PUNGGAWANEWS, Mesir belum tidur, tetapi rumah-rumah Bani Israil telah lama kehilangan ketenangan. Sejak Firaun mengeluarkan perintah kejamnya—membunuh setiap bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil—malam tak lagi menjadi waktu istirahat. Ia berubah menjadi pengadilan sunyi yang menegangkan. Setiap keluarga menanti dengan cemas: siapa yang masih bisa menyambut fajar, dan siapa yang direnggut sebelum matahari terbit.
Di sebuah rumah kecil yang sederhana, seorang ibu bernama Yukabat memeluk bayinya erat-erat. Bayi itu masih mungil, lemah, dan belum mengerti dunia yang sedang memburunya. Namanya Musa.
Malam itu tak ada lagu pengantar tidur. Tak ada senandung lembut atau tawa kecil keluarga. Yang terdengar hanya doa lirih, napas yang ditahan, dan telinga yang siaga pada setiap bunyi di luar pintu.
“Tenang, anakku… jangan menangis. Tolong… jangan malam ini.”
Yukabat menenangkan Musa, lalu menenangkan dirinya sendiri. Ia tahu, satu tangis kecil saja bisa menjadi alamat maut. Dari ujung gang sempit, suara langkah prajurit terdengar mendekat. Semakin dekat. Ia merapat ke dinding, menutup Musa dengan kain tebal, menahan napas hingga dadanya terasa nyeri.
Di rumah sebelah, pintu diketuk keras. Lalu sunyi.
Sunyi itu lebih menakutkan daripada jerit.
Pada malam-malam seperti itulah para ibu Bani Israil belajar satu pelajaran paling pahit: kadang cinta bukan tentang memeluk lebih erat, melainkan tentang menahan diri agar tak bersuara.
Perintah yang Menguji Hati Seorang Ibu
Di puncak ketakutan itu, Allah menurunkan ketenangan ke dalam hati Yukabat. Sebuah ilham yang tak terbayangkan sebelumnya hadir dalam jiwanya:
“Susuilah dia, dan apabila engkau khawatir terhadapnya, maka letakkanlah dia ke sungai. Janganlah engkau takut dan jangan bersedih hati. Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang rasul.”
(QS. Al-Qashash: 7)
Perintah itu berat. Sangat berat. Meletakkan bayi ke sungai? Melepaskannya dari pelukan seorang ibu? Rasanya seperti menyerahkan buah hati kepada ketidakpastian.
“Ya Rabb, perintah-Mu berat bagi hati seorang ibu. Namun aku percaya penjagaan-Mu lebih luas daripada ketakutanku.”
Imanlah yang menegakkan langkahnya. Menjelang fajar, ketika kota masih diliputi kabut tipis, Yukabat menyiapkan sebuah peti sederhana. Anyamannya dirapatkan. Celah-celahnya dilapisi dengan sekuat tangan yang bergetar. Bukan peti mewah—hanya harapan yang dibentuk dengan air mata.
Ia memanggil putrinya, Miriyam.
“Dengarkan ibu baik-baik. Setelah peti ini dilepas, ikuti dari jauh. Jangan terlalu dekat. Jangan menoleh dengan gelisah. Mata mereka tajam, Nak. Satu gerak saja bisa membuat mereka curiga.”
“Iya, Bu. Aku mengerti,” jawab Miriyam, walau kakinya gemetar. “Aku akan mengikutinya. Aku tidak akan pulang sebelum tahu Musa benar-benar aman.”
Di Tepi Sungai Nil
Di tepi Sungai Nil yang dingin, kabut tipis menggantung di atas air. Yukabat mencium Musa lama sekali, seolah ingin menghentikan waktu. Ia menatap wajah kecil itu, menghafalkan setiap lekuknya.
Dengan air mata yang tak lagi bisa dibendung, ia meletakkan peti itu ke permukaan air. Peti kecil itu bergerak perlahan, lalu menjauh, mengikuti arus sungai.
Setiap jengkal yang bertambah terasa seperti merobek hati seorang ibu.
Dari kejauhan, Miriyam mengikuti dengan diam-diam. Ia bersembunyi di balik semak ketika arus membawa peti itu ke tikungan. Matanya tak pernah lepas dari bayangan kecil yang terapung di atas air.
Yukabat mengira ia sedang melepaskan anaknya ke ketidakpastian. Ia belum tahu bahwa arus Nil justru membawa Musa ke tempat paling tak terduga: istana Firaun.
Dari Sungai ke Istana
Di istana megah itu, peti kecil ditemukan oleh istri Firaun, Asiyah. Ketika peti dibuka, tampaklah seorang bayi yang begitu menawan. Hati Asiyah tersentuh. Ia berkata kepada Firaun:
“Ia penyejuk mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya. Mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita jadikan dia sebagai anak.”
(QS. Al-Qashash: 9)
Ironi sejarah pun terukir: bayi yang hendak dibunuh oleh kebijakan Firaun justru tumbuh besar di dalam istananya sendiri. Anak yang ingin dimusnahkan malah diasuh dalam kemewahan kerajaan.
Namun Musa menolak semua perempuan yang hendak menyusuinya. Di sinilah Allah menepati janji-Nya. Miriyam, yang sejak awal mengawasi dari jauh, mendekat dengan tenang dan menawarkan solusi:
“Maukah aku tunjukkan kepada kalian sebuah keluarga yang dapat memeliharanya untuk kalian dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”
Akhirnya, Musa dikembalikan kepada ibunya sendiri untuk disusui—bahkan dengan upah dari istana.
Betapa luas rencana Allah.
Yukabat yang sebelumnya melepaskan Musa dengan hati hancur, kini menyusui anaknya kembali dalam keadaan aman. Ia belajar bahwa ketika manusia melepaskan karena iman, Allah mengganti dengan penjagaan yang lebih sempurna.
Pelajaran dari Sungai Nil
Kisah Nabi Musa bukan hanya tentang seorang nabi besar yang kelak membelah laut dan menantang tirani. Ia bermula dari seorang ibu yang berani percaya ketika rasa takut hampir menguasai segalanya.
Dari tepi Sungai Nil, kita belajar:
- Bahwa iman kadang menuntut langkah yang tampak mustahil.
- Bahwa kehilangan di mata manusia bisa jadi adalah penjagaan di sisi Allah.
- Bahwa rencana Allah sering berjalan melalui jalan yang tidak kita duga.
Yukabat mengira ia sedang melepas anaknya. Padahal Allah sedang menyiapkan Musa untuk menjadi pembebas kaumnya.
Dari sungai menuju istana.
Dari ketakutan menuju kemenangan.
Dari tangis seorang ibu, lahir sejarah besar umat manusia.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.