Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS, JAKARTA – Perdebatan penentuan awal bulan Hijriah kembali mencuat menjelang Idul Fitri 2026. Seorang pakar teknologi penginderaan jauh mempertanyakan validitas metode rukyatul hilal yang masih dipertahankan pemerintah, dengan menyebut adanya kekeliruan ilmiah mendasar dalam penetapan 1 Ramadan 1447 H.

POSISI BULAN MUDA | PUNGGAWA NEWS
Bulan Sabit Muda (Waxing Crescent) pada Jumat, 20 Maret 2026, Fase bulan ini terjadi ketika satelit alami Bumi memasuki hari ke-1,58 [ Bulan Syawal ]

Prof. Thomas Djamaluddin, peneliti independen bidang teknologi satelit, mengungkapkan kejanggalan signifikan dalam penetapan awal Ramadan tahun ini yang jatuh pada 19 Februari 2026. Menurutnya, secara astronomis, puasa seharusnya dimulai sehari lebih awal, yakni 18 Februari.

“Ijtima atau konjungsi bulan terjadi pukul 19.01 WIB pada 17 Februari. Satu detik setelah waktu tersebut, hilal sudah terbentuk secara matematis. Ini bukan asumsi, melainkan perhitungan presisi,” tegasnya dalam wawancara khusus.

Bukti Gerhana Bulan Total

Salah satu argumen kuat yang dikemukakan adalah fenomena gerhana bulan total pada 3 Maret lalu. Berdasarkan penelusuran katalog NASA selama 300 tahun (1800-2100), gerhana bulan total tidak pernah terjadi pada hari ke-13 kalender lunar. Peristiwa ini selalu jatuh pada hari ke-14, 15, atau maksimal ke-16.

“Jika 1 Ramadan ditetapkan 19 Februari, berarti gerhana terjadi hari ke-13. Ini tidak mungkin secara astronomi. Data 300 tahun membuktikan hal tersebut,” jelasnya sambil menunjukkan tabel perhitungan dari 62 kejadian gerhana bulan total yang ia analisis.

Dalam periode 1901-2000 saja, tercatat 29 gerhana terjadi hari ke-14 (41,4%), 31 kejadian hari ke-15 (44,3%), dan 10 kasus hari ke-16 (14,3%). Tidak ada satu pun yang jatuh pada hari ke-13.

Kritik Terhadap Kriteria Imkan Rukyat

Peneliti yang mengembangkan algoritma pemantauan posisi benda langit ini mengkritik keras kriteria Imkan Rukyat MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) yang menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.

“Kriteria ini adalah scientific blunder—kekeliruan ilmiah yang sangat berat. Hilal bertambah besar setiap detik dengan laju sekitar 0,03% per jam. Mengapa harus menunggu kriteria yang justru membuat kita tertinggal 12 jam dari negara yang lebih barat seperti Amerika?” kritiknya.

Ia mencontohkan anomali menggelikan: seorang anak kandungnya di Amerika selalu melaksanakan ibadah 12 jam lebih dulu. Namun khusus di bulan Ramadan, justru terbalik—Indonesia tertinggal 12 jam.

“Bagaimana mungkin kita yang di timur, yang seharusnya 12 jam lebih cepat, malah jadi 12 jam lebih lambat dari orang Amerika dalam menentukan ibadah? Ini paradoks geografis yang memalukan,” ujarnya.

Teknologi GPS: Pembelajaran untuk Navigasi Hilal

Menganalogikan dengan sistem navigasi modern, pakar yang pernah belajar di Amerika ini mengingatkan investasi luar biasa negara-negara maju dalam membangun Global Navigation Satellite System (GNSS).

Amerika Serikat menggelontorkan 12 miliar dolar per tahun (setara Rp 180 triliun) selama 20 tahun (1973-1993) untuk membangun GPS. Biaya pemeliharaan tahunan pasca-1993 mencapai 1,8 miliar dolar, atau sekitar Rp 27 triliun. Total investasi selama 50 tahun mencapai hampir Rp 1.000 triliun—setara pembangunan dua IKN.

