Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS, MAKASSAR — Persoalan persampahan kembali mencuat di Kota Makassar. Kelurahan Mangasa, Kecamatan Tamalate, menghadapi tekanan serius akibat ketimpangan antara volume sampah yang terus membengkak dengan jumlah armada pengangkut yang jauh dari memadai. Kondisi ini mendorong pihak kelurahan memutar otak agar layanan kebersihan tetap berjalan meski dengan keterbatasan yang ada.

Lurah Mangasa, Muhammad Nurdyansyah, mengakui bahwa wilayahnya menanggung beban yang tidak ringan. Dengan kepadatan penduduk yang tinggi, timbunan sampah yang dihasilkan setiap harinya jauh melampaui kapasitas pengangkutan yang tersedia. Saat ini, Kelurahan Mangasa hanya memiliki 14 motor roda tiga dan 3 unit mobil pengangkut sampah. Namun dari belasan motor tersebut, tiga unit dilaporkan mengalami kerusakan parah dan tidak bisa beroperasi, sementara sisanya kondisinya tidak jauh lebih baik lantaran kerap mogok di tengah jalan akibat perawatan yang kurang optimal.

Nurdyansyah mengungkapkan, apabila dihitung berdasarkan kebutuhan riil di lapangan, Kelurahan Mangasa semestinya memiliki sekitar dua unit motor roda tiga di setiap RW ditambah enam unit mobil pengangkut. Dengan 13 RW yang ada di wilayahnya, angka tersebut mencerminkan kebutuhan minimum agar pengangkutan sampah dapat berjalan secara menyeluruh dan maksimal.

Meski terjepit keterbatasan armada, pihak kelurahan tidak tinggal diam. Sistem pembagian jadwal pengangkutan diterapkan sebagai solusi sementara, di mana hari pertama difokuskan untuk melayani RW 1 hingga RW 6, kemudian keesokan harinya giliran RW 7 sampai RW 13. Pola rotasi ini menjadi jalan tengah agar seluruh wilayah tetap terlayani meski tidak bisa ditangani serentak dalam satu hari.

Di tingkat kota, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin yang akrab disapa Appi telah menyatakan niatnya untuk menganggarkan pengadaan kendaraan pengangkut sampah baru pada tahun ini. Namun sambil menunggu realisasi pengadaan tersebut, ia meminta seluruh camat dan lurah untuk tidak berpangku tangan. Appi mendorong jajarannya menyusun diagram alur pengangkutan sampah yang terstruktur dan terukur, guna memastikan waktu pembuangan sampah oleh warga benar-benar selaras dengan jadwal penjemputan oleh petugas.

Appi menekankan bahwa celah waktu antara pembuangan dan pengangkutan sampah harus ditekan sekecil mungkin. Ia mencontohkan, jika warga membuang sampah pukul 10 pagi, maka pengangkutan tidak boleh mundur hingga sore hari karena jeda tersebut justru menjadi pemicu penumpukan sampah yang mengganggu lingkungan dan estetika kota.

Lebih jauh, orang nomor satu di Makassar itu juga mengajak seluruh lurah, camat, hingga pengurus RT dan RW untuk menghadirkan inovasi dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas. Salah satu yang didorong adalah penerapan Teba, yakni metode pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi kompos, sebagai upaya mengurangi volume sampah dari sumbernya sebelum sampai ke tempat pembuangan akhir.



Follow Widget