Mengelola Keinginan dan Nafsu
Syukur juga membantu seseorang membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Minum untuk menghilangkan haus adalah kebutuhan. Namun ketika keinginan terus dituruti tanpa kendali, nafsu akan menguasai jiwa. Orang yang bersyukur mampu menikmati apa yang ada tanpa dikuasai hasrat berlebihan.
Dengan syukur, hidup menjadi lebih ringan, tidak melelahkan, dan penuh ketenangan. Setiap kondisi terasa netral dan dapat dinikmati dengan lapang dada.
Syukur sebagai Jalan Pulang yang Tenang
Ustadz Adi Hidayat mengingatkan, syukur akan memudahkan perjalanan kita kembali kepada Allah. Orang yang hidupnya dipenuhi syukur akan menghadapi hisab yang ringan, karena Allah ridha terhadap cara ia menjaga dan menggunakan amanah nikmat.
Kelak, jiwa yang tenang akan dipanggil dengan penuh kasih:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.”
Penutup
Syukur bukan sekadar kata, melainkan cara hidup. Ia adalah jalan untuk menanamkan kedamaian hingga ke dasar jiwa. Dengan syukur, setiap nikmat terasa cukup, setiap langkah bernilai ibadah, dan setiap perjalanan hidup mengarah pada keridhaan Allah.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur dan dianugerahi jiwa yang tenang. Aamiin.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.