“Tujuannya sederhana: manusia tidak perlu lagi melihat bintang untuk bernavigasi. Siang atau malam, cuaca buruk atau cerah, navigasi tetap akurat. Mengapa umat Islam justru bersikeras harus melihat bulan untuk menentukan kalender? Ini kemunduran peradaban,” cetusnya.

Rusia membangun sistem Glonass, Uni Eropa mengembangkan Galileo, dan China menciptakan BeiDou—semuanya untuk menghilangkan ketergantungan pada visibilitas langsung benda langit.

Prediksi Idul Fitri 2026: Potensi Perbedaan Kembali Terjadi

Berdasarkan simulasi menggunakan perangkat lunak astronomi, ijtima untuk 1 Syawal 1447 H akan terjadi pada 19 Maret 2026 pukul 06.23 WIB. Secara hisab, 1 Syawal jatuh pada 20 Maret.

Namun pada 19 Maret sore, posisi hilal di seluruh Indonesia akan sangat rendah. Bahkan di Banda Aceh, lokasi paling barat dengan posisi paling menguntungkan, tinggi hilal hanya 2 derajat 59 menit dengan elongasi 5 derajat 23 menit—keduanya di bawah kriteria MABIMS.

“Jika Kementerian Agama konsisten dengan kriterianya sendiri, mereka akan istikmal (menggenapkan) lagi. Idul Fitri akan ditetapkan 21 Maret. Padahal secara astronomi, hilal sudah terbentuk sejak 20 Maret pagi dengan ukuran tujuh kali lebih besar,” paparnya.

Ia menambahkan, pada magrib 19 Maret di Jakarta, persentase hilal sudah mencapai 0,24%—angka yang pasti terdeteksi secara matematis meski tidak terlihat mata telanjang.

Dugaan “Proyek Rukyat” yang Mubazir

Dalam kesempatan sama, peneliti yang pernah menjadi anggota Tim Hisab Rukyat pada 2024 ini mengungkap keheranannya terhadap praktek pengiriman ratusan perukyat ke seluruh Indonesia pada kondisi yang secara astronomi mustahil hilal terlihat.

“Pada 17 Februari lalu, konjungsi terjadi pukul 19.01 WIB—saat bulan sudah di bawah ufuk. Tidak mungkin terlihat. Namun Kementerian Agama tetap mengirim minimal 500-1.000 orang ke 100 lokasi. Ini pemborosan uang pajak rakyat yang seharusnya bisa untuk beasiswa atau pembangunan sekolah,” kritiknya tajam.

Ia menduga ada kepentingan tertentu yang menjadikan sidang isbat sebagai “proyek berkala” dengan anggaran miliaran rupiah, meski secara saintifik tidak diperlukan.

“Saya pernah angkat tangan dalam sidang isbat ketika masih dipimpin Menteri Yaqut. Saya bilang: ‘Pak Menteri, hilal memang tidak terlihat sekarang, tapi jam 12 malam nanti sudah tujuh kali lebih besar. Masa itu bukan hilal?’ Jawaban standar akan dipertimbangkan. Pertimbangan macam apa? Ini ilmu pokoknya—doktrin yang tidak mau diubah,” keluhnya.

Seruan kepada Generasi Muda

Menutup pemaparan, peneliti yang bukan berlatar belakang astronomi murni ini—spesialisasinya adalah remote sensing atau penginderaan jauh—mengajak generasi muda Muslim untuk lebih kritis.

“Saya belajar astronomi secara otodidak. Dengan bantuan AI, perhitungan yang dulu membutuhkan empat bulan kini bisa selesai dalam beberapa jam. Anak muda harus memanfaatkan teknologi, jangan hanya ikut-ikutan tanpa berpikir kritis,” ajaknya.

Ia menawarkan pelatihan gratis bagi mahasiswa dan peneliti muda yang ingin memahami astronomi hisab secara mendalam, dengan harapan semakin banyak yang memahami urgensi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

“Kita sudah dikibuli puluhan tahun. Saatnya umat Islam menggunakan akal sehat dan sains untuk bersatu dalam kalender, bukan terpecah karena metode usang yang tidak relevan di era navigasi satelit,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Agama belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik dan prediksi tersebut. Sidang Isbat penentuan 1 Syawal 1447 H dijadwalkan pada 19 Maret 2026 mendatang.

Sumber

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________