PUNGGAWANEWS, KHAZANAH ISLAM – Di Provinsi Gansu, China barat laut, terdapat sebuah kota yang memiliki julukan unik dan sarat makna: Linxia, atau yang lebih dikenal sebagai “Makkah Kecil” di China. Julukan ini bukan tanpa alasan. Selama berabad-abad, Linxia telah menjadi pusat penyebaran ajaran Islam, tempat bertemunya dakwah, pendidikan, perdagangan, dan budaya Muslim di Negeri Tirai Bambu.

Linxia adalah kota setingkat county yang terletak di lembah Sungai Daxia, anak Sungai Kuning (Huang He), dan dikelilingi pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.917 meter di atas permukaan laut. Secara geografis, kota ini berada di jalur strategis Jalur Sutra kuno—rute perdagangan besar yang sejak abad ke-2 sebelum Masehi hingga abad ke-15 menghubungkan Romawi di Barat dengan China di Timur.

Kota Muslim di Tengah China

Menurut data pemerintah daerah, sekitar 51,4 persen penduduk Linxia berasal dari etnis Hui, yakni Muslim berbahasa Mandarin. Selain Hui, kota ini juga dihuni oleh berbagai kelompok etnis lain seperti Han, Salar (Muslim keturunan Turki), serta kelompok Santa dan Bao’an yang merupakan Muslim keturunan Mongol. Keberagaman ini menjadikan Linxia sebagai mozaik etnis dan budaya Islam yang unik di China.

Sejarah masuknya Islam ke China bermula pada pertengahan abad ke-7, ketika para pedagang Arab dan Persia datang untuk berdagang dan kemudian menetap di sejumlah kota. Gelombang berikutnya terjadi pada awal abad ke-13, saat ekspedisi militer Mongol ke Asia Tengah membawa masuk komunitas Muslim dari Persia, Arab, dan Asia Tengah. Perpaduan mereka dengan suku Han, Mongol, dan Uighur melahirkan etnis Hui, yang kini menjadi etnis Muslim terbesar ketiga di China dengan populasi mencapai jutaan jiwa.

Pusat Spiritual dan Intelektual Islam

Selama berabad-abad, umat Islam di Linxia hidup berdampingan dan terintegrasi dengan masyarakat mayoritas. Mereka dapat mengekspresikan keyakinan secara terbuka dan menjadikan agama sebagai pusat kehidupan sosial. Tak heran jika Linxia berkembang menjadi salah satu pusat keagamaan, budaya, dan perdagangan terpenting bagi Muslim China, hingga dijuluki “Little Mecca of China”.

Hampir setiap gerakan besar Islam di China memiliki akar sejarah di Linxia. Dari kota inilah para ulama dan dai menyebarkan ajaran Islam ke berbagai wilayah China setelah kembali dari pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah.

Kota Modern dengan Wajah Islam yang Kuat

Sekilas, Linxia tampak seperti kota-kota China lainnya: bangunan abu-abu, jalan-jalan lebar, dan deretan bendera merah nasional. Namun ketika menatap langit kotanya, pemandangan berubah drastis. Kubah masjid dan menara menjulang menghiasi cakrawala—sebuah pemandangan kontras di negara yang secara resmi menganut paham ateisme.

Jalan-jalan kota dipenuhi laki-laki dan perempuan dengan busana khas Muslim China, menjadikan Linxia terasa berbeda dan hidup dengan identitasnya sendiri. Arsitektur masjid di kota ini pun sangat beragam. Ada masjid dengan empat menara dan kubah besar bergaya Timur Tengah, ada pula masjid berkubah tunggal dengan menara kecil seperti yang banyak ditemui di desa-desa.

Yang paling khas adalah masjid-masjid yang memadukan arsitektur Islam dengan gaya tradisional China: atap menyerupai pagoda, ukiran kayu dan batu bercorak China, namun tetap mempertahankan prinsip dasar bangunan masjid.

