PUNGGAWANEWS, Pasti banyak kita menganggap wudhu itu hal yang biasa saja. Dilakukan cepat-cepat sebelum shalat, lalu selesai. Tapi siapa sangka hal yang kita anggap sangat biasa ini mampu membuat seorang bangsawan menjadi mualaf. Ia melihat rutinitas kecil ini punya pola yang rapi, ada jeda, ada sentuhan air, ada urutan, ada kebersihan, lalu ada momen menata diri sebelum berdiri menghadap Allah.
Di awal abad ke-20, ada seorang bangsawan Austria bernama Rolf Werner Leopold von Ehrenfels yang kemudian dikenal sebagai Umar (atau Omar) Rolf von Ehrenfels. Dalam catatan biografinya, ia memang tercatat sebagai seorang yang memutuskan masuk Islam sekitar tahun 1926 dan mulai memakai nama Umar/Omar di lingkungan Muslimnya.
Nah, di Indonesia beredar versi kisah yang sering dibagikan, yaitu ketertarikannya pada Islam salah satunya muncul ketika ia mengamati wudhu yang dilakukan berulang kali oleh umat Muslim sebelum shalat. Dari sesuatu yang tampak sederhana, dengan membasuh wajah, tangan, kepala, lalu kaki, ia melihat ada kebiasaan yang tidak asal-asalan. Ada disiplin, ada kebersihan, dan ada ritme yang terus berulang setiap hari.
Kalau dibawa ke cara pandang kesehatan yang paling basic, air memang punya efek untuk reset. Membasuh wajah dan anggota tubuh bisa bikin tubuh terasa segar, apalagi ketika pikiran sedang penuh. Sentuhan air pada kulit memberi sinyal bahwa tubuh aman, tidak sedang dikejar apa-apa. Pola ini mirip dengan hal yang sering dipakai orang sebagai cara menenangkan diri, cuci muka, basuh tangan, ambil napas, lalu lanjut lagi.
Penelitian modern yang membahas efek air dingin di wajah juga menarik, karena menunjukkan respons tubuh yang cenderung menurunkan reaksi stres. Dalam eksperimen cold face test, paparan dingin di area wajah dapat menekan respons hormon stres dalam kondisi tekanan tertentu. Bahasanya mungkin terdengar ilmiah, tapi simpel nya begini, ada momen ketika air menyentuh wajah, tubuh lebih mudah rileks dari tegang ke lebih tenang.
Di sisi lain, wudhu bukan cuma soal wajah. Ada tangan dan kaki, bagian tubuh yang paling sering digunakan kerja rodi seharian. Membasuh bagian-bagian itu berulang kali jelas membantu kebersihan. Dan kadang, kebersihan itu sendiri sudah cukup untuk bikin kepala terasa lebih ringan, badan bersih, dan pikiran ikut rapi.
Ada juga riset yang mencoba melihat wudhu dari sisi tidur. Misalnya, sebuah studi pada santri di Malang menilai kebiasaan wudhu sebelum tidur dan mengaitkannya dengan perubahan kuantitas tidur selama periode pengamatan. Studi ini menyimpulkan wudhu sebelum tidur menjadi faktor penting yang terkait dengan kuantitas tidur pada kelompok yang diteliti.
Tentu, semua hasil riset seperti ini perlu dibaca dengan kepala dingin juga. Konteksnya spesifik, metodenya punya batas, dan efeknya bisa beda-beda pada tiap orang. Tapi benang merahnya enak dipahami, bahwa wudhu itu gabungan antara kebersihan, jeda, dan ketenangan. Dan kombinasi ini sering jadi modal tubuh untuk lebih stabil, entah sebelum shalat atau sebelum tidur.
Di titik ini, pesannya jadi terasa dekat. Dalam Islam, banyak hal yang kelihatannya sederhana tapi ternyata bekerja pelan-pelan menjaga manusia. Wudhu bukan cuma persiapan teknis sebelum ibadah, tapi juga semacam latihan kesadaran. Mengulang kebersihan, mengulang jeda, mengulang rapi, minimal sebanyak lima kali sehari.
Mungkin yang sering luput bukan gerakan wudhunya, tapi hadirnya hati saat melakukannya. Karena ketakwaan kadang bukan lahir dari hal besar yang dramatis, tapi dari hal yang dianggap biasa yang dijaga terus, pelan-pelan, sampai jadi kebiasaan yang menenangkan





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.