Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, Menjelang 1 Syawal, pemandangan yang hampir pasti terulang setiap tahun adalah membludaknya pengunjung di pusat-pusat perbelanjaan. Mal dan pasar tradisional berubah menjadi lautan manusia yang berburu pakaian baru untuk hari raya. Seolah ada “kewajiban sosial tak tertulis” yang mengharuskan setiap individu—tanpa terkecuali—mengenakan busana baru saat Idulfitri.
Tradisi ini telah mengakar begitu kuat dalam masyarakat Muslim, hingga sebagian orang merasa tidak “pantas” atau kurang percaya diri jika tidak mengenakan pakaian baru saat bersilaturahmi. Bahkan, tidak jarang fenomena ini memicu perilaku konsumtif yang melampaui batas kemampuan ekonomi, hanya demi memenuhi tuntutan sosial atau gengsi semata.
Apa yang Sebenarnya Dianjurkan dalam Islam?
Jika kita merujuk pada khazanah hadis dan literatur fiqih Islam, akan kita temukan bahwa esensi sejati perayaan Idulfitri bukanlah terletak pada seberapa mahal harga baju yang kita kenakan, melainkan pada penghormatan terhadap keagungan hari kemenangan tersebut.
Islam memang mengajarkan umatnya untuk berpenampilan rapi, bersih, dan harum ketika menghadiri shalat Id. Ini adalah bentuk syukur kepada Allah dan bagian dari pengagungan syiar-syiar-Nya. Rasulullah ﷺ sendiri memberikan keteladanan dalam hal berpakaian yang elok, namun tetap dalam koridor kesederhanaan dan tidak berlebihan.
Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah saw. selalu memilih pakaian yang bagus secara estetika pada hari raya:
عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كاَنَ يَلْبَسُ بُرْدَ حِبَرَةٍ فِيْ كُلِّ عِيْدٍ
“Dari Ja‘far Ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya (dilaporkan) bahwa Nabi saw. selalu memakai wool (burdah) bercorak [buatan Yaman] pada setiap Id.” (HR. asy-Syafi‘i)
Burdah bercorak dari Yaman pada masa itu adalah pakaian yang indah dan rapi, namun tetap dalam batas kewajaran. Nabi Saw ingin menunjukkan bahwa menghadap Allah dan berkumpul dengan sesama Muslim harus dilakukan dengan penampilan yang layak dan menyenangkan pandangan mata.
Kesalahpahaman yang sering muncul adalah menyamakan kata “terbaik” dengan “terbaru”. Cucu Rasulullah Saw, Al-Hasan, pernah menyampaikan perintah kakeknya mengenai persiapan hari raya:
عَنِ اْلحَسَنِ السِّبْطِ قَالَ: أَمَرَناَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِيْ العِيْدَيْنِ أَنْ نَلْبَسَ أَجْوَدَ ماَ نَجِدُ وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدِ ماَ نَجِدُ… وَأَنْ نُظْهِرَ التَّكْبِيْرَ وَالسَّكِيْنَةَ وَاْلوٍقَارَ.
“Diriwayatkan dari al-Hasan cucu Rasulullah saw. ia mengatakan: Kami diperintahkan oleh Rasulullah saw. untuk pada dua hari raya [Idulfitri dan Iduladha] memakai pakaian kami terbaik yang ada, memakai wangi-wangian terbaik yang ada… dan supaya kami menampakkan keagungan Allah, ketenangan dan kekhidmatan.” (HR. Al-Hakim)
Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ mengenakan pakaian terbaik yang beliau miliki saat keluar untuk shalat Id. Namun perhatikan dengan saksama redaksi yang digunakan: “ajwada mā najidu” (pakaian terbaik yang kami miliki).
Makna “Terbaik yang Ada”, Bukan “Terbaru yang Dibeli”
Kata kunci “terbaik yang ada” mengandung makna kelenturan dan fleksibilitas. Ini berarti jika pakaian terbaik yang kita miliki adalah baju yang sudah tersimpan bertahun-tahun, namun masih bersih, rapi, layak, dan wangi, maka itulah yang memenuhi anjuran sunnah. Tidak ada kewajiban syariat untuk menguras kantong atau bahkan berutang demi membeli selembar pakaian baru, apalagi hanya bertujuan untuk pamer kemewahan atau mengikuti tren.
Sunnah Nabi bukan terletak pada label harga atau merek pakaian, tetapi pada niat menghormati hari besar dan menjaga kesucian penampilan sebagai cerminan dari kesucian hati.
Esensi Sejati Idulfitri: Syukur dan Takbir, Bukan Peragaan Busana
Hakikat perayaan Idulfitri adalah tasyakkur (ungkapan syukur kepada Allah atas nikmat penyelesaian ibadah Ramadan) dan takbir (pengagungan asma Allah yang Mahasuci). Hari raya bukan arena peragaan busana, bukan ajang kompetisi status sosial, dan bukan pula panggung untuk pamer harta.
Kerapian, kebersihan, dan wangi-wangian yang kita kenakan hanyalah “bungkus luar” yang seharusnya mencerminkan kekhusyukan hati dan kebersihan jiwa setelah sebulan penuh ditempa dalam ibadah puasa dan malam-malam penuh dengan tadarus serta qiyamul lail.
Penampilan Elok dengan Hati yang Tenang
Anjuran untuk tampil elok pada hari raya tetap harus dibarengi dengan sakinah (ketenangan jiwa) dan wiqar (kekhidmatan dan ketenangan dalam berperilaku). Renungkanlah: apa gunanya baju baru yang berkilau dan menawan, jika hati masih diselimuti oleh kesombongan dan riya’? Apa artinya wangi-wangian mahal yang menyeruak, jika lisan belum mampu memaafkan kesalahan orang lain? Apa makna penampilan sempurna di hadapan manusia, jika jiwa masih kosong dari rasa syukur kepada Allah?
Penutup: Kembali kepada Substansi
Idulfitri adalah momentum untuk menampilkan yang terbaik dari diri kita, tetapi bukan dalam pengertian materialistis. Yang terbaik adalah hati yang bersih, niat yang ikhlas, lisan yang lembut, dan sikap yang penuh kasih sayang.
Pakaian baru boleh-boleh saja, selama tidak menjadi beban ekonomi, tidak lahir dari niat pamer, dan tidak menjadikan kita lupa akan esensi sejati hari kemenangan itu.
Mari kita kembali kepada substansi: Idulfitri adalah perayaan kemenangan spiritual, bukan parade konsumerisme. Jadikan Ramadan sebagai ladang perbaikan diri, dan jadikan Idulfitri sebagai titik tolak kebangkitan akhlak yang lebih mulia.
Taqabbalallāhu minnā wa minkum. Selamat Hari Raya Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.