Pada tahun 1985 tercatat terdapat 1.715 masjid di Prefektur Otonom Linxia. Jumlah ini meningkat menjadi 3.588 masjid pada tahun 2011, menunjukkan betapa kuat dan mengakarnya Islam di kawasan ini.

Jantung Sufisme di China

Linxia juga dikenal sebagai salah satu pusat Sufisme terpenting di China. Berbagai tarekat besar berkembang di sini, seperti Naqsyabandiyah, Kubrawiyah, Khufiyah, serta kelompok Salafi-Wahabi yang terpengaruh ajaran Timur Tengah. Zikir dan tradisi spiritual menjadi bagian penting dari kehidupan religius masyarakat.

Di sekitar Linxia dan pegunungan sekitarnya, tersebar banyak makam sufi yang dikenal sebagai gongbei. Makam-makam ini adalah tempat peristirahatan para syekh dan ulama besar, sebagian di antaranya memiliki silsilah keturunan hingga Nabi Muhammad ﷺ. Hingga kini, makam para pendiri tarekat masih diziarahi oleh pengikut dari berbagai wilayah China.

Salah satu yang paling terkenal adalah Kompleks Makam Yubaba (Yubaba Gongbei), serta makam Ma Laichi—tokoh sufi paling berpengaruh di Linxia, dikenal juga sebagai Abu al-Futuh Ma Laichi. Ia merupakan ulama Naqsyabandiyah yang pernah menimba ilmu di Arab Saudi dan Yaman sebelum kembali menyebarkan ajaran tasawuf di China.

Masjid Raya dan Tradisi Keilmuan

Masjid Raya Linxia merupakan masjid tertua dan terbesar di kota ini. Dibangun pada masa Dinasti Qing (1639–1911), masjid ini menjadi pusat pembelajaran Islam sejak abad ke-17, terutama setelah kunjungan ulama sufi Afaq Khoja dari Kashgar. Di kompleks masjid terdapat asrama dan ruang belajar bagi para penuntut ilmu, dengan puluhan santri yang menetap untuk mendalami ajaran Islam.

Di sekitar masjid, deretan toko suvenir, kerajinan tangan, dan kaligrafi Islam menjadi pemandangan umum. Hampir setiap rumah Muslim Hui di Linxia memiliki hiasan kaligrafi Arab di dindingnya—menjadi penanda kuatnya identitas religius dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya Hui dan Seni Ukir Batu

Budaya Hui di Linxia merupakan hasil percampuran panjang dengan budaya Han. Hal ini tercermin dalam seni, arsitektur, hingga kuliner. Restoran halal tersebar luas, dengan sertifikasi yang menjamin tidak digunakannya bahan non-halal seperti lemak babi.

Salah satu warisan budaya paling terkenal dari Linxia adalah seni ukir batu. Di kawasan kota tua, dinding-dinding rumah dihiasi pahatan batu dengan detail tiga dimensi yang hidup. Seni ukir ini diakui sebagai warisan budaya nasional China sejak 2006, memadukan teknik lukis dan pahatan untuk dekorasi bangunan seperti dinding, lorong, dan ambang pintu.

Menariknya, seni ukir batu Linxia juga menyebar hingga ke luar negeri, termasuk Indonesia. Para perajin China pernah mengajarkan teknik ini ke Jepara, Jawa Tengah—yang kini dikenal sebagai pusat seni ukir kayu terkenal di Indonesia.

Warisan Islam yang Terus Hidup

Linxia bukan sekadar kota Muslim di China. Ia adalah bukti hidup bahwa Islam telah lama berakar, beradaptasi, dan berkembang dalam peradaban China. Dengan masjid-masjidnya, tradisi sufistiknya, seni dan budayanya, Linxia layak disebut sebagai jantung spiritual Islam China—sebuah “Makkah kecil” yang terus menjaga denyut iman di jalur sejarah Jalur Sutra.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________