Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS – Sebuah kisah transformasi spiritual yang menggetarkan hati tercatat dalam lembaran emas sejarah Islam. Kisah seorang pendeta Yahudi terkemuka yang melepaskan seluruh kemuliaan duniawi demi sebuah kebenaran yang diyakininya. Dialah Abdullah bin Salam, sosok yang dijamin masuk surga langsung oleh Nabi Muhammad SAW.

Pencari Kebenaran dari Bani Qainuqah

Jauh sebelum cahaya Islam menerangi Kota Yasrib (Madinah), seorang pemuka agama Yahudi bernama Al-Husain bin Salam menjalani kehidupannya dengan penuh kehausan akan hakikat kebenaran. Sebagai seorang Haber—gelar tertinggi ulama Yahudi—namanya disegani di kalangan Bani Qainuqah dan seluruh penjuru Yasrib.

Berbeda dengan kebanyakan kaumnya yang mengejar kemewahan material, Al-Husain menghabiskan hari-harinya mendalami kitab Taurat. Di balik ketenangan spiritualnya, tersimpan sebuah rahasia besar: keyakinan mendalam tentang kedatangan seorang nabi akhir zaman yang telah dinubuatkan dalam kitab suci.

“Kitab Taurat telah berbicara tentang seorang nabi yang akan muncul dari tanah Arab,” demikian keyakinan yang tertanam kuat dalam benaknya. Setiap malam, ia menelusuri ayat demi ayat, mencari tanda-tanda kehadiran sang utusan terakhir.

Pertemuan Bersejarah di Quba

Saat kabar kedatangan Nabi Muhammad SAW ke Yasrib mencapai telinga Al-Husain, gejolak memenuhi hatinya. Ia tengah memanen kurma di kebunnya ketika seorang penyeru Yahudi berteriak lantang: “Wahai Bani Israil! Pemimpin yang kalian tunggu telah tiba!”

Mendengar teriakan itu, Al-Husain spontan mengucapkan takbir berkali-kali, mengejutkan bibinya, Khalidah binti Al-Harit. Sang bibi heran dengan reaksi berlebihan keponakannya, namun Al-Husain menjawab dengan penuh keyakinan: “Demi Allah, dia adalah saudara Musa bin Imran, berada di atas agama yang sama.”

Tanpa membuang waktu, ulama besar itu bergegas bergabung dengan kerumunan yang menuju Quba. Di tengah lautan manusia, matanya akhirnya menangkap sosok yang ditunggu-tunggu. “Ketika aku menatap wajahnya, aku langsung mengetahui bahwa wajah itu bukanlah wajah seorang pendusta,” kenangnya kemudian.

Ujian Pengetahuan yang Menentukan

Al-Husain tidak langsung beriman begitu saja. Sebagai seorang intelektual, ia memerlukan bukti empiris. Ia mengajukan tiga pertanyaan krusial yang hanya bisa dijawab oleh seorang nabi sejati—perihal tanda-tanda kiamat, makanan pertama penghuni surga, dan rahasia penciptaan manusia.

Dengan tenang, Rasulullah SAW menjawab setiap pertanyaan secara detail dan akurat, persis seperti yang tertulis dalam kitab-kitab kuno yang hanya diketahui para nabi. Jawaban sempurna itu meruntuhkan seluruh keraguan di hati sang ulama Yahudi.

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau utusan Allah,” ucapnya lantang. Detik itu, Rasulullah SAW menganugerahinya nama baru: Abdullah bin Salam—hamba Allah putra Salam.

Strategi Penyingkapan Kemunafikan

Mengenal watak kaumnya yang mudah berubah pendirian, Abdullah mengusulkan sebuah strategi kepada Nabi. Ia meminta disembunyikan terlebih dahulu, sementara Nabi bertanya kepada tokoh-tokoh Yahudi tentang reputasinya.

Ketika ditanya, para pemuka Yahudi melontarkan pujian setinggi langit: “Dia pemimpin kami, ulama terhebat kami, orang terbaik di antara kami.” Namun begitu Nabi bertanya hipotetis tentang kemungkinan Al-Husain masuk Islam, mereka sontak menyangkal keras: “Mustahil! Dia terlalu mulia untuk itu.”

Saat Abdullah keluar dari persembunyiannya dan menyatakan keislamannya, pujian itu berubah 180 derajat menjadi cacian: “Engkau pendusta! Engkau orang terburuk di antara kami!”

