Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS, PENAJAM PASER UTARA, KALIMANTAN TIMUR – Di tengah hiruk pikuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), sebuah bangunan megah dengan arsitektur unik mencuri perhatian. Masjid Negara IKN atau yang akrab disebut Masjid Nusantara hadir sebagai penanda baru peradaban Indonesia dengan konsep arsitektur berkelanjutan yang mengedepankan kelestarian lingkungan.

Berlokasi di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, masjid yang berdiri di atas lahan seluas 32 hektar ini menjadi salah satu kompleks rumah ibadah terbesar di Indonesia. Kehadirannya bukan sekadar sebagai tempat beribadah, melainkan juga representasi dari nilai-nilai toleransi dan keberagaman bangsa.

Kawasan Religi yang Menyatukan Semua Agama

Menurut Basuki Hadimuljono, Ketua Otorita Ibu Kota Nusantara sekaligus mantan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, kawasan tempat Masjid Nusantara berdiri memang sejak awal didesain sebagai kawasan religi. “Sejak perencanaan urban design, kawasan ini ditetapkan untuk menampung seluruh rumah ibadah berbagai agama yang ada di Indonesia,” ungkap Basuki.

Tidak hanya masjid, kawasan ini nantinya juga akan menjadi rumah bagi basilika Katolik, gereja Kristen, kelenteng, vihara, hingga pura. Semua rumah ibadah tersebut akan terhubung melalui jalur yang dinamakan “Jalur Silaturahmi” – sebuah konsep konkret dari toleransi beragama yang dijunjung tinggi di Indonesia.

Arsitektur Unik Berkonsep Sorban dan Tawaf

Yang membedakan Masjid Nusantara dengan masjid-masjid lainnya adalah kubah yang berbentuk menyerupai gulungan sorban. Bentuk ini bukan sekadar estetika, melainkan sarat makna filosofis yang mendalam.

“Kubah ini terinspirasi dari gulungan sorban yang dipadukan dengan aktivitas tawaf saat ibadah haji,” jelas Basuki. Jika dilihat dari udara, bentuk kubah yang melingkar searah jarum jam menciptakan pola menyerupai galaksi Bima Sakti, melambangkan gerakan mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram.

Sorban sendiri dalam konteks masjid ini menjadi identitas keagamaan, penghormatan, serta keimanan. Warna putih yang mendominasi melambangkan kesucian, kerendahan hati, dan keagungan. Sementara bentuknya yang berputar merepresentasikan kerukunan dalam berbangsa, bernegara, dan beragama di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.

Menara Tunggal Setinggi 99 Meter

Berbeda dengan masjid pada umumnya yang memiliki beberapa menara, Masjid Nusantara hanya memiliki satu menara setinggi 99 meter. Angka ini bukan tanpa makna – menara tunggal tersebut melambangkan keesaan Allah sekaligus mewakili 99 Asmaul Husna.

Desain menara yang menjulang dengan liukan ke atas mengartikan keilahian serta hubungan vertikal antara bumi dan langit, manusia dengan Sang Pencipta.

Pionir Green Building dengan Teknologi Canggih

Masjid Nusantara bukan hanya unggul dari sisi arsitektur, tetapi juga menjadi pelopor konsep bangunan ramah lingkungan (green building) di Indonesia. Meski lahan yang tersedia mencapai 32 hektar, hanya sekitar 50 persen yang dibangun, sisanya dijaga sebagai ruang terbuka hijau.

Salah satu strategi yang diterapkan adalah passive cooling – metode alami untuk menjaga suhu ruangan tetap sejuk tanpa bergantung sepenuhnya pada pendingin udara. Mengingat lokasi IKN yang berada dekat dengan garis khatulistiwa dan beriklim tropis, strategi ini sangat efektif untuk memberikan kenyamanan bagi jamaah.

“Ada beberapa indikator green building yang kami terapkan, mulai dari sistem pencahayaan yang hemat energi, sistem pendingin yang efisien, hingga ventilasi yang dihitung secara presisi,” ujar Basuki.

Masjid ini juga memanfaatkan energi terbarukan melalui pemasangan panel surya (solar panel) untuk mendukung kebutuhan listrik. Paparan sinar matahari yang konsisten sepanjang tahun di wilayah IKN dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan energi bersih dan berkelanjutan.

