Kajian Subuh – Ustadz Adi Hidayat

Salah satu tanda luasnya kasih sayang Allah adalah cara Allah memperlakukan hamba-Nya ketika mereka diuji, bahkan ketika ajal terasa begitu dekat. Dalam sebuah kajian, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan kisah yang menggugah tentang bagaimana seorang mukmin sejati memandang kehidupan dan kematian dengan penuh rindu dan iman.

Luasnya Kasih Sayang Allah - Ustadz Adi Hidayat

Suatu ketika, ada seseorang yang sakit dan menjalani pemeriksaan medis. Dokter telah menyimpulkan bahwa secara medis, hidupnya tidak akan lama. Namun yang menarik, orang tersebut tidak menunjukkan ketakutan sebagaimana umumnya manusia. Justru yang keluar dari lisannya adalah ungkapan rindu, “Ya Allah, kapan waktunya aku pulang?” Pulang yang dimaksud bukan kembali ke rumah di dunia, melainkan kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ustadz Adi Hidayat kemudian menceritakan kisah nyata seorang ulama besar, Syaikh Jamaluddin Al-Afghani. Ketika beliau sakit dan menjalani pemeriksaan MRI, hasilnya menunjukkan bahwa secara medis beliau hanya memiliki waktu sekitar dua pekan untuk hidup karena komplikasi penyakit. Berita ini membuat para murid dan mahasiswa menangis, bahkan tidak sanggup mengikuti perkuliahan karena kesedihan yang mendalam.

Namun, respon sang Syaikh justru sangat berbeda. Beliau berkata, “Jika ada seseorang yang sudah lama kalian rindukan dan akhirnya akan segera kalian temui, apakah kalian akan sedih atau bahagia?” Para murid terdiam. Syaikh melanjutkan, “Aku sudah lama merindukan Allah. Aku akan segera bertemu dengan-Nya. Mengapa kalian menangis?”

Inilah gambaran iman yang luar biasa. Bertemu Allah bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi orang yang benar imannya, melainkan pertemuan yang dirindukan. Allah yang selama ini memberi kehidupan, oksigen, kenyamanan, dan kenikmatan tanpa pernah terlihat, akhirnya akan ditemui secara nyata. Maka bagi orang beriman, kematian bukan akhir, tetapi kepulangan.

Namun, Ustadz Adi Hidayat juga mengingatkan dengan sangat dalam: apakah kita pantas untuk pertemuan itu? Kita mengaku rindu bertemu Allah dan Rasul-Nya, tetapi sudahkah kita membersihkan diri? Bagaimana jika saat ingin bertemu Rasulullah, ternyata hati kita kotor, lisan kita kotor, dan amal kita penuh noda. Bukankah itu memalukan?

Allah menciptakan manusia dalam keadaan suci. Kita lahir dalam kondisi bersih, fitrah yang lurus. Tetapi ketika waktunya pulang, jangan sampai kita kembali kepada Allah dalam keadaan penuh dosa dan kelalaian. Seperti seorang anak yang pulang ke rumah orang tuanya dalam keadaan kotor karena bermain, tentu akan muncul rasa malu. Maka sebelum waktu itu datang, tugas kita adalah membersihkan diri, memperbaiki iman, dan menata amal.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam semesta, gunung-gunung, matahari, dan tanda-tanda kebesaran Allah bukan sekadar untuk dikagumi atau dijadikan status semata. Semua itu seharusnya menguatkan iman dan menambah rasa ingat kepada Allah. Perbedaan antara orang beriman dan yang tidak beriman bukan pada aktivitasnya, tetapi pada hatinya: apakah ia mengingat Allah atau lalai dari-Nya.

Allah mencintai hamba yang mengingat-Nya dalam berbagai keadaan, baik saat lapang maupun sempit, sehat maupun sakit. Bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun, Allah tetap membuka pintu kasih sayang dan harapan.

Maka, marilah kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar merindukan Allah? Jika rindu itu nyata, maka ia akan tercermin dalam ibadah, akhlak, dan kesungguhan memperbaiki diri. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang pulang kepada-Nya dengan hati yang bersih dan jiwa yang tenang.

Wallahu a‘lam.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________