Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, XI’AN, TIONGKOK – Di tengah hiruk pikuk kota Xi’an yang dikenal sebagai pintu gerbang Jalur Sutra kuno, berdiri megah sebuah bangunan yang memadukan kekhidmatan Islam dengan keanggunan arsitektur Tiongkok. Masjid Raya Xi’an, atau Great Mosque of Xi’an, menjadi saksi hidup perjalanan panjang Islam di Negeri Tirai Bambu selama lebih dari seribu tahun.
Perpaduan Unik Dua Peradaban
Berbeda dengan masjid-masjid pada umumnya, Masjid Raya Xi’an menampilkan arsitektur yang mencengangkan. Dari kejauhan, bangunan ini tampak seperti klenteng tradisional Tiongkok dengan atap bersusun khas dinasti kekaisaran. Namun begitu melangkah masuk, pengunjung akan disambut kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur’an yang terukir indah di dinding dan prasasti batu, mempertegas identitasnya sebagai rumah ibadah umat Muslim.
Ornamen-ornamen khas Tiongkok menghiasi setiap sudut masjid, namun telah dimodifikasi mengikuti prinsip-prinsip seni Islam yang menghindari penggambaran makhluk hidup. Perpaduan ini menciptakan estetika yang tak tertandingi—sebuah dialog visual antara dua peradaban besar yang bertemu di persimpangan Jalur Sutra.
Jejak Sejarah Berusia Ratusan Tahun
Menempati lahan seluas 13.000 meter persegi, Masjid Raya Xi’an tercatat sebagai masjid tertua dan terluas di kota tersebut. Bangunan yang berdiri sejak abad ke-14 ini telah mengalami berbagai fase renovasi dan rekonstruksi sepanjang sejarahnya. Sebagian besar struktur yang masih bertahan hingga kini merupakan hasil pembangunan ulang pada masa Dinasti Ming dan Qing, tepatnya pada abad ke-17 dan 18.
Menurut Imam Ding, pemimpin spiritual Masjid Raya Xi’an, keberadaan kompleks ibadah ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah kedatangan Islam ke Tiongkok. “Pada masa awal Dinasti Tang, pedagang Muslim dari Arab mulai berdatangan. Mereka tidak datang sendirian—ada pula cendekiawan dan pasukan militer yang membantu menyelesaikan konflik di wilayah ini,” ungkap Imam Ding.
“Setelah misi mereka selesai, sebagian dari mereka memilih untuk tidak pulang. Mereka menetap, menikah dengan penduduk setempat, dan mulai menyebarkan ajaran Islam. Dari sinilah komunitas Muslim Tiongkok tumbuh dan berkembang,” tambahnya.
Fungsi Ganda: Ibadah dan Wisata
Saat ini, Masjid Raya Xi’an menjalankan fungsi ganda. Sebagai tempat ibadah, masjid ini terutama melayani jamaah laki-laki untuk salat berjamaah. Meskipun perempuan diperbolehkan masuk untuk beribadah, mereka tidak melaksanakan salat berjamaah di ruang utama, mengikuti tradisi setempat.
Bagi pengunjung Muslim yang ingin beribadah, akses ke masjid diberikan secara gratis. Namun, mengingat nilai sejarah dan keunikan arsitekturnya, masjid ini juga menjadi objek wisata yang menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya. Wisatawan non-Muslim yang ingin menikmati keindahan arsitektur kuno dikenakan tiket masuk sebesar 25 yuan.
Lokasi strategis Xi’an sebagai kota yang sering dilalui pedagang Jalur Sutra dari Persia, Asia Tengah, dan Timur Tengah turut memperkaya khazanah budaya di sekitar masjid ini.
Tradisi Ramadan yang Tetap Terjaga
Seperti halnya komunitas Muslim di berbagai belahan dunia, jamaah Masjid Raya Xi’an juga menjalankan tradisi khusus selama bulan Ramadan. Salah satunya adalah acara buka puasa bersama yang diawali dengan ceramah rohani untuk meningkatkan pemahaman keagamaan.
Tantangan berpuasa di Tiongkok cukup unik mengingat perbedaan waktu dan geografis. Umat Muslim di Xi’an menjalankan ibadah puasa sekitar 16 jam setiap harinya—dimulai dari pukul 04.30 pagi hingga pukul 20.00 malam. Tradisi berbuka puasa dilaksanakan di ruang terpisah antara jamaah laki-laki dan perempuan, sebelum kemudian melanjutkan salat Magrib berjamaah.
Kuliner Halal: Warisan Budaya Muslim Tiongkok
Penyebaran Islam di Tiongkok juga membawa pengaruh signifikan terhadap khazanah kuliner Nusantara. Konsep “Qingzhen”—yang berarti bersih dan murni—menjadi prinsip utama dalam penyajian makanan halal khas Muslim Tiongkok.
Di Xi’an, terdapat sebuah restoran legendaris bernama Jia San atau Lao Sun Jia yang telah berdiri sejak 1903. Didirikan oleh Ma Jian Xing, rumah makan ini menyajikan beragam hidangan halal dengan cita rasa autentik Tiongkok yang telah melewati ujian waktu lebih dari seabad.
Menurut Alice, salah satu pengelola restoran, tempat makan ini menjadi destinasi favorit tidak hanya bagi komunitas Muslim lokal, tetapi juga berbagai tokoh penting di Tiongkok. “Hidangan favorit di bulan Ramadan biasanya adalah daging sapi acar dan mie dingin dengan wijen. Saat musim Spring Festival, kami bisa melayani hingga 400.000 pengunjung,” ujar Alice dengan bangga.
Keberadaan kuliner halal yang langka di daratan Tiongkok menjadikan restoran-restoran seperti ini sebagai oasis bagi wisatawan Muslim yang berkunjung ke Xi’an.
Warisan yang Harus Dilestarikan
Masjid Raya Xi’an bukan sekadar bangunan bersejarah. Ia adalah simbol hidup dari toleransi beragama, akulturasi budaya, dan keberagaman yang telah mengakar selama berabad-abad di Tiongkok. Dalam era modern ini, masjid tersebut terus mengingatkan dunia bahwa perbedaan dapat menciptakan keindahan ketika dirajut dengan saling pengertian dan penghormatan.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Xi’an, Masjid Raya Xi’an menawarkan lebih dari sekadar pengalaman wisata. Ia adalah jendela untuk memahami bagaimana dua peradaban besar—Islam dan Tiongkok—bisa berdampingan dan saling memperkaya dalam harmoni yang indah.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.