PUNGGAWANEWS, Dalam kehidupan sehari-hari, kata syukur sering kali diucapkan. Namun, sejauh mana makna syukur benar-benar kita pahami dan praktikkan? Inilah yang menjadi inti kajian Ustadz Adi Hidayat dalam tausiyahnya tentang menanamkan kedamaian pada jiwa yang paling dalam.
Hakikat Syukur: Bukan Sekadar Ucapan
Syukur bukan hanya ucapan “terima kasih” kepada Allah. Syukur adalah mengekspresikan rasa terima kasih atas nikmat Allah dengan menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak-Nya. Inilah kunci utama yang sering terlupakan.
Sebagai contoh, Allah menganugerahkan mata yang sehat dan mampu melihat. Apakah itu sudah cukup untuk disebut bersyukur? Belum. Syukur atas nikmat penglihatan diwujudkan dengan menggunakan mata hanya untuk melihat hal-hal yang diridhai Allah. Ketika pandangan diarahkan menjauh dari yang haram dan tidak pantas, itulah bentuk syukur yang nyata, yang dalam Al-Qur’an disebut ghaddul bashar (menundukkan pandangan), sebagaimana perintah Allah dalam Surah An-Nur ayat 30 dan 31.
Syukur dengan Lisan dan Sikap Diam
Demikian pula nikmat lisan. Lisan yang sehat dan mampu berbicara dengan jelas adalah anugerah besar. Cara mensyukurinya bukan dengan banyak berbicara, tetapi dengan berkata baik atau memilih diam. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”
Diam menjadi bernilai emas ketika yang hendak diucapkan tidak membawa kebaikan. Sebaliknya, berkata baik dan menyebarkan manfaat adalah wujud syukur yang sesungguhnya.
Seluruh Hidup Adalah Ladang Syukur
Konsep syukur ini berlaku untuk seluruh aspek kehidupan: tubuh, pakaian, kendaraan, hingga harta benda. Pakaian disyukuri dengan cara diperoleh secara halal dan digunakan sesuai syariat, termasuk menutup aurat dengan benar. Kendaraan disyukuri dengan menggunakannya untuk hal-hal yang diridhai Allah—bekerja dengan jujur, bersilaturahmi, berbakti kepada orang tua, dan menghadiri majelis ilmu.
Itulah sebabnya Islam mengajarkan doa saat menaiki kendaraan, sebagai pengingat bahwa semua fasilitas hidup ini akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Syukur yang Mendatangkan Tambahan Nikmat
Allah berjanji dalam Surah Ibrahim ayat 7:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
Menariknya, tambahan nikmat itu tidak selalu berupa materi. Bisa jadi rasa nikmat yang bertambah, meski barang yang dimiliki tetap sama. Ada orang yang memiliki sesuatu yang sederhana, tetapi merasakan kebahagiaan luar biasa. Sebaliknya, ada yang memiliki banyak fasilitas, namun tidak mampu menikmatinya.
Inilah keajaiban syukur: ia menumbuhkan rasa cukup, tenteram, dan bahagia.
Mengelola Keinginan dan Nafsu
Syukur juga membantu seseorang membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Minum untuk menghilangkan haus adalah kebutuhan. Namun ketika keinginan terus dituruti tanpa kendali, nafsu akan menguasai jiwa. Orang yang bersyukur mampu menikmati apa yang ada tanpa dikuasai hasrat berlebihan.
Dengan syukur, hidup menjadi lebih ringan, tidak melelahkan, dan penuh ketenangan. Setiap kondisi terasa netral dan dapat dinikmati dengan lapang dada.
Syukur sebagai Jalan Pulang yang Tenang
Ustadz Adi Hidayat mengingatkan, syukur akan memudahkan perjalanan kita kembali kepada Allah. Orang yang hidupnya dipenuhi syukur akan menghadapi hisab yang ringan, karena Allah ridha terhadap cara ia menjaga dan menggunakan amanah nikmat.
Kelak, jiwa yang tenang akan dipanggil dengan penuh kasih:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.”
Penutup
Syukur bukan sekadar kata, melainkan cara hidup. Ia adalah jalan untuk menanamkan kedamaian hingga ke dasar jiwa. Dengan syukur, setiap nikmat terasa cukup, setiap langkah bernilai ibadah, dan setiap perjalanan hidup mengarah pada keridhaan Allah.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur dan dianugerahi jiwa yang tenang. Aamiin.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.