerita bahwa di masa lalu, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Khubaib bin Adi, seorang sahabat Nabi, disiksa dan dibunuh dengan cara yang sangat keji oleh kaum Quraisy di Makkah. Tubuh Khubaib dicincang, dagingnya digantung, sementara ia tetap teguh dalam keimanannya. Said hadir di sana, dan tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolong. Setiap kali kenangan itu muncul kembali ke benaknya, saat berada di tengah-tengah warga, tubuhnya tidak sanggup menanggung beratnya rasa sesal itu, dan ia pun pingsan.
Mendengar penjelasan itu, Umar mengangkat wajahnya dan berucap lirih, “Segala puji bagi Allah yang tidak pernah melesetkan firasatku tentangmu, wahai Said.”
Seribu Dinar yang Dianggap Musibah
Umar kemudian mengirimkan seribu dinar kepada Said sebagai bentuk perhatian dan bantuan dari negara. Ketika utusan Umar tiba membawa kantong berisi uang itu, Said menatapnya lama. Lalu bibirnya bergerak mengucap kalimat istirja: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Bagi Said, uang dalam jumlah besar itu bukan berkah yang mesti dirayakan, melainkan ujian yang mengancam keselamatan akhiratnya.
Ia kemudian memanggil istrinya dan menyampaikan bahwa ada “musibah” yang masuk ke rumah mereka. Istrinya yang belum memahami maksudnya bertanya apakah Amirul Mukminin telah wafat. Said menggeleng. Musibah itu, katanya, adalah uang seribu dinar dari Umar yang kini ada di hadapan mereka, dan ia berniat menyedekahkan seluruhnya.
Lalu Said membagikan uang itu ke berbagai penjuru: kepada para janda, anak yatim, orang yang tertimpa musibah, dan mereka yang hidup dalam kekurangan. Semuanya, hingga tidak bersisa. Kepada istrinya yang memohon agar sebagian ditinggalkan, Said berkata bahwa ia tidak ingin mendahulukan kenyamanan dunia daripada bidadari surga yang dijanjikan Allah kepada hamba-hamba yang tulus bersedekah.
Kisah yang sama terulang ketika Umar mengirimkan seribu dinar kedua. Said menerimanya dengan perasaan yang sama, lalu kembali menginfakkannya habis. Kepada istrinya ia berpesan bahwa yang akan datang dari amal itu jauh lebih berharga dari apa pun yang bisa dibeli dengan dinar.
Pesan untuk Para Pemimpin
Kisah Said bin Amir bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin. Umar bin Khattab sendiri, dalam perjalanan kepemimpinannya, dikenal sangat selektif memilih para gubernur dan walikotanya. Ia menimbang rekam jejak persahabatan mereka dengan Nabi, pengorbanan mereka dalam agama, dan sejauh mana mereka mampu menahan diri dari tipu daya dunia.
Al-Quran dalam Surah As-Shaffat ayat 24 mengingatkan tentang hari ketika para pemimpin akan ditahan dan dimintai pertanggungjawaban atas setiap keputusan yang pernah mereka buat. Rasulullah pun bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya. Bahkan seorang yang hanya mengurusi sepuluh orang pun, pada hari kiamat kelak, akan menghadap Allah dengan tangan terbelenggu, dibebaskan oleh amal baiknya atau dipererat oleh dosa-dosanya.
Said bin Amir memilih jalan yang sunyi namun penuh cahaya. Tidak ada mobil dinas yang ia bangga-banggakan, tidak ada rumah jabatan yang ia percantik, tidak ada pesta yang ia gelar atas nama rakyat. Yang ada hanya tepung yang ia uleni setiap pagi, pakaian yang ia cuci sebulan sekali, dan seribu dinar yang ia anggap musibah setiap kali datang ke tangannya.
Di zaman ketika jabatan kerap dijadikan tangga menuju kemewahan, kisah walikota miskin dari Hims ini hadir sebagai pengingat abadi: bahwa kekuasaan sejati bukan tentang seberapa banyak yang bisa digenggam, melainkan seberapa banyak yang sanggup dilepaskan demi ridha Allah.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.