Ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam semesta, gunung-gunung, matahari, dan tanda-tanda kebesaran Allah bukan sekadar untuk dikagumi atau dijadikan status semata. Semua itu seharusnya menguatkan iman dan menambah rasa ingat kepada Allah. Perbedaan antara orang beriman dan yang tidak beriman bukan pada aktivitasnya, tetapi pada hatinya: apakah ia mengingat Allah atau lalai dari-Nya.
Allah mencintai hamba yang mengingat-Nya dalam berbagai keadaan, baik saat lapang maupun sempit, sehat maupun sakit. Bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun, Allah tetap membuka pintu kasih sayang dan harapan.
Maka, marilah kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar merindukan Allah? Jika rindu itu nyata, maka ia akan tercermin dalam ibadah, akhlak, dan kesungguhan memperbaiki diri. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang pulang kepada-Nya dengan hati yang bersih dan jiwa yang tenang.
Wallahu a‘lam.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.