Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, YERUSSALEM – Perjalanan spiritual menyusuri jejak para nabi di Tanah Suci Palestina bukan sekadar wisata religi biasa. Di negeri yang diberkahi ini, sejarah tidak hanya tercatat dalam lembaran kitab suci, melainkan terukir nyata pada bebatuan kuno, lembah yang hening, dan perbukitan yang membentang menghadap kota suci Yerusalem.
Sebuah dokumentasi perjalanan religi membawa pemirsa menjelajahi tiga lokasi bersejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan dan keimanan para nabi. Dari kota Hebron yang menyimpan makam Nabi Ibrahim AS—sang Khalilullah dan bapak para nabi, menuju Jericho yang dipercaya sebagai kota tertua di dunia, hingga Bukit Zaitun yang menawarkan pemandangan megah Masjidil Aqsa dari kejauhan.
Hebron: Kota Warisan Nabi Ibrahim
Kota Hebron, yang terletak di perbukitan selatan Yerusalem, tercatat sebagai salah satu pemukiman tertua di dunia yang terus dihuni tanpa henti. Menurut ulama Buya Zulkifli, kota ini telah berdiri sejak 3.500 tahun silam, bahkan sebelum Nabi Daud AS membangun Yerusalem.
“Nabi Daud AS sebelumnya telah membangun kota di Hebron, baru kemudian berpindah ke Yerusalem,” jelas Buya Zulkifli dalam penjelasannya.
Sepanjang sejarah, Hebron mengalami pergantian kekuasaan dari berbagai kekaisaran—mulai dari Babilonia, Romawi, hingga akhirnya jatuh ke tangan umat Islam pada abad ketujuh. Kini, kota ini menjadi wilayah yang didominasi umat Islam, meskipun statusnya masih diperdebatkan.
Bagi tiga agama besar—Islam, Kristen, dan Yahudi—Hebron dianggap sebagai tanah suci. Di sinilah dimakamkan Nabi Ibrahim AS bersama istrinya Siti Sarah, Nabi Yakub AS, dan Nabi Ishak AS beserta istri-istri mereka. Beberapa ahli sejarah bahkan menyebutkan makam Nabi Yusuf AS juga berada di lokasi ini.
Kompleks Masjid Ibrahimi: Simbol Persimpangan Tiga Agama
Perjalanan menuju Masjid Ibrahimi dimulai dari Yerusalem yang bernuansa modern. Setelah menempuh jarak sekitar 30 kilometer, suasana berubah drastis ketika memasuki wilayah Hebron. Bangunan modern berganti dengan struktur yang lebih sederhana dan tradisional.
Dari halte bus, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati kompleks perumahan warga Hebron. Sepanjang jalan, anak-anak setempat menyambut pengunjung dengan ramah, sementara para pedagang menawarkan berbagai barang dagangan. Namun, kebebasan berbelanja dibatasi oleh aturan militer Israel Defense Forces (IDF).
Setelah melewati pemeriksaan ketat, pengunjung akhirnya memasuki kawasan Masjid Ibrahimi. Bangunan megah ini berdiri kokoh dengan tembok batu raksasa peninggalan zaman Romawi, menjadi simbol pertemuan sejarah tiga agama besar dunia.
Di dalam kompleks terdapat cenotaph atau makam simbolis berbentuk bangunan serupa kubur megah yang diselimuti kain kiswah berwarna hijau. Perlu dipahami, bangunan ini bukanlah makam sesungguhnya, melainkan penanda yang dibangun tepat di atas Gua Machpelah atau Makpela, tempat pemakaman asli yang berada di bawah tanah dan tidak dapat diakses publik.

Salah satu harta karun bersejarah di masjid ini adalah mimbar kayu berusia lebih dari 900 tahun. Dibuat dengan teknik kundekari—seni menyambung kayu tanpa paku atau lem—mimbar ini dipindahkan dari Askelon ke Hebron atas perintah Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1191. Karya agung ini menjadi salah satu mimbar tertua dan terindah di dunia Islam.
Tragedi tahun 1994 meninggalkan luka mendalam. Akibat kejadian tersebut, masjid yang awalnya luas akhirnya dibagi dua berdasarkan keputusan yang melibatkan Amerika Serikat dan PBB. Bagian depan dinyatakan untuk umat Islam, sementara bagian belakang yang lebih strategis, termasuk akses ke makam Nabi Yusuf di lantai satu, diklaim sebagai milik komunitas Yahudi. Umat Islam dilarang memasuki area tersebut.
Ekonomi Rakyat Palestina: Kerajinan Tradisional Hebron
Hebron terkenal dengan kerajinan tradisionalnya yang berkualitas tinggi. Di pusat kerajinan Palestina, berbagai suvenir khas tersedia—mulai dari kurma, minyak zaitun, hiasan dinding dari kerang, hingga berbagai produk oleh-oleh autentik.

Kerajinan hias dari kerang merupakan warisan yang dipelajari secara turun-temurun, bahkan telah ada sejak zaman para nabi. Berbagai hiasan dinding dan miniatur masjid dapat dibuat dengan bahan ini. Meskipun harganya cukup mahal, kualitasnya sepadan.
Para ulama mengingatkan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan di sini membantu menggerakkan perekonomian rakyat Palestina dan memberikan harapan bagi masyarakat setempat.
Jericho: Oasis di Tengah Gurun Pasir
Perjalanan berlanjut ke Jericho (Ariha), kota yang dipercaya telah dihuni lebih dari 10.000 tahun. Terletak di lembah subur, Jericho dikenal sebagai kota kurma dan oasis di tengah gurun, dengan posisi 220 meter di bawah permukaan laut—menjadikannya kota terendah di dunia.

