BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Summarize the post with AI

Tak jauh dari pusat kesultanan, berdiri Kampung Tabanga — sebuah komunitas Kristen yang akar sejarahnya justru bertaut erat dengan leluhur orang Ternate asli. Mereka bukan pendatang, bukan pula sekadar sisa peninggalan era kolonial. Mereka adalah keturunan dari perjumpaan panjang antara adat, Islam, dan misi Kristen yang tumbuh di bawah naungan kesultanan. Dalam struktur kesultanan, komunitas Tabanga mendapat posisi sebagai pasukan sultan — bala kusu kano-kano — sebuah kehormatan yang mencerminkan betapa inklusifnya sistem kesultanan Ternate.

Falsafah Bala Kusu Kano-Kano sendiri menjadi kunci memahami toleransi ala Ternate. Kusu berarti alang-alang, yang merupakan perlambang umat Muslim. Kano-kano adalah tanaman merambat yang tumbuh di antara alang-alang, mewakili umat non-Muslim. Keduanya tumbuh bersama dalam satu ekosistem — bukan karena terpaksa, melainkan karena itulah hukum alam dan takdir kebersamaan. Di mana ada Muslim, di sana pasti ada non-Muslim. Bukan ancaman, melainkan pelengkap.

“Jangan ajarkan orang Ternate tentang toleransi,” ujar seorang tokoh setempat dengan nada penuh kebanggaan. “Karena kita telah hidup dalam toleransi sejak lama. Di mana lagi di dunia ini ada masjid, kelenteng, dan gereja berdiri dalam satu kawasan, dan hidup berdampingan tanpa pernah membutuhkan konsep moderasi — karena moderasi itu sendiri sudah menjadi napas kehidupan mereka?”

Ternate adalah miniatur Indonesia. Ia menjadi besar bukan karena kekuatan senjata, melainkan karena kekuatan toleransi. Dan di ufuk timur Nusantara ini, mercusuar peradaban Islam itu masih terus bersinar — menerangi lautan, menembus kabut zaman.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________