BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS, TERNATE — Di ujung timur kepulauan nusantara, berdiri sebuah pulau kecil yang menyimpan warisan peradaban luar biasa. Ternate, yang terletak di Provinsi Maluku Utara, bukan sekadar dikenal sebagai surga rempah-rempah yang pernah menggerakkan roda perekonomian dunia, melainkan juga sebagai tonggak berdirinya peradaban Islam di kawasan timur Indonesia — sebuah warisan yang hingga kini tetap hidup dan berdenyut dalam keseharian warganya.

Jauh sebelum kapal-kapal Eropa berlabuh di perairan Maluku, Ternate telah menjadi persimpangan agung antara berbagai bangsa. Pedagang dari Persia, Gujarat, India, dan Tiongkok telah lebih dulu menjalin hubungan niaga dan budaya dengan masyarakat setempat. Pertemuan lintas peradaban itu meninggalkan jejak yang tak terhapus — mulai dari corak arsitektur bangunan yang memadukan gaya Tionghoa dan Melayu, hingga kekayaan kuliner khas yang lahir dari percampuran cita rasa berbagai bangsa. Keraton kesultanan yang dalam bahasa lokal disebut kadaton, masjid sultan, hingga permukiman warga, semuanya memancarkan aura akulturasi yang dalam dan autentik.

Islam hadir di bumi Ternate bukan sebagai kekuatan asing yang memaksa masuk, melainkan sebagai cahaya yang disambut dengan jiwa terbuka. Ajaran tauhid yang dibawa oleh para saudagar-penjelajah dinilai selaras dengan falsafah hidup masyarakat Ternate yang telah lama mengakar, yakni Jou Se Ngofa Ngare — yang bermakna hubungan antara Tuhan dan manusia. Falsafah itu termanifestasi dalam simbol Goheba Madopolo Romdidi, seekor garuda berkepala dua yang melambangkan ikatan tak terpisahkan antara Sang Pencipta dan makhluk-Nya, antara rakyat dan pemimpinnya, yang berpijak pada tauhid dan semangat kebersamaan.

Pengakuan resmi atas Islam terjadi pada tahun 1486, ketika Zainal Abidin memeluk Islam dan dinobatkan sebagai sultan pertama Ternate. Peristiwa itu menandai babak baru: transformasi besar dari kerajaan tradisional menjadi kesultanan bercorak Islam. Gelar kolano atau raja pun resmi berganti menjadi sultan — sebuah perubahan yang bukan sekadar soal nomenklatur, melainkan mencerminkan pergeseran mendasar dalam tata nilai dan orientasi peradaban. Sejak saat itu, Ternate tidak lagi hanya dikenal sebagai pusat rempah dunia, tetapi juga sebagai titik awal memancarnya cahaya Islam di timur Nusantara.

Puncak kejayaan kesultanan dicapai di bawah kepemimpinan Sultan Babullah, yang dikenal dengan gelar Khalifah Imperium Nusantara. Di bawah komandonya, pengaruh Ternate menjangkau 72 negeri di seluruh kepulauan, bukan melalui invasi bersenjata, melainkan lewat syiar agama, persaudaraan, dan bantuan dalam penyelesaian konflik antardaerah. Sebuah model kepemimpinan yang jauh melampaui zamannya.

Keterbukaan Kesultanan Ternate tidak berhenti pada batas-batas komunitas Muslim. Ketika bangsa Portugis tiba di awal abad ke-15 membawa semboyan Fortaleza, Feitoria, dan Igreja — perdagangan, militer, dan misi keagamaan — Sultan Bayanullah menyambut mereka dengan sikap yang sama terbukanya. Bahkan, para misionaris diizinkan menyebarkan ajaran Kristen kepada masyarakat yang belum memeluk agama apapun. Kebijakan itulah yang kelak menjadi jembatan bagi masuknya Injil ke tanah Papua — sebab sebelum para misionaris berlayar ke sana, mereka terlebih dahulu meminta restu kepada Sultan Tidore dan Sultan Ternate.

Namun keterbukaan itu kemudian dikhianati. Ambisi monopoli dagang Portugis memicu gelombang konflik yang berdarah. Sultan Khairun terbunuh secara licik di Benteng Castella. Anaknya, Sultan Baabullah, bangkit memimpin perlawanan dan berhasil mengusir Portugis dari tanah Ternate. Meski begitu, panggung sejarah kembali berputar — Spanyol, Inggris, lalu Belanda datang silih berganti, masing-masing membawa bendera, kepentingan dagang, dan ambisi kekuasaan yang tak jauh berbeda. Belanda, dengan etos kapitalisme Protestannya, dinilai paling agresif dalam praktik monopoli yang merugikan rakyat dan memantik peperangan.

Namun sejarah juga mencatat bahwa pengkhianatan bangsa asing tidak mampu mengikis warisan toleransi yang telah berakar berabad-abad. Kelenteng Tian Haw yang dibangun pada 1657 hingga kini berdiri tegak sebagai saksi bisu diterimanya komunitas Konghucu di tengah masyarakat Muslim Ternate. Pada 1822, Kesultanan Ternate bahkan menganugerahkan jabatan struktural kepada warga keturunan Tionghoa berupa Kapita China — sebuah pengakuan formal bahwa sultan menerima siapa pun tanpa memandang asal-usul.

Tak jauh dari pusat kesultanan, berdiri Kampung Tabanga — sebuah komunitas Kristen yang akar sejarahnya justru bertaut erat dengan leluhur orang Ternate asli. Mereka bukan pendatang, bukan pula sekadar sisa peninggalan era kolonial. Mereka adalah keturunan dari perjumpaan panjang antara adat, Islam, dan misi Kristen yang tumbuh di bawah naungan kesultanan. Dalam struktur kesultanan, komunitas Tabanga mendapat posisi sebagai pasukan sultan — bala kusu kano-kano — sebuah kehormatan yang mencerminkan betapa inklusifnya sistem kesultanan Ternate.

Falsafah Bala Kusu Kano-Kano sendiri menjadi kunci memahami toleransi ala Ternate. Kusu berarti alang-alang, yang merupakan perlambang umat Muslim. Kano-kano adalah tanaman merambat yang tumbuh di antara alang-alang, mewakili umat non-Muslim. Keduanya tumbuh bersama dalam satu ekosistem — bukan karena terpaksa, melainkan karena itulah hukum alam dan takdir kebersamaan. Di mana ada Muslim, di sana pasti ada non-Muslim. Bukan ancaman, melainkan pelengkap.

“Jangan ajarkan orang Ternate tentang toleransi,” ujar seorang tokoh setempat dengan nada penuh kebanggaan. “Karena kita telah hidup dalam toleransi sejak lama. Di mana lagi di dunia ini ada masjid, kelenteng, dan gereja berdiri dalam satu kawasan, dan hidup berdampingan tanpa pernah membutuhkan konsep moderasi — karena moderasi itu sendiri sudah menjadi napas kehidupan mereka?”

Ternate adalah miniatur Indonesia. Ia menjadi besar bukan karena kekuatan senjata, melainkan karena kekuatan toleransi. Dan di ufuk timur Nusantara ini, mercusuar peradaban Islam itu masih terus bersinar — menerangi lautan, menembus kabut zaman.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________