Menurut Ustaz Zulkifli Muhammad Ali, kota ini disebutkan dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 58, ketika Allah SWT memerintahkan Bani Israil yang dipimpin Nabi Musa AS untuk memasuki kota tersebut dengan penuh kerendahan hati.
Gunung Pencobaan: Simbol Ujian Keimanan
Jebel Quruntul atau Gunung Pencobaan adalah bukit tertinggi di Jericho dengan ketinggian 348 meter. Tempat ini memiliki makna spiritual mendalam dalam tradisi agama-agama samawi.

Dalam kepercayaan Kristen, ini adalah lokasi Yesus berpuasa selama 40 hari. Dalam Islam, tempat ini diyakini sebagai salah satu lokasi Nabi Isa AS beribadah dan menerima wahyu. Di seberang gunung ini juga dipercaya sebagai tempat Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS.
Ustaz Rahmad Baikuni menjelaskan bahwa Siti Maryam bersandar pada pohon kurma ketika melahirkan, dan Malaikat Jibril menghentakkan kakinya tiga kali hingga keluarlah mata air—seperti peristiwa yang terjadi pada Siti Hajar dan Nabi Ismail AS di Makkah.
Makam Nabi Musa: Warisan Spiritual di Gurun Yudea
Sekitar 11 kilometer ke selatan Jericho, terdapat kompleks masjid dan situs ziarah bersejarah yang dipercaya sebagai lokasi makam Nabi Musa AS. Dibangun oleh Sultan Mamluk Baibars pada tahun 1269 Masehi, situs ini menampilkan arsitektur berkubah yang megah.

Di dalam masjid terdapat makam sepanjang 3 meter dan lebar 1,5 meter, dibungkus kain hijau bertuliskan kalimat tauhid.
Bukit Zaitun: Pandangan Terakhir Menuju Al-Aqsa
Bukit Zaitun (Jabal al-Zaytun) adalah lokasi tertinggi yang menghadap langsung ke Kota Lama Yerusalem dan Masjidil Aqsa. Dari sini, kompleks Al-Aqsa yang dirindukan umat Islam seluruh dunia terlihat jelas.

Ustaz Rahmad Baikuni menjelaskan bahwa tempat ini disebutkan dalam Al-Quran sebagai tanah yang diberkati. “Ketika panji Islam berkibar di Bukit Zaitun ini, artinya dunia kembali ke pangkuan Allah dan Rasul-Nya,” ujarnya.
Nama Bukit Zaitun berasal dari pohon zaitun terbaik yang pernah tumbuh di bumi yang diberkati—Ardul Muqaddasah. Dari sinilah, dipercaya akan terjadi kebangkitan Islam terakhir sebelum hari kiamat.
Masjid Umar: Simbol Toleransi Antarumat Beragama
Di kawasan Kristen (Christian Quarter) Kota Lama Yerusalem, berdiri Masjid Umar yang memiliki sejarah toleransi luar biasa. Masjid ini dinamai sesuai Khalifah Umar bin Khattab yang mengunjungi Yerusalem pada tahun 15 Hijriah (636 Masehi).

Kisah mencatat, ketika ditawari shalat di dalam Gereja Makam Kudus, Khalifah Umar menolak demi menjaga agar gereja tetap menjadi rumah ibadah Kristen. Beliau kemudian membentangkan jubahnya dan shalat di halaman luar gereja, yang kemudian menjadi lokasi masjid ini.
Masjid Umar menjadi lambang hidup toleransi dan penghormatan antarumat beragama di Yerusalem.
Gerbang-Gerbang Masjidil Aqsa
Kompleks Masjidil Aqsa memiliki 11 pintu gerbang. Salah satunya, Baburrahmah di sisi timur, ditutup sejak Perang Salib dimenangkan Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1187.

Sembilan pintu lainnya yang terbuka antara lain: Bab al-Ghanim, Bab al-Maghribi, Bab as-Salam, Bab as-Silsilah, Bab as-Sarai, Bab al-Atim, dan Bab Huthah. Jamaah Indonesia dan Malaysia umumnya memasuki kompleks melalui Bab Huthah karena dekat dengan kawasan hotel di Yerusalem Timur.
Semua pintu masuk dijaga ketat oleh tentara IDF Israel yang memiliki wewenang mengizinkan siapa pun yang masuk.
Penutup: Lebih dari Sekadar Wisata Sejarah
Perjalanan napak tilas ini bukan semata wisata sejarah, melainkan perjalanan hati untuk mengenal para nabi lebih dekat dan merenungkan kembali makna keimanan dalam kehidupan.
Dari Hebron, Jericho, hingga Yerusalem, tanah para nabi mengajarkan tentang tauhid murni, kesabaran dalam ujian, dan keteguhan iman di tengah keterbatasan. Setiap transaksi kecil, setiap doa yang dipanjatkan, menjadi bagian dari harapan dan dukungan bagi saudara-saudara di Palestina yang terus berjuang mempertahankan warisan spiritual umat manusia.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.