Jamaah kajian subuh rahimakumullah,
Sering kali kita menyambut bulan-bulan besar dalam Islam dengan penuh antusias. Bulan Rajab disambut sebagai bulan haram, bulan Ramadhan diagungkan sebagai syahrus shiyam, bulan diturunkannya Al-Qur’an. Namun ada satu bulan yang kerap terlewat dari perhatian kita, yaitu bulan Sya’ban.

Padahal, Rasulullah ﷺ memberikan perhatian besar terhadap bulan ini. Sayangnya, banyak di antara kaum Muslimin yang lalai terhadap keutamaannya.

Sya’ban, Bulan Diangkatnya Amal

Salah satu keutamaan besar bulan Sya’ban adalah diangkatnya seluruh amal tahunan manusia kepada Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ bersabda (HR. An-Nasa’i):

“Itulah bulan yang banyak manusia lalai darinya, yaitu bulan antara Rajab dan Ramadhan. Itulah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.”

Inilah sebabnya Rasulullah ﷺ memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, bahkan diriwayatkan bahwa beliau berpuasa hampir sebulan penuh.

Mengapa Banyak Orang Lalai?

Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan. Mengapa?

Karena ia berada di antara dua bulan besar:

  • Rajab, bulan haram yang membuat orang lebih berhati-hati dalam berbuat dosa.
  • Ramadhan, bulan ibadah, puasa, dan Al-Qur’an yang dinanti-nantikan.

Sya’ban seperti “bulan kejepit”. Di Indonesia kita mengenal istilah hari kejepit nasional. Demikian pula Sya’ban, ia terjepit di antara dua momentum besar sehingga sering diremehkan.

Ibadah di Waktu Lalai, Pahala Berlipat

Jamaah sekalian,
Salah satu kaidah agung dalam Islam adalah: beribadah di saat manusia lalai, pahalanya sangat besar.

Contohnya:

  • Shalat malam di sepertiga malam, ketika kebanyakan manusia terlelap.
  • Berdzikir di tengah kesibukan dunia.
  • Berpuasa sunnah di bulan Sya’ban, saat manusia sibuk mempersiapkan Ramadhan secara duniawi.

Ironisnya, ada orang yang sanggup bangun tengah malam demi menonton pertandingan bola, tetapi berat bangun untuk shalat malam. Padahal, tontonan esok hari masih bisa diulang, sementara kesempatan shalat malam belum tentu datang kembali.

Waktu-Waktu Diangkatnya Amal

Perlu kita pahami, amal manusia diangkat kepada Allah ﷻ dalam beberapa waktu:

  1. Setiap hari
    Diangkat pada waktu Subuh dan Ashar.
  2. Setiap pekan
    Diangkat pada hari Senin dan Kamis.
    Karena itu Rasulullah ﷺ sangat menjaga puasa pada dua hari tersebut.
  3. Setiap tahun
    Diangkat pada bulan Sya’ban.
  4. Seumur hidup sekali
    Yaitu saat kematian, ketika seluruh amal ditutup.

Maka pertanyaannya, sudahkah kita siap ketika “setoran amal” itu diangkat?

Pelajaran dari Kehidupan

Para pedagang di pasar, ketika tahu tanggal setoran, mereka akan sibuk menghitung, mengumpulkan, dan memastikan semuanya siap.
Lalu bagaimana dengan kita, wahai jamaah?
Ketika mengetahui bahwa Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal, apakah kita mempersiapkan diri?

Ataukah Sya’ban berlalu begitu saja, tanpa puasa sunnah, tanpa istighfar, tanpa muhasabah?

Penutup

Bulan Sya’ban adalah jembatan menuju Ramadhan. Siapa yang lalai di Sya’ban, dikhawatirkan masuk Ramadhan tanpa kesiapan ruhani.

Mari kita hidupkan bulan Sya’ban dengan:

  • Memperbanyak puasa sunnah
  • Istighfar dan taubat
  • Memperbaiki shalat
  • Menyiapkan hati sebelum Ramadhan tiba

Semoga Allah ﷻ mengangkat amal kita dalam keadaan terbaik, sebagaimana Rasulullah ﷺ menginginkannya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________