Peristiwa ini menjadi bukti nyata tentang sikap munafik sebagian kalangan yang menghormati seseorang bukan karena kebenaran, melainkan karena kepentingan golongan.

Jaminan Surga Melalui Mimpi

Kehidupan baru Abdullah sebagai Muslim tidaklah mudah. Ia kehilangan jabatan, dikucilkan keluarga, dan dicaci mantan pengikutnya. Namun di tengah ujian itu, Allah SWT menganugerahkan kabar gembira melalui sebuah mimpi yang menggetarkan.

Dalam mimpinya, Abdullah melihat taman hijau yang indah dengan tiang besi menjulang tinggi. Di puncak tiang terdapat pegangan bercahaya. Dengan bantuan gaib, ia berhasil mencapai dan menggenggam pegangan itu. Sebuah suara memerintahkan: “Pegang erat-erat. Jangan lepaskan.”

Ketika menceritakan mimpi tersebut, Rasulullah SAW memberikan tafsir yang membahagiakan: “Taman itu adalah Islam, tiang itu adalah pilar agama, dan pegangan itu adalah Al-‘Urwatul Wutsqa (tali yang paling kuat). Kamu akan tetap memegang tali itu dengan kuat sampai meninggal dunia.”

Sejak itu, para sahabat mengenalnya sebagai penghuni surga yang masih berjalan di muka bumi.

Suara Kebenaran di Tengah Fitnah

Keteguhan iman Abdullah diuji kembali pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Ketika ribuan pemberontak mengepung kediaman khalifah, Abdullah berani tampil sendirian menghadapi kerumunan yang haus darah.

Dengan berani, ia memperingatkan: “Demi Allah, pedang umat Islam masih tertutup sejak masa Rasulullah. Jika kalian membunuhnya hari ini, pedang itu akan terhunus dan tidak akan terselubung kembali hingga hari kiamat.”

Nasihat tulus dari sahabat yang dijamin surga itu justru dibalas dengan hinaan rasis: “Bunuhlah dia! Dia hanyalah seorang Yahudi, anak seorang Yahudi!”

Seperti yang dikhawatirkan, terbunuhnya Khalifah Utsman memicu serangkaian perang saudara yang memakan korban ribuan nyawa Muslim—persis seperti prediksi Abdullah bin Salam.

Wafat dalam Genggaman Keimanan

Pada tahun 43 Hijriah, di usia senja, Abdullah bin Salam menghembuskan napas terakhirnya di Madinah. Berbeda dengan banyak sahabat yang gugur di medan perang, ia memilih jalan damai dengan memegang pedang kayu, menolak berpartisipasi dalam konflik sesama Muslim.

Wafatnya menjadi pembuktian sempurna atas janji Rasulullah SAW puluhan tahun sebelumnya. Mantan pendeta Yahudi itu meninggal dalam keadaan memegang teguh tali yang kokoh—Islam yang murni, bersih dari noda darah kaum Muslimin.

Warisan Abadi untuk Pencari Kebenaran

Kisah Abdullah bin Salam diabadikan dalam Al-Quran Surah Al-Ahqaf ayat 10 sebagai “saksi dari Bani Israil yang beriman.” Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa kebenaran tidak mengenal batas ras, keturunan, atau tradisi.

وَالنَّخْلَ بٰسِقٰتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِیْدٌ ۙ

“Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun,”.

Ia melepaskan posisi sebagai ulama besar Yahudi, rela dicap pengkhianat oleh kaumnya, demi status yang jauh lebih mulia: sahabat Rasulullah dan calon penghuni surga. Pengorbanannya membuktikan bahwa iman sejati menuntut keberanian melawan arus, meninggalkan zona nyaman, dan bersikap jujur pada nurani.

Jasadnya dimakamkan di Baqi, Madinah, bertetangga dengan para syuhada dan orang-orang saleh. Namun kisahnya tetap hidup sebagai inspirasi bagi siapa pun yang mencari kebenaran dengan tulus, melintasi batas-batas fanatisme golongan.

“Barang siapa yang berpegang teguh kepada agama Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus,” demikian firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 101—sebuah ayat yang sempurna menggambarkan perjalanan spiritual Abdullah bin Salam, sang pemegang tali emas yang tidak pernah terlepas hingga ajal menjemput.


Redaksi: Kisah ini disusun berdasarkan riwayat-riwayat shahih dalam kitab-kitab hadis dan sirah nabawiyah sebagai pengingat akan nilai-nilai pencarian kebenaran yang melampaui sekat-sekat primordial.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________