PUNGGAWANEWS, BULU’SARAUNG — Lereng terjal Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menjadi saksi bisu salah satu tragedi penerbangan yang mengguncang nurani bangsa. Cuaca ekstrem berupa hujan tanpa henti, kabut tebal, serta medan bebatuan dan hutan lebat menyelimuti kawasan tersebut saat pesawat ATR 42-500 mengalami kecelakaan dalam sebuah misi patroli dan pengawasan udara.
Pesawat tersebut sebelumnya lepas landas dalam kondisi normal. Tidak ada tanda-tanda gangguan teknis maupun cuaca yang mencurigakan saat awal penerbangan. Di dalam kabin, awak dan personel menjalankan tugas sebagaimana mestinya, tanpa firasat bahwa perjalanan itu akan menjadi yang terakhir.
Namun, saat memasuki wilayah udara Sulawesi Selatan dengan kontur pegunungan karst yang dikenal curam dan kerap diselimuti kabut tebal, situasi berubah drastis. Menjelang siang hari, komunikasi radio dengan pengatur lalu lintas udara terputus secara tiba-tiba. Tidak ada sinyal darurat yang diterima. Pesawat pun menghilang dari radar, memicu kekhawatiran mendalam.
Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan segera digerakkan. Tim yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, serta relawan diterjunkan ke medan yang nyaris tak bersahabat. Tebing curam, jurang dalam, hutan rapat, dan cuaca yang cepat berubah menjadi tantangan besar. Setiap langkah mengandung risiko, setiap tarikan napas diiringi doa.
Di tengah keterbatasan peralatan dan ancaman keselamatan, para personel SAR menunjukkan dedikasi luar biasa. Mereka bekerja siang dan malam, membuka jalur, mengangkut logistik, hingga melakukan evakuasi di medan ekstrem. Operasi ini tidak semata-mata menjalankan tugas, tetapi juga pengabdian terhadap kemanusiaan.
Peran masyarakat Sulawesi Selatan menjadi bagian tak terpisahkan dari misi ini. Warga setempat membuka rumah mereka untuk tim SAR, menyediakan makanan, menjadi penunjuk jalan, bahkan turut menyusuri hutan dan lereng gunung. Sekat-sekat perbedaan seakan lenyap, menyisakan satu tekad: saling membantu.
Serpihan demi serpihan pesawat akhirnya ditemukan, mengonfirmasi kekhawatiran terburuk. Pesawat ATR 42-500 diketahui menghantam lereng gunung dengan keras, menyebabkan badan pesawat hancur dan puing-puingnya tersebar di sekitar air terjun dan dasar jurang.
Titik terang muncul pada Rabu, 21 Januari 2026, ketika tim SAR gabungan berhasil menemukan black box pesawat milik Indonesia Air Transport (EAT). Perangkat vital tersebut ditemukan masih melekat di bagian ekor pesawat, di sebuah tebing curam ratusan meter di bawah puncak gunung. Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) dilaporkan dalam kondisi relatif utuh.
Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin, Kolonel Infanteri Dodi Priohadi, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan tim di tengah medan berisiko tinggi. Ia menjelaskan bahwa proses evakuasi black box menuju pos utama membutuhkan waktu dan kehati-hatian ekstra mengingat kontur ekstrem dan kondisi cuaca yang tidak menentu.
Penemuan black box bukanlah akhir dari operasi, melainkan awal dari upaya mengungkap kebenaran. Data teknis penerbangan, percakapan awak, serta keputusan-keputusan pada menit-menit terakhir akan menjadi kunci untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan tersebut.
Di balik tragedi ini, Operasi Kemanusiaan Bulusaraung menjadi cermin jati diri bangsa. Bahwa dalam duka, Indonesia berdiri bersama. Keberanian tidak selalu lahir dari kekuatan fisik, melainkan dari ketulusan. Persaudaraan masyarakat Sulawesi Selatan terbukti menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan oleh medan seberat apa pun.
Para awak pesawat gugur dalam menjalankan tugas hingga akhir. Para penolong mengerahkan tenaga dan jiwa tanpa pamrih. Masyarakat menunjukkan makna kemanusiaan yang sesungguhnya—bahwa dalam kesedihan, tak seorang pun berjalan sendirian.
Gunung Bulusaraung akan dikenang bukan semata sebagai lokasi jatuhnya pesawat, melainkan sebagai tempat di mana kemanusiaan bangkit, persaudaraan menguat, dan doa serta harapan bersatu. Tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya tanggung jawab, kehati-hatian, serta rasa hormat manusia terhadap alam.
Karena pada akhirnya, meski manusia mampu menaklukkan langit, hanya dengan kerendahan hati manusia dapat hidup berdampingan dengan alam.






Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.