Tidak ketinggalan, sistem pengelolaan air juga sudah terkomputerisasi. Toren-toren air terintegrasi dengan sistem komputer yang akan memberikan peringatan otomatis jika kapasitas air menurun.

Teknologi Keamanan Berbasis Face Recognition

Dari sisi keamanan, Masjid Nusantara dilengkapi dengan teknologi pengenalan wajah (face recognition). Sistem ini sangat berguna untuk membantu mencari anak-anak yang terpisah dari orang tuanya saat berada di kawasan masjid yang luas.

Kapasitas Hingga 60 Ribu Jamaah

Pada tahap awal, bangunan utama masjid yang mencapai sekitar 7 hektar mampu menampung 30.000 jamaah. Namun seiring perkembangan kawasan dan fasilitas pendukung, kapasitas akan ditingkatkan hingga mampu menampung 60.000 jamaah.

Keindahan Interior yang Menenangkan

Bagian dalam masjid merupakan perpaduan harmonis antara arsitektur modern dan nilai-nilai islami. Pencahayaan alami dimaksimalkan melalui bukaan-bukaan besar yang memungkinkan sinar matahari masuk, memantul pada lantai dan dinding interior, menciptakan suasana hangat dan menenangkan.

Elemen dekoratif berupa kaligrafi ayat suci Al-Qur’an menghiasi ruang salat utama. Terdapat dua area kaligrafi utama: yang pertama berisi Asmaul Husna, dan yang kedua mengambil dari Surah Al-Baqarah yang menceritakan tentang kekuasaan Allah atas segala yang ada di dunia, baik yang terlihat maupun tidak terlihat.

Antusiasme Jamaah di Ramadan Pertama

Meski belum diresmikan secara resmi, Masjid Nusantara telah meramaikan kegiatan Ramadan 1446 H. Tahun ini menjadi momen bersejarah karena masjid ini ikut berperan dalam kegiatan pemantauan hilal.

Antusiasme jamaah luar biasa tinggi. Hampir setiap saf terisi penuh, bahkan banyak yang rela menempuh perjalanan hingga 1,5 jam untuk bisa merasakan berbuka puasa dan salat tarawih di masjid yang megah ini.

Salah seorang jamaah mengungkapkan kesan pertamanya saat berkunjung: “Saya merasa seperti berada di dua kota suci, Madinah dan Makkah. Profil bangunannya mengingatkan pada Masjidil Haram. Kerinduan untuk ke sana bisa terobati dengan datang ke sini.”

Toleransi dalam Aksi Nyata

Yang tak kalah menarik adalah tradisi penyajian bubur Nusantara untuk berbuka puasa. Menu ini merupakan bubur khas Samarinda dengan bumbu kari yang diracik turun-temurun, kini disajikan dengan nama bubur Nusantara.

Uniknya, pembuatan bubur ini melibatkan tidak hanya warga muslim, tetapi juga pegawai Otorita IKN dari berbagai agama – Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha. Mereka bergotong royong menyiapkan takjil untuk 500 hingga 1.200 jamaah setiap harinya.

“Ini sebagai bentuk toleransi kami. Walaupun berbeda agama, kami saling membantu di Nusantara ini,” ujar salah seorang relawan non-muslim yang turut membantu.

Simbol Harapan dan Masa Depan Peradaban Indonesia

Masjid Nusantara bukan sekadar bangunan fisik. Dengan arsitektur yang indah, kawasan yang luas, serta konsep ramah lingkungan yang menyatu dengan alam, masjid ini menjadi ruang spiritual yang mempersatukan umat dari berbagai penjuru Indonesia.

Kehadirannya di jantung Ibu Kota Nusantara adalah simbol dari Indonesia yang modern namun tetap menjunjung tinggi spiritualitas, toleransi, dan kelestarian lingkungan – nilai-nilai yang menjadi fondasi peradaban bangsa di masa depan.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________

🏮
🏮
🏮
🟢
🟢
🌙 Hitung Mundur Hari Raya Idul Fitri 1447 H
0
Hari
0
Jam
0
Menit
0
Detik
PUNGGAWANEWS.COM