PUNGGAWANEWS, MEDAN – Pakar Ilmu Falak Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, membantah kritik seorang pakar falak yang berafiliasi dengan BRIN dan Kementerian Agama terkait penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Arwin mengapresiasi perhatian pakar tersebut dalam menganalisis KHGT, khususnya perbedaan penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah yang diprediksi jatuh pada 18 atau 19 Februari mendatang. Namun, ia menilai kesimpulan yang disampaikan tidak sejalan dengan keputusan Majelis Tarjih dan Tajdid.

Dalam tanggapan yang dipublikasikan Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara pada Kamis pekan lalu, Arwin mempertanyakan fokus berlebihan pakar tersebut terhadap peta KHGT. Padahal, sebelumnya pakar yang sama justru kerap mempertanyakan relevansi KHGT dan lebih mengunggulkan peta-peta lama.

Persoalan Metodologi

Arwin menjelaskan, Majelis Tarjih dan Tajdid memilih pendekatan geosentrik setelah melakukan analisis komprehensif terhadap peta Diyanet Turki. Hasil penelusuran bersama tim IT dan perangkat lunak Majelis Tarjih menemukan inkonsistensi penggunaan pendekatan astronomi oleh Diyanet—kadang toposentrik, kadang geosentrik.

“Analisis komprehensif ini penting untuk memahami alasan Majelis Tarjih dan Tajdid memilih pendekatan geosentrik, bukan toposentrik,” katanya.

Ia menyayangkan jika kajian Majelis Tarjih yang bersifat menyeluruh lintas bulan kemudian dinilai “tidak cermat” dan “tidak akurat” hanya berdasarkan analisis satu bulan saja. Menurutnya, penilaian seperti itu mencerminkan sikap kurang terbuka dan cenderung tendensius.

Interpretasi Konferensi Turki 2016

Arwin juga meluruskan pernyataan bahwa KHGT seharusnya merujuk tinggi toposentrik sesuai Konferensi Turki 2016. Ia menegaskan, dokumen resmi konferensi tersebut tidak mencantumkan istilah definitif “toposentrik” maupun “geosentrik”.

Hasil konfirmasi kepada Diyanet Turki menunjukkan bahwa ketinggian dan elongasi yang dimaksud dalam kriteria 5-8 derajat bersifat geosentrik, bukan toposentrik.

Meski mengakui pandangan bahwa ketinggian dari ufuk selalu bermakna toposentrik merupakan pendapat ilmiah, Arwin menegaskan itu bukan satu-satunya pendapat yang berlaku. Ia mengingatkan perdebatan serupa pernah terjadi sangat intens saat penentuan awal Syawal 1443 Hijriah di Indonesia.

Arwin menyesalkan penggunaan diksi “mestinya KHGT” yang terkesan memaksakan satu interpretasi tertentu. Ia berharap kritik disampaikan dengan bahasa normatif namun tetap kritis, bukan dengan narasi yang tendensius.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________