PUNGGAWANEWS, JAKARTA – Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras ternyata memberikan dampak langsung terhadap penurunan harga beras di pasar global hingga 44 persen. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, Selasa (14/1).

Menurut Amran, harga beras dunia turun drastis dari US$650 per metrik ton menjadi US$340 per metrik ton sejak Indonesia menghentikan impor beras pada tahun 2025.

Kebijakan Tegas Presiden Prabowo Guncang Pasar Global

Amran menjelaskan bahwa keputusan Indonesia untuk menghentikan impor beras membuat pasokan dari negara-negara pengekspor menumpuk di pasar internasional. Kondisi ini memberikan tekanan signifikan terhadap harga global.

“Kebijakan tegas Presiden Prabowo Subianto telah membuat petani Indonesia berkontribusi secara tidak langsung terhadap stabilitas pasar beras dunia,” ujar Amran dalam keterangan resminya.

Selama bertahun-tahun, Indonesia kerap mengimpor beras untuk menutupi kekurangan produksi domestik. Namun, berkat kebijakan yang berpihak kepada petani, produksi beras nasional melonjak signifikan.

Stok Beras Awal 2026 Tertinggi dalam Sejarah Indonesia

Capaian paling membanggakan adalah stok awal beras pada tahun 2026 yang tercatat mencapai 3,25 juta ton—rekor tertinggi dalam sejarah Indonesia. Angka ini jauh melampaui stok akhir Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam 18 tahun terakhir yang belum pernah menembus angka 3 juta ton tanpa pasokan impor.

Sebagai perbandingan:

“Pencapaian swasembada beras ini adalah gagasan besar Presiden Prabowo yang kemudian dieksekusi oleh Kementerian Pertanian dengan dukungan TNI-Polri, Kejaksaan, Kementerian Perdagangan, BUMN, serta Komisi IV DPR,” jelas Amran.

Indonesia Resmi Berhenti Impor Beras Sejak 2025

Atas arahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia secara resmi menghentikan impor beras sejak tahun 2025 agar bangsa ini dapat berdiri di atas kaki sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok.

Menurut Amran, kebijakan ini berdampak langsung pada kesejahteraan petani. “Petani kita kini tidak lagi terpukul oleh harga beras impor yang murah. Mereka bisa menjual hasil panen dengan harga yang layak,” tegasnya.

Data FAO: Harga Beras Global Terendah dalam 5 Tahun

Gerakan harga beras dunia juga tercermin dalam data Food and Agriculture Organization (FAO) melalui indikator FAO Rice Price Index (FARPI).

Berdasarkan data FARPI, indeks harga beras global pada November 2025 berada di level 96,9terendah dalam 5 tahun terakhir. Sebelumnya, indeks FARPI terendah terjadi pada Agustus 2021 di level 97,9.

Yang menarik, baik pada tahun 2021 maupun 2025, Indonesia tidak melakukan impor beras untuk meningkatkan stok CBP. Hal ini menunjukkan besarnya pengaruh Indonesia terhadap dinamika pasar beras internasional.

“Ketiadaan impor beras Indonesia di tahun 2025 terbukti memberikan dampak signifikan terhadap harga global. Ini membuktikan bahwa Indonesia adalah pemain kunci di pasar beras dunia,” ujar Amran.

Swasembada Beras: Dari Mimpi Menjadi Kenyataan

Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras tidak terlepas dari berbagai program strategis yang dijalankan pemerintah, antara lain:

  1. Rehabilitasi dan perluasan lahan pertanian
  2. Penyediaan pupuk bersubsidi tepat waktu dan tepat sasaran
  3. Penguatan sistem irigasi
  4. Pendampingan intensif kepada petani melalui penyuluh pertanian
  5. Penerapan teknologi pertanian modern
  6. Perlindungan harga gabah di tingkat petani

“Ini bukan hanya soal angka produksi. Ini soal kedaulatan pangan, martabat bangsa, dan kesejahteraan petani,” tegas Amran.

Dampak Global: Tekanan pada Negara Eksportir

Keputusan Indonesia menghentikan impor beras memberikan tekanan besar pada negara-negara eksportir beras utama seperti Thailand, Vietnam, dan India. Pasokan yang menumpuk di pasar internasional memaksa mereka menurunkan harga untuk tetap kompetitif.

Analis perdagangan internasional, Dr. Bambang Setiawan, menilai bahwa langkah Indonesia sangat strategis.

“Indonesia adalah salah satu importir beras terbesar di dunia. Ketika kita berhenti impor, pasar global langsung bergejolak. Ini menunjukkan kekuatan ekonomi Indonesia di panggung dunia,” jelasnya.

Tantangan ke Depan: Menjaga Konsistensi Produksi

Meski pencapaian swasembada beras patut dibanggakan, Amran mengakui masih ada tantangan yang harus dihadapi, terutama terkait perubahan iklim dan ancaman alih fungsi lahan pertanian.

“Kita harus menjaga konsistensi produksi. Swasembada ini harus berkelanjutan, bukan hanya capaian sesaat,” ujarnya.

Pemerintah berkomitmen terus memperkuat sektor pertanian melalui investasi infrastruktur, penelitian dan pengembangan, serta peningkatan kapasitas petani.

Petani Indonesia: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Amran menutup pernyataannya dengan memberikan apresiasi tinggi kepada para petani Indonesia yang telah bekerja keras di sawah.

“Petani kita adalah pahlawan sejati. Mereka yang membuat Indonesia bisa makan tanpa bergantung pada negara lain. Terima kasih kepada seluruh petani Indonesia,” ucapnya dengan penuh haru.

Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras bukan hanya prestasi ekonomi, tetapi juga simbol kebangkitan kedaulatan pangan nasional. Dengan stok beras tertinggi dalam sejarah dan kontribusi nyata terhadap stabilitas pasar global, Indonesia kini membuktikan bahwa bangsa besar adalah bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri.

Sumber: Kementerian Pertanian RI, FAO Rice Price Index, Badan Pangan Nasional

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________