PUNGGAWANEWS, GAZA – Umat Muslim Palestina memasuki bulan suci Ramadan dalam suasana yang masih diwarnai ketegangan. Meski kesepakatan gencatan senjata telah ditandatangani, suara ledakan bom dan tembakan masih menggema di wilayah Gaza, mengiringi ibadah tarawih pertama masyarakat setempat.
Pada Selasa malam waktu setempat, ribuan jemaah memadati Masjid Al-Aqsa di Yerusalem untuk menunaikan salat tarawih perdana. Di Kota Gaza, warga berbondong-bondong menuju Masjid Agung Omari, salah satu dari puluhan bangunan bersejarah yang rusak parah akibat konflik berkepanjangan. Masjid tersebut masih dalam tahap pembersihan untuk menyambut bulan penuh berkah ini.
Ramadan di Balik Bayang-Bayang Konflik
Dr. Muhammad Reinaldi, relawan Emergency Medical Team (EMT) 12 Indonesia yang tengah bertugas di Gaza, menggambarkan kondisi lapangan yang masih memprihatinkan. “Di sekitar kami masih terdengar suara bom dan tembakan. Drone terus mengitari area pemukiman dan tempat kerja, sementara pesawat tempur kerap melintas di atas kepala kami,” ungkap Reinaldi dalam sambungan komunikasi yang sempat terganggu karena ketidakstabilan listrik dan jaringan internet di Gaza.
Ramadan tahun ini menandai periode ibadah pertama sejak kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada 10 Oktober 2025. Meskipun intensitas serangan berkurang pada hari pertama Ramadan, kehadiran pesawat tanpa awak dan suara persenjataan masih menjadi latar kehidupan sehari-hari warga Palestina.
Pasar Mulai Hidup, Harga Masih Mencekik
Setelah dua tahun penuh keterbatasan akses pangan, pasar-pasar di Gaza mulai menampakkan tanda-tanda kehidupan. Berbagai bahan makanan kembali tersedia di pusat-pusat perbelanjaan, membangkitkan secercah harapan di tengah puing-puing kehancuran.
Namun, kelegaan tersebut tidak sepenuhnya dirasakan warga. Harga kebutuhan pokok masih melambung tinggi, jauh di atas harga normal sebelum perang meletus. Kondisi ini membuat banyak keluarga kesulitan mengakses bahan makanan untuk persiapan berbuka dan sahur.
“Walaupun pasar sudah tampak ramai, harga di sini masih sangat sulit dijangkau oleh warga,” jelas Reinaldi. Situasi ekonomi yang terpuruk pasca-konflik berkepanjangan membuat daya beli masyarakat menurun drastis, sementara kebutuhan dasar terus meningkat di bulan Ramadan.
Krisis Air Bersih dan Obat-Obatan
Selain pangan, kebutuhan vital lain yang masih menjadi tantangan besar adalah air bersih. Warga Gaza sangat bergantung pada pasokan air dari truk-truk bantuan yang dikirim oleh berbagai organisasi kemanusiaan. Truk-truk tersebut biasanya datang sekali sehari, terutama ke daerah padat penduduk dan kamp-kamp pengungsian.
“Namun, pasokan air ini terkadang tidak mencukupi jumlah penduduk di area tersebut,” kata Reinaldi, menggambarkan betapa kritisnya situasi di lapangan.
Di bidang kesehatan, kondisi tidak kalah mengkhawatirkan. Bantuan obat-obatan masih sangat terbatas, bahkan untuk jenis yang paling mendasar. “Parasetamol bisa habis dalam sehari. Bius lokal untuk tindakan medis seperti penjahitan luka sangat minim. Bahkan anak-anak terkadang tidak mendapat bius lokal saat menjalani prosedur medis,” ungkap Reinaldi dengan nada prihatin.
Israel masih memberlakukan pembatasan ketat terhadap jenis bantuan yang boleh masuk, termasuk kategori obat-obatan. Kondisi ini memaksa tenaga medis untuk memilah pasien mana yang bisa mendapat perawatan optimal dan mana yang harus menerima penanganan seadanya.
Bantuan Kemanusiaan Terus Mengalir
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai lembaga swadaya masyarakat internasional terus mengirimkan bantuan logistik makanan ke Gaza. Sistem distribusi bantuan medis dilakukan melalui gudang-gudang di beberapa titik kesehatan strategis, yang kemudian disebarkan melalui puskesmas-puskesmas darurat yang dibangun untuk melayani kebutuhan warga.
Meski intensitas serangan berkurang pada awal Ramadan, Reinaldi melaporkan belum mendengar adanya korban akibat serangan Israel pada hari pertama bulan suci tersebut. Namun, kehadiran pesawat tempur dan drone militer tetap menjadi pengingat bahwa situasi keamanan masih rapuh.
Harapan di Tengah Reruntuhan
Ramadan kali ini membawa makna khusus bagi warga Gaza. Setelah dua tahun menjalani ibadah puasa di tengah konflik berkepanjangan dengan akses pangan yang sangat terbatas, kehadiran bahan makanan di pasar—meski dengan harga tinggi—sudah dianggap sebagai kemajuan.
Bagi warga Palestina, Ramadan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang ketahanan dan harapan. Di tengah reruntuhan bangunan, keterbatasan air bersih, kelangkaan obat-obatan, dan harga pangan yang mencekik, mereka tetap berusaha menjalankan ibadah dengan penuh khusyuk.
Sementara itu, di Amerika Serikat, persiapan konferensi tingkat tinggi untuk pembahasan opsi perdamaian (KTBOP) tengah berlangsung. Dunia internasional diharapkan dapat menemukan solusi jangka panjang untuk mengakhiri penderitaan warga Palestina.
Sambungan komunikasi dengan Dr. Muhammad Reinaldi sempat terputus karena ketidakstabilan listrik dan jaringan internet di Gaza, menggambarkan tantangan infrastruktur yang masih dihadapi wilayah tersebut. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa meski gencatan senjata telah disepakati, jalan menuju pemulihan penuh masih panjang dan berliku.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.